Opini

Petani Kecil dan Rantai Nilai

PENULIS menuangkan catatan perjalanan program Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK)

Petani Kecil dan Rantai Nilai
KOLASE SERAMBINEWS.COM/MULIADI
Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh tentang kondisi angkatan kerja Aceh tahun 2018 

(Model Pemberdayaan dari Maluku ke Aceh)

Oleh Teuku Fajar Shadiq

PENULIS menuangkan catatan perjalanan program Peningkatan Kesejahteraan Petani Kecil (PKPK), yaitu sebuah kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian dengan konsepsi rantai nilai (value chain) di 104 desa pada lima kabupaten/kota di Provinsi Maluku.

Program ini diinisiasi oleh Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dan implementasi kegiatannya dilaksanakan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku dan lima Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota yaitu: Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, dan Buru Selatan.

Melalui kisah ini, ada lesson learned dan pesan moral yang ingin disampaikan, yakni andai program seperti ini juga diimplementasikan di Aceh? Penulis meyakini akan mampu meningkatkan pertumbuhan sektor riil melalui usaha produktif berbasis pertanian melalui kelembagaan tani/nelayan yang kuat, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Aceh.

Setiap kali berada di Maluku dalam rangka perjalanan ke desa-desa dengan menempuh perjalanan via kapal cepat (ferry) serta kemudian diteruskan dengan perjalanan darat dengan tujuan bertemu masyarakat, yang terlintas dalam benak adalah gampong halaman di Aceh. Hal ini tidak dapat ditepis, karena penulis berdarah Aceh.

Pengalaman dalam kurun waktu hampir tujuh tahun terakhir berkeliling wilayah Maluku, penulis memiliki point of view bahwa karakter, sifat, budaya bahkan secara lahiriah antara masyarakat Maluku dan Aceh memiliki ciri dan kesamaan yang nyaris sama, walau sesungguhnya jarak kedua provinsi tersebut sangat berjauhan. Apabila ditempuh melalui penerbangan dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di Aceh Besar hingga tiba di Bandara Pattimura diperkirakan selama lebih dari 7 jam perjalanan.

Sektor fundamental
Sektor pertanian kedua provinsi tersebut merupakan sektor fundamental dan dominan yang sangat diharapkan mampu berkontribusi pada pendapatan daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2017, persentase PDRB (Product Domestic Regional Brutto) atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha, subsektor pertanian berkontribusi 7,75% dari angka agregasi PDRB Maluku sebesar 5,99%, masih lebih kecil dari industri makanan dan minuman yang tergolong pada industri pengolahan (manufacturing).

Data BPS 2017 persentase PDRB Aceh atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha Provinsi Aceh, subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan berkontribusi sebagai penyumbang PDRB terbesar, yaitu 5,21% dari angka agregasi sebesar 4,19% atau masih lebih kecil dari sektor pertambangan sebesar 5,65%.

Kini, dunia sedang menghadapi isu akan terjadinya kerawanan pangan (food vulnerability). Permasalahan ini diakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang diperkirakan oleh banyak ahli akan mencapai 9 miliar jiwa lebih pada 2040-an.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved