Salam

Semestinya Pemuda Memang tak Golput

Kita menyambut baik kegiatan Forum Pemuda Intelektual (Forpi) Aceh yang mengadakan Focus Group Discussion (FGD)

Semestinya Pemuda Memang tak Golput
IST
AKADEMI Unsyiah, Effendi Hasan didampingi Inisiator Kaukus Pemuda Aceh yang juga Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Budi Azhari dan Norma Manalu dari aktivis perempuan serta moderator, Tjut Ika Mauliza menyampaikan pendapatnya pada acara Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Forum Pemuda intelektual (Forpi) Aceh di CafĂ© 3in1, Banda Aceh, Minggu (24/2). 

Kita menyambut baik kegiatan Forum Pemuda Intelektual (Forpi) Aceh yang mengadakan Focus Group Discussion (FGD), Minggu (24/2), dimana salah satu misi mereka adalah mengajak kawula muda agar tidak Golput pada Pemilu, 17 April 2019. Kita akui bahwa sikap Golput tersebut memang tidak menguntungkan siapa pun.

Namun, juga harus diakui bahwa persoalan Golput ini tidak akan pernah hilang setiap kali musim Pemilu. Mereka yang memilih posisi sebagai Golput adalah sebagian besar anak-anak muda yang apatis terhadap sikap politik penguasa atau sikap para politisi yang sangat jarang berpihak kepada rakyat.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa para politisi tersebut sebagian besar hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya. Mereka rata-rata baru peduli terhadap rakyat atau berpura-pura berpihak kepada rakyat ketika sudah ada maunya, misalnya sudah memasuki musim Pemilu seperti sekarang ini.

Karena itu, munculnya forum sejenis ini harus diberi apresiasi dan terus didorong, sehingga ada kelajutannya dan sekaligus pula dapat membuahkan hasil, yakni angka Golput akan tertekan sekecil-kecilnya. Ya, paling tidak, angka Golput tersebut tidak akan terus membengkak setiap Pemilu.

Sebagaimana disiarkan harin ini kemarin, Ketua Panitia Maulidawati menyampaikan bahwa kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan kepedulian politik kaum millenial. Untuk memenuhi kegiatan tersebut, panitia menghadirkan tiga panelis yaitu, Effendi Hasan dari akademisi Unsyiah, Budi Azhari dari Inisiator Kaukus Pemuda Aceh, dan Norma Manalu dari aktivis perempuan.

Effendi Hasan dalam acara itu menyampaikan, banyak permasalahan sosial yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh politik bangsa. Karenanya, sambung Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unsyiah ini, anak muda harus menggunakan hak pilihnya agar orang-orang baik bisa memimpin bangsa ini.

Inisiator Kaukus Pemuda Aceh yang juga Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry, Budi Azhari juga mengajak pemuda di Aceh untuk tidak golput. Menurutnya, nasib bangsa akan ditentukan ketika 30 menit berada dalam bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Hanya 30 menit kita berada di TPS untuk memastikan bahwa anggota dewan yang selama ini dikenal baik bekerja agar tetap bertahan. Kita juga harus membantu caleg dari kalangan orang-orang baik, cerdas, dan amanah yang saat ini berada di luar agar bisa masuk ke dalam gedung dewan,” katanya.

Sementara Norma Manalu menyampaikan bahwa pemilih cerdas bukan cuma orang yang datang ke TPS pada 17 April 2019. Tapi, katanya, pemilih cerdas adalah mereka yang mencari tahu apa saja yang menjadi kebutuhannya mengenai Pemilu. Pemilih cerdas harus bisa memastikan siapa yang harus dipilih.

“Sangat disayangkan jika kita memilih seperti memilih kucing dalam karung yang hanya melihat fisiknya. Karena yang kita pertaruhkan adalah masa depan kita selama lima tahun yang akan datang,” kata Norma Manalu, aktivis perempuan dari Balai Syura Inong Aceh.

Begitupun selalu muncul pertanyaan besar, kira-kira siapa yang bisa meyakinkan kawula muda agar tidak Golput? Lebih-lebih mengingat sikap politisi yang belum menunjukkan perubahan yang meyakinkan untuk bisa melunakkan hati kaum muda tersebut. Nah?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved