Opini

Darurat Ketahanan Keluarga

ANGKA perceraian di Aceh meningkat tajam. Permohonan bercerai didominasi oleh istri, seperti di Lhokseumawe

Darurat Ketahanan Keluarga

Oleh Agustin Hanafi

ANGKA perceraian di Aceh meningkat tajam. Permohonan bercerai didominasi oleh istri, seperti di Lhokseumawe pada 2016 cerai gugat inisiatif dari istri sebanyak 208 kasus, berbanding talak inisiatif dari suami sebanyak 90 kasus. Sedangkan pada 2017 cerai gugat 177 kasus dan talak 54 kasus. Begitu juga pada 2018 lalu, kasus cerai gugat mencapai 196 kasus dan talak 81 kasus. Penyebab cerai gugat antara lain karena faktor ekonomi, pertengkaran, adanya pihak ketiga, perselingkuhan, dan kasus narkotika (Serambi, 31/1/2019).

Di sisi lain, akhir-akhir ini kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pasangan sendiri cenderung meningkat, ada suami dengan sengaja menghabisi istrinya dengan harapan bisa menikah lagi. Begitu juga sebaliknya, istri begitu tega menyuruh kekasih gelapnya menghabisi nyawa suaminya dengan harapan keduanya bisa menikah, akibat “cinta lama bersemi kembali”.

Harapan dan tujuan dari berkeluarga seyogyanya dapat membangun mahligai rumah tangga yang indah dan berkekalan hingga ke surga, namun yang terjadi ternyata sebaliknya, pernikahan berubah seperti neraka dan berujung maut sehingga anak yang tak berdosa juga ikut menjadi korban. Inilah sekelumit permasalahan keluarga yang sungguh menyayat hati dan membuat hati miris, maka tidak berlebihan rasanya menyebut kalau saat ini kondisi kita “darurat ketahanan keluarga”.

Renungan dan evaluasi
Kondisi ini dapat menjadi renungan dan bahan evaluasi serius bagi pasangan suami-istri dan kita sebagai orang tua; mengapa hal ini bisa terjadi? Dari sekian kasus cerai gugat pemicu utamanya motif ekonomi. Suami tidak memiliki pendapatan tetap, malas bekerja, tidak mampu menghargai istri, mengayomi dan memberikan kasih sayang yang layak kepada istri juga anak-anak. Jika pun pendapatan ekonomi dirasa lumayan, namun bermasalah dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Suami atau istri boros dan bergaya hidup mewah dengan pendapatannya yang pas-pasan.

Fakta lain di zaman now, banyak suami merasa superior dan kaku. Menuntut istrinya untuk patuh secara mutlak, bahkan sering melabelkan kata nusyuz (durhaka) jika abai terhadap instruksinya, jarang tersenyum kepada istrinya, kurang hangat, hanya melihat kekurangan istri, dan suka membebaninya dengan tugas-tugas yang melebihi kemampuannya. Tidak sedikit suami hanya melihat hak-hak di tangannya tanpa memperhatikan kewajiban-kewajiban di pundaknya. Bahkan ada yang memaki istrinya hanya karena telat dibuatkan kopi untuknya, atau karena masakannya terlalu asin atau kurang garam, dan lain-lain.

Ada juga sebaliknya, sang istri lupa kalau dia memiliki suami, sehingga waktunya dihabiskan begitu saja di depan TV menikmati gosip, sinetron, drama Korea, film India, tanpa berinisiatif menyiapkan makanan. Padahal suaminya sedang banting tulang sebagai kuli bangunan. Ada juga istri yang menghabiskan waktunya ber-selfie ria dan setiap saat meng-upload status serta foto sensual di dunia maya layaknya anak baru gede (ABG), padahal dia telah bersuami dan punya anak. Tidak sedikit juga yang hanya memikirkan berat tubuh ideal dan gamis baru serta pamer perhiasan, padahal pendapatan suaminya tak seberapa sehingga besar pasak dari tiang.

Kalau merujuk Alquran (QS. An-Nisa: 35) bahwa dalam mengarungi bahtera rumah tangga tak luput dari masalah, sekiranya telah memuncak maka masing-masing pihak mengutus keluarganya untuk berupaya menyelesaikannya, sehingga keutuhan rumah tangga dapat terjaga. Jadi, masalah suami-istri merupakan sesuatu yang lumrah terjadi, karena memang menyatukan dua hati yang berbeda lumayan rumit, butuh penyesuaian, dan komitmen dari masing-masing pihak. Namun semua persoalan dapat terselesaikan dengan cara bermusyawarah antara suami-istri, keluarga, dan tokoh masyarakat.

Jika ada masalah dalam keluarga, suami maupun istri tidak dibenarkan curhat ke orang lain yang belum diketahui ketulusannya, apalagi ke media sosial yang tidak kenal yang namanya privasi, Tetapi sama-sama berdiskusi dari hati ke hati melalui akal sehat dan pikiran yang jernih untuk mencari solusi dan jalan keluar dari kemelut rumah tangga. Misalnya suami memberitahu bahwa dia kurang sreg dengan sikap istrinya, karena terlalu egois dan cerewet. Begitu juga dengan istri, menyampaikan secara terbuka mengenai sikap dan perlakuan suaminya selama ini, sehingga istri mengalamai penderitaan batin.

Kemudian yang terpenting, bahwa masalah dapat tercairkan dalam nuansa kebersamaan di dalam rumah, sarapan pagi bersama, makan malam bersama, mengaji, berangkat salat berjamaah bersama. Dalam situasi seperti ini, satu sama lain saling mendengarkan keluhan dan curhatan, saling berlapang dada, dan berbesar jiwa, memberi dan meminta maaf. Bukan sebaliknya, keukeuh mempertahankan prinsip atau tidak adanya sikap saling mengalah, sehingga upaya kompromi terhadap suatu perbedaan mengalami jalan buntu, suasana rumah tangga menjadi hambar dan gersang, yang mengarah kepada perceraian.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved