Daud Pakeh Apresiasi Semangat Siswa MAS Merdeka yang Mengarungi Sungai Demi Bisa ke Sekolah

Para siswa harus mengarungi sungai demi bisa mengikuti simulasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBN–BK),

Daud Pakeh Apresiasi Semangat Siswa MAS Merdeka yang Mengarungi Sungai Demi Bisa ke Sekolah
Foto kiriman warga
Siswi MAS Merdeka, Gampong Tampor Paloh, naik perahu mesin menuju Pusat Kecamatan Simpang Jernih, untuk mengikuti Simulasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBN – BK), Minggu (17/2/2019) 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Daud Pakeh mengapresiasi semangat 13 siswa Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Merdeka Gampong Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.

Pasalnya, para siswa harus mengarungi sungai demi bisa mengikuti simulasi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer (UAMBN–BK) yang diadakan di MAS Al-Widyan Alue Lhok, Peureulak Timur, kabupaten setempat pada Senin-Rabu (18-20//20192).

Namun di sisi lain, Daud Pakeh juga menaruh keprihatinan dan ketakutan lantaran ke 13 siswa tersebut harus menempuh jalur yang sangat ekstrim dan berbahaya yaitu mengarungi Sungai Tamiang dengan boat mesin selama empat jam untuk bisa sampai ke hilir.

Itu pun jika kondisi sungai dalam keadaaan normal.

“Ini satu hal yang sangat luar biasa. Satu sisi semangat anak-anak dari daerah pedalaman sangat besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tapi disisi lain, keprihatinan kita terhadap kondisi itu,” kata Daud Pakeh kepada Serambinews.com, Rabu (20/2/2019) saat dimintai tanggapannya terkait aksi 13 siswa MAS Merdeka.

Baca: Demi Ikuti Simulasi UAMBN-BK, Siswa MAS Merdeka Tampor Paloh Arungi Sungai Tamiang Selama 4 Jam

Dia mengatakan memang saat ini semua sekolah melaksanakan ujian akhir berbasis komputer.

Tapi apabila hal itu tidak bisa dilakukan dikarenakan berbagai persoalan seperti di MAS Merdeka, maka siswa-siswa di sana dibolehkan untuk mengikuti ujian nasional berbasis kertas dan pensil seperti sebelum-sebelumnya.

“Sebenarnya kita bisa menyediakan komputer agar mereka bisa ikut UNBK di tempat mereka. Tapi ada satu kendala yang sangat besar adalah sinyal (jaringan internet) tidak ada. Kita berharap barangkali ada pihak-pihak tertentu yang memberikan perhatian untuk daerah itu dengan menjadi donator,” katanya.

Baca: MPD Konsultasikan Draf Regulasi Pendidikan

Jika ada pihak yang ingin membantu, Daud Pakeh mengatakan hal yang perlu dibangun di sana adalah tower jaringan internet/sinyal agar siswa-siswa di daerah itu bisa mengikuti ujian berbasis komputer.

Mengenai belum adanya listrik, menurut Daud Pakeh bisa digunakan genset atau dibangun solar cells (listrik tenaga surya).    

Baca: Petaka Pendidikan Kita

“Kita harus memikirkan solusi untuk anak-anak kita agar mereka tidak lagi melintasi sungai yang sangat berbahaya. Bila ada pihak yang bisa membantu, kita ingin membangun tower di sana, sehingga anak-anak kita tidak perlu keluar dari kampungnya untuk belajar,” ungkap Daud Pakeh.  

Sementara terkait dengan kebutuhan sekolah seperti ruang belajar dan kebutuhan lainnya, Daud Pakeh mengatakan bisa ditanggulangi oleh pihaknya.

“Kita berharap anak-anak di pendalaman seperti ini bisa mendapatkan pendidikan yang layak, sama seperti anak-anak di kota,” pungkasnya. (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved