Pedagang Keluhkan Penurunan Omset

Kalangan pedagang bahan kebutuhan pokok di Banda Aceh dan Aceh besar mulai mengeluhkan anjloknya omset

Pedagang Keluhkan Penurunan Omset
Rustam Effendi 

* Daya Beli Masyarakat Rendah

BANDA ACEH - Kalangan pedagang bahan kebutuhan pokok di Banda Aceh dan Aceh besar mulai mengeluhkan anjloknya omset penghasilan mereka dari hari ke hari. Kondisi itu disebabkan menurunnya daya beli masyarakat dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Sebagaimana diakui H Ramli, seorang pedagang telur ayam ras di Pasar Peunayong kepada Serambi, Minggu (17/2). Dia memperkirakan pada Februari ini penurunan daya belum masyarakat mencapai 30 persen dibanding bulan sebelumnya,

Dijelaskan, omset penjualan telur pada minggu lalu, per hari mencapai 45-50 ikat. Namun pada minggu ini dagangan telur ayamnya hanya laku 30-35 ikat saja. Padahal, kata Ramli, harga jual telur ayam minggu ini sudah jauh menurun dari sebelumnya yang mencapai Rp 400.000/ikat (per ikat berisi 10 lemping atau 300 butir).

Minggu ini harga telur ayam turun menjadi Rp 330.000/ikat. Sedangkan untuk gula pasir harganya tetap Rp 12.000/Kg atau Rp 515.000/sak. Minyak goreng curah Rp 10.000-Rp 11.000/Kg dan tepung terigu Rp 9.000-10.000/kg.

Keluhan serupa juga dilontarkan Muhammad, pedagang kelontong di Pasar Aceh. Sejak memasuki minggu ketiga bulan Februari, daya beli masyarakat cenderung menurun. Dikatakan, jika bulan lalu omset penjualannya berkisar Rp 4,5 juta-Rp 5 juta/hari, kini turun menjadi Rp 3,5 juta-Rp 3 juta/hari.

Masyarakat yang datang ke pasar untuk berbelanja kebutuhan pokok, kata Mahmud, pedagang sayur di Pasar Lambaro, tidak seramai bulan lalu. Bulan lalu, pada pukul 11.00 siang masih ada masyarakat yang berbelanja, namun bulan ini di jam yang sama, suasana Pasar Lambaro sudah lengang. Artinya, jumlah yang belanja mengalami penurunan.

Padahal, lanjut Mahmud, harga bumbu-bumbuan seperti cabe merah, bawang, kentang, wortel dan sayur buncis, relatif rendah. Cabe merah sekitar Rp 16.000-Rp 20.000/Kg, bawang merah lokal Rp 24.000-Rp 30.000/kg, bawang merah impor Rp 14.000-Rp 24.000/Kg, bawang putih lokal Rp 25.000/Kg, kentang Rp 8.000-Rp 10.000/kg, wortel dan buncis Rp 8.000-Rp 9.000/kg.

Amin, pedagang grosir minyak goreng dan telur ayam ras, di Pasar Lambaro mengatakan, meski Februari masih bulan maulid nabi, namun daya beli masyarakat terhadap bahan pokok mengalami penurunan. Hal serupa juga dialami Ahmad, pedagang ayam potong di Pasar Ulee Kareng. Dia mengatakan, meski harga ayam potong masih relatif stabil, namun akibat daya beli masyarakat menurun, omset mereka juga ikut terpengaruh.

Pengamat Ekonomi Unsyiah, Rustam Effendi mengatakan, menurunnya daya beli masyarakat karena pengaruh proyek APBA 2019. Roda ekonomi di Aceh, sangat ditentukan oleh pencairan belanja pembangunan, baik belanja langsung maupun tidak langsung.

Kenapa setiap awal bulan pasar-pasar tradisional maupun swalayan dan mal ramai dikunjungi warga? Karena PNS, karyawan swasta dan guru atau tenaga kontrak, belanja kebutuhan rumah tangga untuk persiapan stok satu bulan.

Tapi begitu memasuki minggu ketiga, pasar tradisional maupun pasar Moderen mulai sepi, karena PNS dan karyawan maupun guru kontrak, tidak belanja lagi, tunggu terima gaji, pada awal bulan depan baru kembali belanja.

Kalau proyek APBN, APBA dan APBK 2019 sudah berjalan di lapangan, kata Rustam Effendi, aktivitas kegiatan pembangunan meningkat, daya beli masyarakat naik kembali. Hal itu dikarenakan, sudah ada pesanan pasir, kerikil, batu bata, batu gunung, semen, besi dan frekuensi transportasi angkutan barang kembali meningkat.

“Suasana itu akan membuat roda ekonomi Aceh kembali berdenyut, sehingga membuat daya beli kembali meningkat. Tidak hanya untuk kebutuhan pokok, tapi permintaan kebutuhan nonpokok juga ikut meningkat, termasuk usaha kuliner, wisata dan lainnya,” ujar Rustam Effendi.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved