Citizen Reporter

Qatar dan Pemimpin yang Dicintai Rakyat

MESKI ini kali ketiga saya menginjakkan kaki di Doha, Qatar, tapi negeri ini selalu memberi kesan mendalam bagi saya

Qatar dan Pemimpin  yang Dicintai Rakyat
IST
HUSNI MUBARRAK A. LATIEF, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ketua GARBI Lhokseumawe, melaporkan dari Doha, Qatar

HUSNI MUBARRAK A. LATIEF, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Ketua GARBI Lhokseumawe, melaporkan dari Doha, Qatar

MESKI ini kali ketiga saya menginjakkan kaki di Doha, Qatar, tapi negeri ini selalu memberi kesan mendalam bagi saya. Terutama tentang keramahan orang-orangnya dan ihwal pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Kepergian saya ke Qatar kali ini untuk mengikuti Konferensi Perayaan 70 Tahun Karya Malik bin Nabi (1905-1973), pemikir muslim asal Aljazair, berjudul “Syuruth Nahdhah” (Syarat Kebangkitan) yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam, Hamad bin Khalifah University (HBKU) Qatar.

Selama menjalani hari-hari di Qatar, saya banyak dibantu dan ditemani oleh teman Aceh yang kini bermukim di Qatar, yakni Saiful Bahri, adik kelas asal Kota Lhokseumawe, ketika masih kuliah di Al-Azhar Mesir dulu yang kini bekerja di sebuah perusahaan gas di Qatar. Juga dibantu Anggi Azzuhri, Mahasiswa Pascasarjana HBKU Qatar asal Banda Aceh yang dulu juga merupakan alumnus Pendidikan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Ketibaan saya di Doha awal pekan lalu bersamaan dengan hiruk pikuk Kota Doha menyambut kemenangan tim nasionalnya yang menjuarai Piala Asia 2019 setelah menekuk tim nasional Jepang 3-1 di partai final. Selepas kemenangan, banyak mobil yang disetir anak muda berkonvoi sambil membentangkan bendera Putih Merah (bendera Qatar) di atas mobilnya yang penuh menyesaki jalan. Klakson mobil bersahut-sahutan sepanjang malam, ikut merayakan kemenangan.

Sekalipun negara ini baru merdeka dari Inggris tahun 1971, Qatar terus berbenah menjadi sebuah negara maju dan modern. Kendati memiliki banyak cadangan gas yang cukup untuk dieksplorasi hingga beberapa tahun ke depan, tapi Qatar tidak hanya bertumpu pada hasil sumber daya alam. Kebijakan pemerintahannya yang kini dipimpin oleh seorang amir muda usia, Amir Tamim bin Hamad bin Khalifah bin Jasim, seorang lulusan sekolah Prancis, terus berusaha menyulap Doha menjadi negeri yang ramah bagi wisatawan, selain juga menjadi pusat bisnis dan investasi di Timur Tengah.

Ditambah lagi dengan kehadiran Stasiun TV Al Jazeera sejak meletus Perang Teluk tahun 1990 dengan menyajikan berita yang lebih fair dan berimbang, kian melambungkan nama Qatar hingga dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggara Piala Dunia tahun 2022.

Keberhasilan Amir Tamim dalam membangun Qatar bukanlah isapan jempol belaka. Sejak kisruh dan memanas hubungan Qatar dengan negara-negara Arab lainnya di kawasan Teluk, terkait sikap Qatar yang memberi bantuan bagi perjuangan Hamas di Palestina, Qatar kemudian diblokade secara ekonomi oleh “negeri Arab tetangga” seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Namun, Amir Tamim tak kehabisan akal. Selain Turki dan pemerintahan Erdogan sekarang banyak menyuplai bantuan ke Qatar sejak masa diblokade medio tahun 2017, Amir Tamim juga terus menggelorakan semangat mandiri dan swasembada kepada warga negaranya. Di antara slogan yang terus diulang untuk menumbuhkan kecintaan bagi negeri dan pemimpinnya adalah: Kulluna Qatar (Semua kita adalah Qatar), Kulluna Tamim (Semua kita adalah Tamim), dan Rubba Dharrah Nafi’ah (Boleh jadi kesusahan dan kemudaratan itu mendatangkan manfaat).

Di samping itu, Amir Qatar juga banyak memberi kemudahan dan pelayanan bagi warga negaranya, termasuk kebijakan memberi insentif 10.000 rial Qatar (sekitar 35 juta rupiah) per jiwa per bulan bagi rakyatnya. Sungguh sebuah kebijakan yang membuat rakyat senang, terbantu, dan makin mencintai rajanya. Sang raja pun demikian, sangat mencintai rakyatnya.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved