Salam

Rawat Damai di Tengah Isu Pilpres

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Prof Dr Muhammad Tito Karnavian MA mengatakan

Rawat Damai di Tengah Isu Pilpres
SERAMBI/BUDI FATRIA
KAPOLRI Jenderal Polisi Tito Karnavian berjalan bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dan Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak, saat menghadiri peresmian beberapa gedung baru di Kompleks Mapolda Aceh, Banda Aceh, Sabtu (23/2). 

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Polisi Prof Dr Muhammad Tito Karnavian MA mengatakan, kondisi Aceh saat ini relatif aman dan kondusif. Untuk itu, ia meminta semua pihak di Aceh agar terus menjaga dan merawat perdamaian yang telah terwujud.

Hal itu dikatakan Jenderal Tito saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian beberapa gedung baru di kompleks Mapolda Aceh, Sabtu (23/2), sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin.

Menurut Kapolri, keamanan dan perdamaian ini harus dirawat, tidak boleh terulang lagi peristiwa konflik seperti pada masa lalu. Semua pihak harus terus menjaga perdamaian ini agar benar-benar langgeng.

Kunci dalam merawat perdamaian Aceh, menurut Jenderal Tito, adalah kekompakan semua ‘stakeholder’, terutama pemerintah, baik itu eksekutif maupun legislatif, TNI dan Polri di Aceh.

Hal lainnya yang menarik dari pernyataan Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian ini adalah saat ia mengemukakan bahwa Aceh sudah aman dalam pandangan Jakarta. Indikator yang ia gunakan adalah berbagai event besar yang dilaksanakan di Aceh, apakah itu event seni dan olahraga, semuanya terselenggara dengan aman.

Pakar ilmu kepolisian dan kajian kontraterorisme ini menambahkan bahwa Jakarta sempat khawatir terhadap agenda Pilkada 2017 dan 2018 di Aceh. Tapi ternyata kedua tahapan itu pun berlangsung mulus dan aman.

Sangat menarik mencermati apa yang disampaikan Kapolri kali ini. Terlebih karena ada penilaian positif darinya terhadap Aceh. Kapolri dan Panglima TNI adalah dua sosok yang paling berkompeten memberikan penilaian atas keamanan di suatu provinsi.

Oleh karenanya, kita patut senang dan bangga atas penilaian Kapolri kali ini, mengingat Aceh adalah daerah bekas konflik yang konfliknya sangat berdarah-darah dan berdurasi panjang, hampir tiga dasawarsa.

Kapolri tentunya tidak sedang berbasa-basi menyatakan Aceh aman dan semua event besar yang dilaksanakan di sini berlangsung aman. Kita memang bisa tunjukkan beberapa bukti. Misalnya, Pekan Nasional Tani dan Nelayan tahun 2017, Sabang Sail International 2017 dan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII tahun 2018, maupun Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional tahun 2018 yang dilaksanakan di Banda Aceh semuanya sukses tanpa gangguan keamanan apa pun.

Kita patut bangga dan bersyukur atas semua ini. Tapi semua kita juga harus sangat berhati-hati dengan agenda Pileg dan Pilpres 2019, mengingat agenda politik ini membuat masyarakat Aceh terbelah. Bahkan dukungan Ketua Umum dengan Sekretaris Umum DPA Partai Aceh saja bisa terbelah. Muzakir Manaf alias Mualem mendukung pasangan Prabowo-Sandi, sedangkan Sekumnya, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, terang-terangan mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Sungguh, agenda pilpres ini menjadi ujian terpenting bagi Aceh dalam merawat perdamaian. Kalau pilpres dan pileg ini dapat terlaksana tanpa huru-hara, tanpa gesekan berskala besar dan masif, maja pada saat itulah kita boleh semakin optimis bahwa keamanan Aceh memang semakin mantap dan terkendali. Perdamaian pun tak terusik karena akarnya semakin dalam membumi. Maka, siapa pun kita, apa pun partai, dan siapa pun capres pilihan kita, damai Aceh jangan sampai rusak atau ternoda.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved