Salam

Lancarkah TransK di Jalanan Sempit?

Tahun ini angkutan massal TransKoetaradja (TransK) menambah 10 lagi bus rapit transit (BRT) sehingga jumlah

Lancarkah TransK di Jalanan Sempit?
SERAMBI/HERIANTO
Plt Gubernur Aceh, Nova Irisnsyah memasang stiker di badan Bus Bantuan Menhub bertuliskan Trans Kutsradja di halaman Kantor Dishub Aceh, Banda Aceh.SERAMBI/HERIANTO 

Tahun ini angkutan massal TransKoetaradja (TransK) menambah 10 lagi bus rapit transit (BRT) sehingga jumlah yang beroperasi secara rutin setiap hari adalah 40 unit. Seluruh armada itu akan melayani lima koridor yang menghubungkan sejumlah wilayah di Banda Aceh dan Aceh Besar. “Penambahan bus ini sebagai upaya meningkatkan pelayanan angkutan umum di ibu kota provinsi, kami juga akan terus melakukan pembenahan,” ujar T Robby Irza, Kepala UPTD Angkutan Massal TransKoetaraja Dinas Perhubungan Aceh.

Ia merincikan, TransK tersebut akan melayani koridor 1, Kota-Darussalam sebanyak 12 bus, Koridor 2A Kota-Lambaro-Blangbintang sebanyak delapan bus, Koridor 2B Kota-Ulee Lheue beroperasi enam bus, Koridor 3 Kota-Mata Ie dilayani tujuh bus, dan pada Koridor 5 Kota-Ulee Kareng-Blangbintang dilayani tujuh bus. Angkutan massal ini mulai beroperasi pukul 06.00 WIB-20.00 WIB, setiap hari.

Dalam mengantisipasi persoalan kemacetan kendaraan di jalanan dalam Kota Banda Aceh pemerintah memang harus benar-benar menggelontorkan investasi besar. Salah satunya adalah untuk mengadaan armada angkutan massal TransK. Keberadaan bus-bus bertipe mewah ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dalam kota, terutama oleh pegawai negeri dan swasta, mahasiswa, dan anak-anak sekolah.

Busa yang sudah beroperasi sejak dua tahun lalu itu, dalam perjalanannya memang terlihat banyak hal yang harus disempurnakan. Mulai perangai sopir dan kondektur, keberadaan halte, hingga jalan yang belum memadai untuk lintasan TransK yang “bertubuh” besar ini.

Beberapa waktu dalam satu forum seminar terungkap bahwa pelebaran jalan di Kota Banda Aceh tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan sehingga untuk mengatasi kemacetan di ibu kota provinsi ini bukan hanya diperlukan terobosan baru dalam bidang transportasi massal, tapi harus upaya melebarkan dan meningkatkan mutu jalan.

Sekarang belum terasa, tapi dua atau tiga tahun ke depan, jalan-jalan padat lalu lintas di Banda Aceh akan macet pada waktu-waktu tertentu, terutama pada jam ke sekolah dan ke kantor, jalam pulang sekolah, dan jam-jam pulang kantor. Jalan-jalan yang kini sudah sangat terasa sempitnya antara lain Jalan T Iskandar (dari Beurawe ke Ulee Kareng), Jalan Teuku Umar (dari Simpang Jam ke Simpang Tiga), Jalan Supratman Peunayong, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Tentara Pelajar, serta beberapa ruas lainnya.

Kita berharap, program pelebaran jalan, penertiban perparkiran, penertiban pedagang yang mengambil badan jalan untuk lapak dagangan, dan pengoperasin TransK secara teratur dan sesuai kebutuhan, akan sangat membantu pencegahan kemacetan lalu lintas di dalam Kota Banda Aceh ini. Jika agenda itu tak dijalanakan secara terkoordinir dan berbarengan, maka kita belum yakin operasional TransK akan lancar. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved