Pupuk Bersubsidi ‘Menghilang’

Kelangkaan pupuk bersubsidi pada awal musim tanam kembali terjadi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)

Pupuk Bersubsidi ‘Menghilang’
Serambinews.com
Seorang buruh menyusun barang bukti pupuk bersubsidi sebanyak 5 ton yang kini diamankan di Polres Pidie 

* Petani Abdya Resah

BLANGPIDIE - Kelangkaan pupuk bersubsidi pada awal musim tanam kembali terjadi di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Kali ini, pupuk jenis NPK Ponskha dan SP-36 ‘menghilang’ di kios-kios pengecer resmi selama dua pekan terakhir.

Kondisi ini sangat meresahkan para petani karena tanaman padi yang sudah memasuki umur antara 15 sampai 20 hari sangat membutuhkan pemupukan awal. Keterlambatan pemupukan bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan batang yang berujung menurunnya tingkat produksi gabah.

Iskandar, petani dari Gampong Keude Blangpidie kepada Serambi, Kamis (21/2), mengaku kecewa karena pupuk NPK Ponskha tidak tersedia (kosong) di seluruh kios pengecer setempat. Keluhan serupa juga datang dari Zul, petani asal Babah Lhueng, Blangpidie dan Agus, warga Susoh. Keduanya mempertanyakan mengapa pupuk bersubsidi jenis NPK Ponska dan SP-36 ‘raib’ dari kios-kios pengecer selama dua pekan terakhir.

Eksesnya, ucap Zul, mereka terpaksa menggunakan pupuk NPK nonsubsidi yang harganya tinggi mencapai Rp 185.000 persak isi 50 kilogram. “Kami minta pihak distributor segera menyalurkan pupuk bersubsidi ke kios-kios pengecer karena memang sangat dibutuhkan. Sebab, bila pemupukan awal terlambat dikhawatirkan berpengaruh terhadap produktivitas gabah,” kata Zul.

Beberapa kios-kios pengecer di Blangpidie yang dikonfirmasi Serambi, kemarin, menyebutkan, dari lima jenis pupuk bersubsidi, tiga di antaranya tersedia, yaitu Urea, ZA dalam jumlah terbatas, dan pupuk organik. Sedangkan NPK Ponskha dan SP-3, tidak ada stok alias kosong sama sekali.

“Pupuk NPK Ponskha sudah disalurkan distributor ke kios-kios pengecer di Blangpidie pada pekan pertama Februari. Tapi, dalam satu hari stok habis setelah diserbu petani,” kata salah seorang pemilik kios pengecer di Jalan H Ilyas, Blangpidie. Pada penyaluran pekan pertama Februari lalu itu, ujarnya, setiap kios pengecer resmi mendapat jatah paling banyak 10 ton NPK Ponskha. Sedangkan, penebusan pupuk kepada distributor, beber dia, baru akan dilaksanakan akhir Februari nanti.

Untuk diketahui, ada dua distributor yang ditunjuk untuk menyalurkan kebutuhan pupuk bersubsidi di Abdya. Pertama adalah PT Pertani yang menyalurkan pupuk bersubsidi jenis SP-36, ZA, NPK Phonska, dan pupuk organik ke kios pengecer resmi di enam kecamatan meliputi Babahrot, Kuala Batee, Jeumpa, Blangpidie, Susoh, dan Tangan-Tangan.

Distributor kedua yaitu PT Meuligoe Raya yang menyalurkan pupuk bersubsidi jenis SP-36, ZA, NPK Phonska, dan pupuk organik ke Kecamatan Setia, Manggeng, dan Lembah Sabil. Penetapan kedua distributor tersebut merupakan kewenangan PT Petrokimia Gresik selaku produsen. Kecuali itu, PT Meuligoe Raya juga ditetapkan sebagai distributor tunggal penyaluran pupuk bersubsidi jenis Urea produksi PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) ke seluruh kecamatan di Abdya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, drh Nasruddin yang dihubungi Serambi, Kamis (21/2), menjelaskan, pihaknya segera berkoordinasi dengan PT Pertani dan PT Meuligoe Raya selaku distributor agar segera menyalurkan pupuk bersubsidi, terutama jenis NPK Phonska dan SP-36 ke kios-kios pengecer yang dilaporkan kosong stok. Sebab, ucapnya, petani saat ini sangat membutuhkannya untuk pemupukan awal tanaman padi musim tanam (MT) Gadu 2019. “Saya segera telepon pihak distributor agar pupuk bersubsidi segera disalurkan,” tukas Nasruddin.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved