Citizen Reporter

Tsunami, Kenangan Penuh Emosional Aceh-Malaysia

PADA 28 Januari 2019, sebanyak delapan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), terdiri atas empat mahasiswa

Tsunami, Kenangan Penuh Emosional Aceh-Malaysia
IST
Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

ULUL ALBAB, Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

PADA 28 Januari 2019, sebanyak delapan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), terdiri atas empat mahasiswa empat mahasiswi yang berasal dari berbagai fakultas dan jurusan telah berhasil melewati serangkaian seleksi sehingga terpilih untuk menjadi duta Unsyiah dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.

Menjadi bagian dari Batch 2 KKN Internasional adalah cita-cita kami sedari dulu yang telah terencana untuk mengabdi di negeri jiran, Malaysia, serta memperkenalkan kebudayaan Aceh kepada masyarakat luas. Hal itu menjadi pengalaman yang sangat berharga, karena menurut Albert Einstein, sumber pengetahuan utama adalah pengalaman. Apalagi mencari pengalaman di negeri orang dapat membuka pikiran kita menjadi lebih luas terhadap adat, kebiasaan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan pendidikan.

Dengan semangat memperkenalkan lebih dalam kebudayaan Aceh dan kejadian yang takkan terlupakan yang menjadi sorotan dunia, yakni tsunami yang telah menerjang dari Asia hingga Afrika pada tahun 2004 silam, maka pagi Senin, 28 Januari, kami mengawali perjalanan dari Bandara Sultan Iskandar Muda dan terbang selama lebih kurang dua jam ke Bandara Internasional Penang yang terletak di negera bagian Pulau Pinang, Malaysia.

Sesampainya di Penang, kami menuju homestay yang terletak di Kampung Kota Aur, Pulau Penang dan melewati jembatan terpanjang di Malaysia, yakni Penang Bridge.

Beberapa hari kemudian setelah menjalankan beberapa program kerja di kampung Kota Aur, tepatnya pada 4 Februari 2019, kami berkunjung ke salah satu tempat yang menjadi daerah terdampak tsunami Samudera Hindia, yakni Kedah. Kami melihat peninggalan-peninggalan tsunami di sebuah bangunan yang dibangun oleh pihak Kerajaan Malaysia untuk mengenang tragedi tersebut.

Di dalamnya berisi ilustrasi berupa lukisan dan gambar yang menampakkan bagaimana situasi yang terjadi saat tsunami mulai menerjang pinggiran pantai. Dijelaskan juga apa itu gempa dan tsunami serta jangkauan bencana yang terjadi kala itu.

Di kawasan galeri tersebut dipamerkan juga barang-barang yang ditemukan masih dalam keadaan utuh seperti Alquran, rumah-rumah penduduk yang masih memiliki pilar-pilar yang lumayan kuat dan juga terdapat tugu kapal yang menjadi monumen kejadian Tsunami di daerah pinggiran pantai tersebut.

Bila kita flashback ke belakang, kala itu masyarakat sangat tidak mengetahui apa itu tsunami, bagaimana kejadiannya, dan apa dampak yang ditimbulkan oleh bencana itu. “Kami takde tahu apa pon ape itu tsunami, macem mana bentuknye dan penyebabnye,” seperti dikatakan salah satu warga Malaysia yang berdomisili di Kampung Kota Aur dalam bahasa Malaysia.

Walaupun demikian, yang menjadi korban tsunami di Malaysia tidak sebanyak di Indonesia. Menurut Wikipedia, pada saat terjadi gempa bumi dan tsunami di Lautan Hindi 2004, korban di Malaysia yang didapat 68 orang, sedangkan Indonesia sebanyak 127.420 orang yang mayoritas di Provinsi Aceh.

Beberapa tahun kemudian, wajah pesisir Malaysia, tepatnya di negeri Kedah terus berubah dan berkembang seiring berlalunya kejadian yang menggemparkan dunia pada 2004 silam itu. Pembangunan terus menggeliat seperti layaknya di daerah Aceh. Mulai dari pembuatan tanggul di bibir pantai, jalur evakuasi, rumah tahan gempa hingga peringatan dini tsunami.

Pengetahuan mengenai gempa dan tsunami pun terus diperkenalkan ke masyarakat, dibuktikan dengan pemajangan hasil penelitian yang dilakukan oleh Universiti Sains Malaysia mengenai geobencana tsunami yang menjelaskan mengenai kejadian tsunami dan dampak yang ditimbulkandi daerah pesisir yang diterjang oleh ombak besar itu di dekat galeri tsunami di Kota Kuala Muda, Kedah, Malaysia.

Oleh karena itu, Aceh dan Malaysia, khususnya Kedah, memiliki situasi dan kondisi yang sama pada 26 Desember 2004 sehingga menjadi kenangan historis yang sangat erat antarkeduanya.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved