Opini

Dosa Predator Nyawa

AKHIR-AKHIR ini fenomena pembunuhan kembali marak terjadi di Aceh. Logikanya fenomena keji ini secara sosiologis

Dosa Predator Nyawa
PENYIDIK Satreskrim Polresta Banda Acehmenggelar pra rekonstruksi kasus pembunuhan satu keluarga Tionghoa di Gampong Mulia, Banda Aceh 

Oleh Adnan

AKHIR-AKHIR ini fenomena pembunuhan kembali marak terjadi di Aceh. Logikanya fenomena keji ini secara sosiologis dan agamis tidak boleh terjadi di Aceh, disebabkan penduduknya mayoritas paham agama dan wilayah berbasis Syariat Islam. Tapi, logika ini terbantahkan ketika media massa memberitakan maraknya kasus pembunuhan di Aceh.

Motif pembunuhan pun terkadang hanya disebabkan oleh persoalan sepele, semisal perebutan harta warisan, bercanda berlebihan hingga berujung perkelahian, dan salah paham. Persoalan sepele dan remeh-temeh ini disikapi secara emosional hingga berujung pembunuhan. Nyawa yang begitu dimuliakan, dijaga, dirawat, dan dipelihara dalam agama dipandang murah oleh para predator nyawa (pembunuh).

Konklusi di atas tergambar dari bukti empiris berbagai kasus pembunuhan yang terjadi di Aceh, semisal pembunuhan seorang guru honorer, Juliansyah, di Banda Aceh bermotif utang piutang (Serambi, 9/9/2018); pembunuhan Jazuli bin Ismail oleh selingkuhan isterinya di Aceh Utara beberapa waktu lalu (Serambi, 25/1/2019); pembunuhan M Abas oleh anak kandungnya sendiri di Nagan Raya yang dilatarbelakangi oleh cekcok soal tanah warisan (Serambi, 10/2/2019), dan yang terbaru kasus pembunuhan suami istri pedagang nasi pecal, M Nasir bin Ilyas dan istrinya Roslinda binti Ridwan di kawasan Uleekareng, Banda Aceh (Serambi, 27/2/2019).

Rentetan kasus tersebut di atas menunjukkan bahwa intensitas kasus pembunuhan sangat mengkhawatirkan. Bahkan, para predator nyawa terkadang berasal dari teman dan keluarga dekat, semisal pacar, anak, istri, suami, dan ayah. Ini petunjuk bahwa pembunuhan terjadi bukan saja karena adanya niat, tapi juga adanya kesempatan dan persoalan tanpa solusi.

Padahal, Imam Asy-Syatibi menguraikan (maqashid syari’ah) bahwa Islam hadir ke dunia untuk menjaga agama (ad-din), keturunan (nasab), akal (‘aql), harta (mal), dan jiwa (nafs). Ini menunjukkan bahwa kelima aspek itu (kulliyat al-khamsah) termasuk nyawa merupakan urgen dalam agama. Maka dalam Islam predator nyawa berada pada kedudukan hina, perilaku keji, dan dihukum (‘uqubat) dengan seberat-beratnya.

Sebab, membunuh bukan saja perilaku amoral, tapi juga dapat merusak tatanan kehidupan sosial religius manusia. Jika kasus-kasus pembunuhan tidak dapat dicegah dan diminimalisir, maka kehidupan sosial tak ubahnya laksana rimba raya; siapa yang kuat ia yang menang, masalah bukan diselesaikan dengan otak tapi dengan otot.

Ancaman hukuman
Sebab itu, jika menilik Alquran dan sabda Rasulullah saw secara holistik dan komprehensif, maka ditemukan sejumlah ancaman bagi predator nyawa baik di dunia maupun di akhirat, yaitu: Pertama, dosa besar. Membunuh merupakan sebuah dosa besar dalam Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan. Bertanya para sahabat: wahai Rasulullah, apakah itu? Ia bersabda: Menyekutukan Allah Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari perang yang berkecamuk, menuduh wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan dan beriman berbuat zina, dan berzina.” (HR. Bukhari-Muslim). Maka membunuh merupakan perilaku yang membinasakan di dunia dan akhirat.

Kedua, laksana membunuh seluruh manusia. Dalam Islam membunuh satu orang laksana telah membunuh seluruh manusia di muka bumi. Sebagaimana firman Allah Swt, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Maidah: 32).

Bahkan, membunuh kafir yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin, hidup damai, membayar pajak dan upeti saja, dianggap laksana telah membunuh seluruh manusia. Sesuai pesan profetik, “Barangsiapa membunuh orang kafir mu’ahad, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal baunya didapati dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved