Opini

Petaka Pendidikan Kita

CUKUP menghebohkan, sebuah video yang viral di media sosial beberapa hari lalu, terkait pelecehan siswa terhadap seorang guru di SMP PGRI

Petaka Pendidikan Kita
KOMPAS/ADI SUCIPTO K
Siswa SMP PGRI Wringinanom Gresik, Jawa Timur, meminta maaf kepada gurunya, Minggu (10/2/2019), di Markas Polsek Wringinanom. 

Oleh Johansyah

CUKUP menghebohkan, sebuah video yang viral di media sosial beberapa hari lalu, terkait pelecehan siswa terhadap seorang guru di SMP PGRI Wringinanom Gresik. Dalam video tersebut terlihat seorang siswa menantang gurunya karena tidak terima ditegur. Si guru yang diketahui bernama Nur Khalim, menahan diri ketika kerah bajunya dicengkeram siswanya. Tidak hanya itu, siswa ini juga nekat merokok di depan teman-teman dan gurunya. Seperti diberitakan, kasus ini berakhir damai karena si guru tidak ingin memperpanjang persoalan dan tulus memaafkan siswanya (Serambi, 10/2/2019).

Ini adalah peristiwa memilukan, memalukan, dan sekaligus petaka dunia bagi pendidikan kita. Hubungan siswa dengan guru sejatinya bagaikan hubungan antara seorang ayah dan anak. Kewajiban anak adalah menghormati ayahnya. Jangankan membangkang dan menantang, mengatakan ah saja kepada orangtua tidak dibolehkan. Untuk itu, patut kita khawatirkan bagaimana perkembangan karakter generasi kita ke depan mengingat mereka adalah investasi dan estafet pembangunan masa yang akan datang.

Perlu kita lakukan evaluasi mendalam terkait perilaku siswa seperti ini. Mengapa mereka sampai nekat menantang gurunya? Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kemungkinan penyebabnya ada dua, yaitu pola asuh dalam keluarga. Di mana kurangnya pembinaan karakter yang dilakukan oleh orangtua. Penyebab kedua adalah guru itu sendiri karena kreativitas mengajar sangat memengaruhi suasana pembelajaran (Detiknews, 10/2/2019).

Selain kedua penyebab tersebut, faktor lingkungan sebagai tempat bergaul anak sehari-hari juga sangat berpengaruh. Dalam hal ini teman sangat menentukan perkembangan karakter seorang anak. Apalagi kita ketahui bahwa lingkungan bergaul di tingkat usia ini sangat rentan dengan pengaruh narkoba, minimuan keras, pergaulan bebas, dan berbagai perilaku penyimpangan lainnya.

Upaya antisipasi
Untuk itulah, harus ada upaya antisipatif ke depan. Kita berharap kasus serupa tidak terulang lagi. Ada beberapa langkah antisipatif yang perlu dilakukan yaitu; pertama penguatan pendidikan karakter dalam keluarga. Lingkungan pendidikan pertama bagi anak adalah keluarga. Sebagai wadah pendidikan utama, keluarga sangat menentukan pertumbuhan karakter anak. Mari perhatikan, manakala seorang anak berprestasi gemilang di sekolah, atau sebaliknya kerap membuat resah di sekolah dan masyarakat, maka hal pertama yang ditanyakan oleh orang bukanlah siapa gurunya atau sekolahnya di mana, tapi orang akan menanyakan; itu anaknya siapa?.

Pepatah buah tidak jauh jatuh dari pohonnya itu adalah benar. Islam menegaskan bahwa setiap anak dilahirkan fitrah (suci dan berpotensi). Pola pendidikan orangtuanyalah yang menentukan berkarakter seperti siapa si anak; yahudi, nashrani, majusi, dan karakter-karakter lainnya. Siapa pun akan merasa marah jika menyaksikan video siswa yang menantang guru tadi, namun jika ditelusuri pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarganya, boleh jadi kita urung menyalahkan si anak sebab orangtua tidak mendidik anaknya dengan baik.

Pendidikan yang paling pokok untuk anak adalah pendidikan tauhid, lalu diikuti dengan ibadah, dan akhlak. Anak wajib didekatkan dengan Allah. Perkenalkan dan tanamkan rukun iman dan rukun Islam hingga menyatu dalam jiwa mereka.

Hal ini dilakukan bukan hanya sejak kecil, tapi sejak anak berada di dalam kandungan. Bimbing dan contohkan kepada mereka bagaimana shalat dan ajari mereka agar mampu membaca Alquran. Kalau orang tua tidak mampu, masukkan mereka ke tempat pengajian, atau privatkan saja.

Selain itu, tanamkan nilai-nilai akhlak mulia kepada mereka melalui keteladanan dan pembiasaan. Lakukan kontroling terhadap aktivitas mereka di luar rumah, dan arahkan mereka agar memilih teman bergaul yang berakhlak baik.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved