Mihrab

Latih Diri untuk Memperbaiki Akhlak

Sifat dan tingkah laku seorang manusia berupa moral, etika, dan akhlak merupakan sesuatu yang dinamis

Latih Diri untuk Memperbaiki Akhlak
Fakhruddin Lahmuddin

BANDA ACEH - Sifat dan tingkah laku seorang manusia berupa moral, etika, dan akhlak merupakan sesuatu yang dinamis. Sebagian sifat yang baik sebagai akhlak terpuji adalah sifat bawaan sejak lahir, dan sebagiannya lagi diperoleh dengan jalan dilatih dan diusahakan dengan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, seseorang yang memiliki akhlak kurang terpuji bisa diubah dan diperbaiki, karena jiwa manusia diciptakan sempurna atau lebih tepatnya dalam proses menjadi sempurna. Karenanya, ia selalu terbuka dan mampu menerima usaha pembaruan serta perbaikan.

Karena akhlak ini bisa diubah, sehingga salah satu tujuan Rasulullah SAW diutus juga dalam rangka memperbaiki akhlak manusia yang sangat rusak di masa jahiliyah sehingga mereka bisa memiliki akhlak terpuji.

Demikian antara lain disampaikan Tgk H Fakhruddin Lahmuddin SAg MPd, Pimpinan Pesantren Tgk Chik Oemardiyan Indrapuri, Aceh Besar, saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Masjid Haji Keuchik Leumiek, Lamseupeung, Rabu (13/2) malam.

“Manusia lahir dengan membawa sifat-sifat tertentu. Ada akhlak bawaan, baik terpuji maupun tercela. Akhlak bisa diubah dari buruk ke baik, atau juga sebaliknya berubah dari baik ke buruk, tergantung bagaimana kita memperbaiki akhlak dan menjaganya, dengan latihan dan kebiasaan,” ujar Tgk Fakhruddin Lahmuddin.

Menurut Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry ini, upaya perbaikan akhlak ini harus dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan pada sikap dan perilaku konstruktif. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui metode berbalik atau berubah dari sifat bawaan yang sudah ada.

Misalnya, ada orang memiliki sifat cepat marah, pelit, angkuh, egois, iri, dengki dan suka menghasut, tidak senang pada kelebihan orang, mudah berkata bohong, senang ghibah, namimah, dan lainnya. “Sifat-sifat seperti ini bisa berubah dengan jalan memperbaiki diri, misalnya dari bakhil berganti dengan dermawan, sombong dengan rendah hati, iri dengki dengan qanaah. Proses pembiasaan ini tentu saja tidak bisa dilakukan secara instan tapi membutuhkan waktu, perjuangan, dan kesabaran,” jelasnya.

Tgk Fakhruddin juga mencontohkan waktu Rasulullah diutus, masyarakat Arab jahiliyah memiliki kebiasaan buruk minum khamar, berzina, membunuh, suka berperang, dan perangai jahat lainnya, bisa diubah oleh Rasulullah sampai mereka menjadi terbaik akhlaknya saat itu.

Perbaikan akhlak juga memerlukan istiqamah, yaitu komitmen yang tinggi untuk selalu berpihak kepada yang baik dan benar. Perbaikan akhlak berbeda dengan perbaikan pada sektor-sektor lain. Perbaikan akhlak tidak dapat diwakilkan karena keputusan untuk berpihak kepada yang baik dan benar itu harus datang dan lahir dari kita sendiri.

“Betapapun tingkat kesulitan yang dihadapi, perbaikan akhlak harus tetap kita upayakan. Soalnya, agama itu pada akhirnya adalah akhlak. Dalam perspektif ini, seseorang tak dapat disebut beragama jika ia tidak berakhlak,” pungkasnya.

Pengajian yang dipandu Dosi Elfian ini turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Usamah El-Madny, Sekretaris Dewan Pembina KWPSI, H Harun Keuchik Leumiek, Ketua KWPSI, Azhari, Imuem Chik Masjid Haji Keuchik Leumiek, Tgk Ridwan Ibrahim, tokoh masyarakat, dan warga Lamseupeung.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved