Air Mata Darwati Bagi Calon Cucu

Ada teman-teman dan keluarga yang membantu saya,lalu benar-benar bergulirlah air mata perempuan

Air Mata Darwati Bagi Calon Cucu
IST
DARWATI A Gani dan anaknya Latifah Dara Metuah.

“Bagaimana perasaannya?” tanya Serambi kepada Darwati A Gani, menjelang Zuhur, Minggu (17/2), di kediaman Jalan Salam, Lampriek, Kuta Alam, Banda Aceh. Istri gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf, ini tak segera menjawab. Mulanya ia menatap Serambi dengan linang air mata yang samar. Seperti ada yang tercekat di lehernya. Beberapa detik kemudian suaranya yang bergetar keluar juga, hampir tak terdengar. “Saya senang.”

“Saya bahagia. Ada teman-teman dan keluarga yang membantu saya,” katanya lagi. Lalu benar-benar bergulirlah air mata perempuan fenomenal ini. Wallahu ‘alam, mana yang lebih banyak kadarnya antara air mata bahagia, atau segenap rasa bahagia derita yang berkait dalam cerita diri, keluarga, atau rumahtangganya? Sebagai orang Aceh yang mengikuti perkembangan berita media, tentu sah-sah saja bila Anda berinterpretasi dengan beragam rasa bukan?

Yang jelas, secara tersurat, Darwati memang akhirnya berkali-kali menyeka airmatanya. Manusiawi, dan sah-sah saja. Dengan izin Allah, bukankah ia akan menjadi seorang nenek, sekitar dua bulan sepuluh hari lagi? Lagi pula baru-baru ini pun Darwati pernah menulis di akun instagramnya bahwa betapa sejak lama ia merindukan kehadiran cucu-cucu dalam kehidupannya. Sebab dirinya memang menyukai dan mencintai anak-anak.

Masih ingat bukan dengan Dokter Latifah Dara Metuah, yang menikah di Banda Aceh, dengan Zakiul Fuady MSc, pada tahun 2018? Dari suami istri inilah Darwati A Gani-Irwandi Yusuf bakal menimang cucu pertama mereka.

Mulanya si Kakak atau Dara (yang kini dengan raga yang terbilang berisi, namun apik dengan gaun bermanik merah bata plus jilbab warna salem), enggan bila cerita tentang kehamilannya disiarkan. “Ma, nanti tidak terlalu apaaa gitu Ma? Gimana Ma?” kata Dara dengan rona cemas.

“Tidak apa. Biasa saja,” jawab sang mama meyakinkan putrinya.

Dara yang penampilannya tak jauh berbeda dengan masa gadisnya (sedikit chubby layaknya perempuan hamil), pun menjawab singkat atas pertanyaan Serambi. Dara sangat bersyukur karena kehamilan pertama ini relatif tak bermasalah. Ia mengaku hanya sempat morning sickness (kondisi mual dan muntah yang dialami oleh beberapa wanita hamil pada trimester awal kehamilan).

Dara juga tak mengidamkan yang macam-macam dan aneh-aneh. “Mual-mual, muntah saja waktu tiga bulan pertama ya. Alhamdulilah, yang lain normal. Insyaa Allah, bayinya laki-laki,” ungkap Dara dengan raut berhias senyum lepas, gambaran bahagianya. Begitu pun dengan sinar matanya nan tetap optimis, walau nanti hanya melahirkan di Banda Aceh, dan tidak seperti kebanyakan keluarga public figure, yang “doyan” ke kota besar. Agaknya ia memercayakan persalinannya pada seorang perempuan spesialis kandungan kenamaan di Banda Aceh.

Sederhana
Memang menurut Darwati, perhelatan sepanjang hari Minggu kemarin, bertujuan untuk dua acara. Nujuh bulanan kehamilan Dara dan peringatan Maulid Rasulullah SAW. Kendati bertamu ramai, namun kesannya tetap sederhana. Tidak ada barisan teratak yang memenuhi Jalan Salam, seperti waktu pernikahan Dara dan Zaky, Kamis (26 April 2018). Tidak ada pelaminan tempat peusijuek (tepung tawar) yang istimewa dengan kasab emas, kupiah meukutob (dulu topi kebesaran ningrat Aceh), dan pernak-pernik khas Aceh lainnya.

Saat upacara tradisi peusijuek tujoh buleun kandongan (nujuh bulanan) tesebut, Dara dan Zaky didudukkan pada kursi/semacam dipan kecoklatsusuan plus tatanan bunga-bunga putih dengan lampu sorot kecil warna lampu TL. Bagus sih, namun tetap sederhana.

Begitupun rentetan prosesi acara tepung tawar, berlangsung hikmat dalam kesederhanaan. Tapi, yang pasti semua keluarga inti Darwati, Irwandi, dan keluarga Zaky tampak hadir memberi restu dan doanya. Serambi tak sempat berbicara dengan Zaky. Barangkali Zaky sedang berbaur dengan tetamu. Karena kemarin memang banyak tamu yang hadir. Yaitu masyarakat seputar kediaman Darwati, organisasi (massa dan perempuan), dinas dan instansi, unsur pertemanan masing-masing anggota keluarga.

Lokasi belakang rumah yang berhadapan dengan kolam renang kecil, dipenuhi tamu laki-laki. Sedangkan tamu-tamu perempuan tempatnya di ruang-ruang dalam. Ada pilihan menu seperti nasi putih dan nasi bryani (dengan beras basmatinya dan daging ayam, bukan daging kambing), dan aneka kudapan khas Aceh, dan buah-buahan. Darwati kelihatan mondar-mandir menyapa tetamu. Gaun putih dan hijab jingga muda yang dikenakannya, juga mencuatkan citra kesederhanaan tersendiri.

“Terima kasih sudah datang ya,” begitu ucapan perpisahan bagi tetamu yang pamit pulang. Barangkali bila sang papa, Irwandi Yusuf, sempat menunggu kelahiran sang cucu, lengkaplah sudah bahasa kalbu dan air mata itu.(nani hs)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved