97 Polisi Amankan Rekonstruksi

Polres Aceh Utara akan menurunkan 97 personel dari empat satuan untuk pengamanan rekontruksi

97 Polisi Amankan Rekonstruksi
IAN RIZKIAN MILYARDIN, Kapolres Aceh Utara

* Kasus Pembunuhan Pedagang Es Campur

LHOKSUKON – Polres Aceh Utara akan menurunkan 97 personel dari empat satuan untuk pengamanan rekontruksi (reka ulang) kasus pembunuhan Jajuli Bin Ismail (34) pedagang es campur asal Desa Ujong Kulam Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara yang direncanakan Senin (18/2). Masing-masing dari Reskrim, Intelkam, Satuan Lalu Lintas, dan Sabhara.

Sebagaiaman diberitakan sebelumnya, Jajuli ditemukan oleh istrinya tewas bersimbah darah dengan luka gorok di bagian leher, Sabtu (15/9/2018) sekira pukul 02.30 WIB. Kala itu, korban ditemukan di tempat tidur dalam kamarnya.

Sebelum kejadian itu, Jamaliah mengaku tertidur dalam kamar lain saat menidurkan anaknya. Belakangan terungkap pelaku pembunuhan itu dilakukan Musliadi atas suruhan Jamaliah, istri korban setelah keduanya menjalin hubungan asmara.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kabag Ops AKP Iswahyudi SH kepada Serambi menyebutkan, reka ulang direncanakan pagi ini dengan menghadirkan jaksa dan pengacara terdakwa. Untuk itu, diharapkan kepada warga yang ingin melihat rekonstruksi tidak mengganggu proses tersebut.

“Kita turunkan personel sebanyak itu untuk mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari masyarakat. Petugas nantinya akan menjaga di sekeliling pagar rumah tersebut dan dipasang police-line. Karena itu, diharapkan kepada masyarakat tidak melewati dari batas yang sudah ditentukan,” katanya, kemarin.

Karenanya, tambah AKP Iswahyudi, ketika proses reka ulang ada pihak yang ingin mengganggu, petugas akan melakukan tindakan tegas sesuai ketentuan. Agar tak terjadi sesuatu hal, maka diturunkan personel lebih banyak ke lokasi. “Bila ada yang mengganggu proses rekontruksi, petugas juga akan melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan,” tegas Kabag Ops Polres Aceh Utara.

Disebutkan, bagi pihak keluarga korban yang ingin menyaksikan rekonstruksi tetap diizinkan, tapi tidak sampai mengganggu prosesnya. Namun, jika tidak mampu melihatnya, karena khawatir bisa menimbulkan kemarahan lebih baik tidak mengikutinya. “Ada sekitar 26 adegan yang akan diperankan dua tersangka dan sebagian besarnya di dalam rumah,” ujar Kabag Ops.

Ditambahkan, sepekan lalu pihaknya juga sudah mengundang keuchik dari tiga desa di kawasan itu, untuk memberitahukan kepada warganya supaya tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu proses rekontruksi. “Rekontruksi ini diadakan untuk memperjelas bagaimana kronologis kejadian tersebut,” pungkasnya.

Keuchik Ujong Kulam, Tarmizi kepada Serambi kemarin menyebutkan, rumah milik korban sudah lama kosong setelah istrinya pergi ke Banda Aceh, karena tak ada yang menempati. Warga pun enggan, dan bahkan takut melewati rumah tersebut setelah korban ditemukan dengan kondisi berdarah pada malam hari.

“Ya, kemarin kami juga sudah diundang ke Mapolres Aceh Utara bersama keuchik, tuha peut serta pemuda dari Desa Teumpok Peureulak dan Glang-glong. Setelah pulang dari mapolres, malamnya saya langsung mengadakan rapat dengan warga yang dihadiri muspika untuk menyampaikan kepada masyarakat isi dari pengarahan yang disampaikan polisi,” ungkap Keuchik Ujong Kulam.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved