Galian Tutup Akses Jalan

Sebidang tanah (persil) di depan pagar UPTD Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, hingga kini belum tuntas ganti ruginya

Galian Tutup Akses Jalan
SEJUMLAH pengendara sepeda motor melewati jalan Ulee Lheue-Gampong Pande 

* Persil Depan Pelabuhan Ulee Lheue belum Tuntas

BANDA ACEH - Sebidang tanah (persil) di depan pagar UPTD Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, hingga kini belum tuntas ganti ruginya. Bahkan di tanah yang selama ini menjadi jalur lalu lintas Ulee Lheue-Gampong Pande itu sudah digali parit besar membelah jalan, sehingga menutup akses masyarakat ke jalan inspeksi tersebut. Bebatuan besar juga ditempatkan di tepi parit buatan itu, memaksa pengendara roda empat dan roda dua putar haluan.

Camat Meuraxa, Ardiansyah SSTP MSi yang dikonfirmasi Serambi, Jumat (22/2) mengatakan, penggalian parit di titik tersebut merupakan bentuk protes dari sang pemilik tanah, Bachtiar. Pria yang didaerahnya akrab disapa ‘Ayah Bachtiar Keuchik Leman’ itu sangat kecewa, karena tanahnya yang selama ini ‘dipaksa’ menjadi jalur lalu lintas publik itu tak kunjung dibayar ganti ruginya oleh Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh.

“Jalan tersebut ditutup oleh pemilik tanahnya, karena belum diganti rugi oleh Pemko. Kami dari Muspika sudah melaporkan ke SKPD terkait untuk ditindak lanjuti, sekarang sedang dalam proses,” ujar Ardiansyah. Bahkan, katanya, Muspika Meuraxa juga sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah itu dengan menemui Ayah Bachtiar, namun yang bersangkutan tidak menggubrisnya karena sudah telanjur kecewa.

Menurut Ardiansyah, persoalan ganti rugi tanah tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2006, sejak jalan Ulee Lheue-Gampong Pande itu mulai difungsikan. Tanah milik Ayah Bachtiar sudah digunakan sebagai jalan meski tak beraspal saat itu, namun tidak ada kejelasan mengenai ganti ruginya hingga sekarang.

“Ayah Bachtiar maunya ketemu langsung dengan Kepala Dinas PUPR, Asisten I, dan Kabag Tapem Setdako Banda Aceh. Kami dari Muspika masih menunggu jawaban dari Kadis PUPR Kota, tapi sampai hari ini (22/2) belum dihubungi,” jelas Ardiansyah.

Saat ditanya berapa luas tanah milik Ayah Bachtiar, Camat Meuraxa mengaku tidak tahu persis. Namun berdasarkan keterangan pemiliknya, akses jalan dan sekelilingnya itu milik yang bersangkutan.

Sementara Asisten I Setdako Banda Aceh, Faisal SSTP yang ditanyai terkait masalah itu mengatakan, dirinya tidak begitu tahu karena baru saja menjabat asisten I. Namun menurutnya, pembebasan lahan di dekat pelabuhan Ulee Lheue itu menjadi prioritas Pemko tahun ini. “Insya Allah nanti akan diaspal kembali dan kami sedang memprosesnya dengan pemilik tanah dalam waktu dekat ini,” kata Faisal, seraya mengaku tidak tahu siapa yang membuat galian tersebut.

Masih dalam Pendekatan
Guna menghimpun jawaban yang lebih detail terhadap permasalahan tanah tersebut, Serambi pun menghubungi Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Kabag Tapem) Setdako Banda Aceh, Ria Jelmanita SSos, kemarin. Ria menyebut progress terkait permasalahan lahan itu masih dalam pendekatan dengan pemiliknya. “Kalau pemilik sudah oke, baru kami turun untuk melakukan pengukuran,” katanya.

Saat ditanya apakah permasalahannya terkait harga tanah, Ria mengatakan bahwa soal harga tanah bukan dari Pemko Banda Aceh. Tapi tim penilai independen dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) akan menilai harga tanah tersebut setelah melalui tahap pengukuran dan lainnya. Ria pun mengaku baru mengetahui ada galian di lokasi itu dan tidak tahu siapa yang menggalinya. “Kami akan hubungi pihak kecamatan dan keuchik terkait masalah ini,” pungkasnya.(fit)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved