Citizen Reporter

Yasinan Rutin dan Belajar Menari di Kota Aur

TAK terasa tinggal beberapa hari lagi kami harus pulang ke Aceh, membawa semua kenangan dari Malaysia

Yasinan Rutin dan Belajar Menari di Kota Aur
IST
LINA RATNA

OLEH LINA RATNA, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

TAK terasa tinggal beberapa hari lagi kami harus pulang ke Aceh, membawa semua kenangan dari Malaysia, tepatnya dari Kampung Kota Aur, Pulau Pinang yang merupakan lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional bagi mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) periode Februari 2019.

Semua program kerja KKN kami di sini telah berjalan baik sampai hari ini. Hal yang sangat berharga kami rasakan selama KKN ini tak lain adalah budaya Melayu yang masih melekat erat pada masyarakat Pulau Pinang di zaman modern yang semakin canggih ini.

Selain diisi dengan berbagai program kerja, kami juga mempelajari budaya, sejarah, dan masakan khas Pulau Pinang.

Berbicara mengenai keseharian masyarakatnya, setiap hari Kamis ibu-ibu di sini memasak mulai pukul 15.00 waktu Pulau Pinang, lalu dilanjutkan dengan shalat Magrib bersama, dan menunggu waktu shalat Isya di masjid atau surau Kampung Kota Aur. Setelah shalat Isya masyarakatnya langsung melakukan yasinan bersama, di mana perempuan dan laki-laki dibatasi dengan hijab. Aktivitas yasinan ini selalu dilaksanakan pada Kamis malam.

Masyarakat Kampung Kota Aur juga mengikuti kelas memasak di PKK atau ruang JKK yang biasanya disebut keuchik di daerah kita, Aceh. Ada seorang guru yang akan mengajari masyarakat atau ibu-ibu PKK di sini memasak. Kelas memasak ini selalu dilaksanakan setiap seminggu sekali, kecuali jika ada halangan mendadak.

Kelas menari pun juga ada. Sekelompok ibu-ibu di Kampung Kota Aur mengajarkan anak-anaknya menari agar tidak hilang budaya yang diwariskan oleh buyut mereka terdahulu.

Sungguh melekat di hati kami, segala aktivitas yang luhur di negeri jiran ini. Terutama karena tanggung jawab sebagai anggota masyarakat tetap mereka prioritaskan sesibuk apa pun aktivitas pribadi. Masyarakat layaknya keluarga, dipimpin oleh ketua kampung dan didukung oleh masyarakat sehingga tetap tercipta kerukunan dalam masyarakat dan budaya yang telah diwariskan oleh buyut tetap ditularkan kepada anak anak muda agar tetap lestari.

Selain itu, aktivitas masyarakat juga masih mengikuti syariat. Misalnya, tidak bersentuhan tangan saat bersalaman dengan yang bukan mahram dan menghormati perempuan yang tidak ingin bersentuhan tangannya saat bersalaman dengan yang bukan mahram.

Menariknya, kuburan-kuburan pun tetap mengikuti aturan syariat Islam atau sunah Rasulullah saw, di mana seluruh kuburan rata, tidak dibuat bangunan, tidak dikapur atau dicat, tidak ditinggikan, juga tidak dikeramiki.

Selama KKN di negeri jiran ini, kami delapan mahasiswa digiring untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Misalnya, museum tsunami di tepi Sungai Kuala Muda, gerbang Kuala Muda, dan Museum Arkeologi. Tak lupa pula kami mengunjungi universitas terkenal di Pulau Pinang, yaitu Universiti Sains Malaysia.

Kami juga mengunjungi kebun nipah Pak Man dan Taman Herba Bertam. Kami belajar banyak hal pada setiap jengkal tanah Kota Aur yang kami pijak, yakni tentang bagaimana menjalankan tanggung jawab dalam masyarakat dan bagaimana tetap menjaga warisan budaya.

Kami juga belajar bahwa kita masyarakat Indonesia, khususnya Aceh, sebetulnya bisa maju dengan mengolah sendiri sumber daya alam, karena alam kita Aceh, Indonesia, sangatlah kaya.

Salam kami, mahasiswa Universitas Syiah Kuala, dari negeri jiran, Malaysia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved