Opini

Ikatan Suci Pernikahan

MENIKAH itu tak hanya suka dan gembira, tapi juga harus kokoh dan mulia, disebut pernikahan kokoh apabila ikatan hidup

Ikatan Suci Pernikahan
SYEIKH H Hasanoel Bashri HG atau lebih dikenal Abu Mudi melakukan ijab kabul dengan seorang linto baro dalam nikah massal di Dayah MUDI Mesra Samalanga. SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

Oleh Abdul Gani Isa

MENIKAH itu tak hanya suka dan gembira, tapi juga harus kokoh dan mulia. Disebut pernikahan kokoh apabila ikatan hidup tersebut dapat mengantarkan kedua mempelai pada kebahagiaan dan cinta kasih. Pernikahan juga merupakan ikatan yang dapat memenuhi kebutuhan keduanya, baik kebutuhan lahiriah maupun batiniah, yang dapat melejitkan fungsi keluarga baik spiritual, psikologi, sosial budaya, pendidikan, reproduksi, lingkungan maupun ekonomi. Ini dituang dalam PP No.21 Tahun 1994 (Pasal 4), dirangkum dalam bahasa Alquran dengan tiga kata kunci; sakinah, mawaddah dan rahmah.

Agar sebuah pernikahan menjadi kokoh, agar kedua calon harus pula melakukan persiapan yang cermat dan matang. Cermat berarti keduanya memiliki ilmu pengetahuan yang memadai untuk dapat mengantisipasi berbagai hal yang akan timbul dari pernikahan tersebut. Matang dalam arti keduanya bersedia berusaha bersama dalam menumbuhkan semangat, nyaman, rela dan tanpa paksaan dalam memasuki gerbang pernikahan. Dan dalam rangka menumbuhkan kenyamanan tersebut, maka kedua belah pihak harus berusaha semakin mengenal calon pasangan hidupnya, termasuk mengenal keluarga masing-masing.

Dalam Islam, semua proses pranikah mulai dari niat menikah, khitbah, perwalian, mahar, saksi, akad nikah dan walimah, merupakan pengkondisian agar pernikahan yang terjadi kelak menjadi sebuah pernikahan kokoh dan bermuara kepada keluarga harmonis, yang berbasis syariah. Namun demikian tidak semua pernikahan bisa langgeng dan harmonis, karena data menunjukkan angka perceraian relatif tinggi baik secara nasional maupun di daerah. Khusus Aceh berkisar 10-13% dan didominasi oleh istri yang menggugat cerai suaminya (Serambi, 31/1/2019).

Pernikahan pada dasarnya adalah sebuah prilaku yang berlangsung secara turun-temurun, sebagai sarana yang baik dan benar dalam upaya melanjutkan proses regenerasi dan berkesinambungan di bumi ini. Pernikahan merupakan ikatan yang sangat suci dan kokoh yang terjalin antara sepasang anak manusia, yang selanjutnya diharapkan akan mampu menjalin sebuah ikatan lahir batin antara suami istri sebagai modal untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, yaitu keluarga bahagia dan diridhai Allah Swt.

Pernikahan menurut syariat Islam, mempunyai beberapa aspek, di antaranya aspek ibadah, hukum dan sosial. Dari aspek ibadah, melaksanakan pernikahan berarti melaksanakan sebagian dari ibadah, yang berarti pula menyempurnakan sebagian dari agama. Dari aspek hukum, pernikahan yang sesuai dengan syariat Islam merupakan suatu perjanjian yang kuat, yang di dalamnya mengandung suatu komitmen bersama dan menuntut adanya penunaian hak dan kewajiban bagi keduanya.

Sementara dari aspek sosial, pernikahan bertujuan membentuk keluarga yang diliputi rasa saling cinta dan rasa kasih sayang antarsesama anggota keluarga, yang pada gilirannya terwujud sebuah komunitas masyarakat yang marhamah, di bawah naungan Allah Swt yang baldatun tayyibatun warabbun ghafur (Kamal Mukhtar, Asas-asas Hukum Islam tentang Perkawinan, 2001, hlm.5).

Keluarga yang dibentuk oleh akad nikah merupakan sebuah institusi suci dan mengandung hikmah. Ia tidaklah dibentuk melalui pengalaman manusia yang dikembangkan lewat tahapan uji coba (trial and error) secara berkesinambungan. Tetapi ia adalah sebuah institusi yang keberadaannya lahir bersamaan dengan penciptaan manusia itu sendiri (QS. An-Nisa’: 1). Akad nikah adalah ketentuan syariah, yang mengikat seorang pria yang menjadi suami dengan seorang wanita yang menjadi isteri, dalam satu ikatan, yaitu ikatan pernikahan.

Bernilai suci
Akad nikah yang memiliki nilai suci, karena menggunakan nama Allah untuk menghalalkan persetubuhan antara lelaki dan perempuan, sebagaimana sabda Nabi saw, “Bertaqwalah (menjaga diri dengan mengikuti petunjuk dan aturan) Allah, dalam menyantuni istri-istrimu, karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka (sebagai istri) atas dasar amanah Allah dan kamu menikmati secara halal (kehormatan) mereka dengan kalimah Allah).” (HR. Muslim). Secara sosial, akad nikah adalah suatu kontrak sosial di mana masing-masing pihak suami istri memiliki hak dan kewajiban, yang keduanya mengandung implikasi hukum.

Oleh karena itu dalam akad nikah diperlukan adanya wali dan dua orang saksi, serta bukti administrasi (akta nikah), karena akan mengarungi kehidupan panjang pasca-ijab qabul, bahkan tidak jarang mengabaikan hak dan kewajiban, dan perselisihan di antara mereka membutuhkan perdamaian keluarga (Mediasai/hakam) atau sampai ke pengadilan (hakim), perselisihan mana mungkin bisa didamaikan, mungkin pula akan berakhir dengan perceraian.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved