Opini

Menggalakkan Studi Hadis

HADIS adalah sumber otoritatif ajaran Islam yang kedua setelah Alquran, dengan eksistensinya yang begitu penting

Menggalakkan Studi Hadis
Global Wakaf-ACT/Rahmat Aulia
Anak-anak mengaji di Balai Pengajian Darul Ulum Gampong Ujong Kareung, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang. 

Oleh Johansyah

HADIS adalah sumber otoritatif ajaran Islam yang kedua setelah Alquran. Dengan eksistensinya yang begitu penting, maka hadis harus dipelajari dan dipahami, karena sangat memengaruhi kualitas praksis keberagamaan seorang muslim. Apalagi kita ketahui bahwa kebanyakan panduan praktis keberagamaan itu justru diperoleh dari hadis, karena sebagian besar ayat Alquran hanya memuat kaidah-kaidah umum saja.

Untuk itulah, sejatinya ada proses transmisi hadis yang terencana, konsisten dan kontinyu dari generasi ke generasi. Sayangnya, saat ini atensi umat terhadap hadis sangat rendah. Ada beberapa indikator, yaitu: Pertama, spirit untuk menghafal dan mengkaji hadis di berbagai kalangan masih rendah. Kita mudah mendapatkan penghafal Alquran, tapi sulit menemukan seorang penghafal hadis.

Dalam lingkup keluarga dapat kita lihat dan rasakan, sedikit sekali orang tua memiliki perhatian terhadap hadis, karena sebagian besarnya tidak hafal dan tidak paham hadis. Padahal hadis itu kaya dengan materi-materi pendidikan agama yang substansial seperti akidah, ibadah, maupun akhlak.

Demikian halnya di sekolah, komparasi antara perhatian terhadap Alquran dibanding hadis masih berat sebelah. Umumnya lembaga pendidikan memprioritaskan program hafalan Alquran dari pada program hadis. Jarang sekali kita dengar ada sekolah yang mewajibkan perserta didiknya untuk menghafal hadis minimal sekian hadis, atau mengadakan kompetisi menghafal hadis, maupun menjadikan program hafalan hadis sebagai syarat kelulusan. Bahkan, jangankan peserta didik, guru saja kebanyakan tidak hafal hadis.

Dan, kedua, akibat dari masalah pertama, maka akhirnya pengetahuan dan penguasaan umat tentang hadits sangat lemah. Jangankan kalangan awam, tingkat ustaz saja masih banyak yang belum paham. Apakah hadis yang dirujuknya shahih, dhaif, atau maudhu’, atau siapa periwayatnya? Mereka ingin yang gampang saja kalau mau mencari bahan hadis, tinggal tanya ke Google.

Pernah saya dengar seorang penceramah yang mengutip sebuah kata mutiara Arab, tapi dia menyebutnya hadis. Ini bukan keceplosan, tapi sang penceramah kelihatannya minim perbendaharaan hadis. Akibatnya tentu fatal, karena dia menyebarkan informasi yang salah kepada jamaah. Begitu pula dengan keawamannya, jamaah juga akan menyebarkan informasi yang salah kepada orang lain.

Dalam diskursus keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan hukum Islam, hadis tidak mungkin diabaikan. Kuat atau tidaknya argumen yang dibangun oleh seseorang mengenai sebuah persoalan dari perspektif agama, bergantung pada ketepatan dan kekuatan dalil yang digunakan, baik Alquran maupun hadisnya. Dari setiap paparan yang kita sampaikan, pasti orang akan bertanya; mana ayat dan hadisnya?

Mencari dan mengoreksi dalil Alquran tentu sangat mudah, karena hampir di setiap keluarga ada Alquran, lengkap dengan terjemahannya. Kalau ada keraguan, orang dapat mengecek secara langsung. Hafiz kita juga banyak, sehingga upaya pemalsuan ayat Alquran sangat mudah terdeteksi. Berbeda dengan hadis, hanya orang tertentu saja yang mengetahui apakah yang disebutkan seorang penceramah itu hadis shahih, dhaif, atau maudhu’, atau sama sekali bukan hadis.

Sebagian besar dari keluarga tidak memiliki kitab hadis sebagaimana Alquran.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved