Salam

Orang-orang Kecil Itu Gampang Tersinggung?

Sepasang suami istri penjual nasi pecal di satu warung kawasan Jalan T Iskandar, Desa Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng

Orang-orang Kecil Itu Gampang Tersinggung?
SERAMBINEWS.COM/HARI MAHARDIKA
Is (30) pemuda asal Tanah Jambo Aye, Aceh Utara saat digiring ke Polresta Banda Aceh, Selasa (26/2/2019). 

Sepasang suami istri penjual nasi pecal di satu warung kawasan Jalan T Iskandar, Desa Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, tewas dibunuh tersangka berinisial Is (21) yang diketahui bekerja pada keluarga korban. Is menghabisi nyawa pasangan suami-istri Muhammad Nasir (50) dan Roslinda (45) di warung yang juga rumah sang majikan itu, pada Selasa (26/2) dini hari.

Polisi yang sudah membekuk pelaku menjelaskan, tersangka masuk ke kamar korban dengan cara merusak pintu kemudian menyerang kedua majikannya secara sadis menggunakan parang dan pisau yang sengaja dibawanya. Polisi menyatakan ini kasus pembunuhan berencana.

Dan, menurut pengakuan tersangka, motifnya karena sakit hati. Is mengaku kedua majikan sering memarahinya dengan kata-kata kasar. “Selalu memarahi saya. Kalau minta uang nggak dikasih, selalu dibilang siap cat rumah baru dapat uang dan boleh pulang kampung,” begitu antara lain pengakuan tersangka kepada polisi.

Tragedi berdarah ini mengingatkan kita pada peristiwa nyaris serupa yang terjadi di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, juga Selasa (9/2/2018) dini hari. Toke Asun, istri, dan seorang anaknya ditemukan tewas dalam rumah toko yang juga berfungsi sebagai gudang di Jalan TP Panglima Polem Ujong, Dusun Pocut Meurah Inseun, Gampong (Desa) Mulia.

Sang pembunuhnya adalah Ridwan alias Iwan (22) yang ternyata pepekerja atau sopir perusahaan korban. Sepuluh bulan kemudian Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap Ridwan alias Iwan yang membunuh kaluarga Toke Asun sekeluarga karena sakit hati sering dimarahi.

Jadi, ada banyak persamaan pada kedua kasus itu. Pertama, sama-sama terjadi pada Selasa dini hari. Kedua, motifnya sama-sama mengaku sakit hati karena sering dimarahi. Ketiga, pelakunya sam-sama masih bujangan muda. Keempat, kedua pelaku sam-sama pekerja kecil yang tentu saja datang dari keluarga berekonomi lemah.

Secara sederhana, ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari kedua kasus itu. Antara lain, ada kemungkinan orang-orang yang berasal dari keluarga berekonomi lemah dan berpendidikan rendah akan gampang tersinggung saat menjadi pekerja pada orang lain atau orang kaya di kota. Kedua, bahasa majikan dengan bahasa pekerjanya sering berbeda rasa. Yang dianggap biasa oleh majikan, justru perih bagi orang kecil atau pekerjanya.

Pengalaman seperti ini juga sering dialami oleh wanita-wanita Aceh yang menjadi pekerja di luar negeri. Sesuatu yang tabu di Aceh, malah dianggap lumrah oleh majikannya di luar negeri. Perbedaan rasa dan budaya sering menjadi masalah, terutama antara majikan dengan peklerjanya. Oleh sebab itu, tragedi yang menimpa Toke Asun dan Muhammad Nasir hendaknya menjadi pelajaran penting bagi banyak orang yang menggunakan jasa orang lain sebagai asisten rumah tangga, penjaga warung/toko, sopir, dan sebagainya. Paling tidak, sama-sama harus menjaga perasaan agar tak pihak yang tersinggung.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved