Citizen Reporter

Mengisi Batin dengan Isim Zat di Tanah Haram

BUKAN rahasia lagi, Tanah Haram Mekkah dan Madinah, Arab Saudi, memiliki kelebihan tersendiri dibanding tanah-tanah

Mengisi Batin dengan Isim Zat di Tanah Haram
IST
DR TGK SULFANWANDI MA

OLEH DR TGK SULFANWANDI MA, Pimpinan Dayah Raudhatul Quran, Tungkop, Aceh Besar, dan pembimbing jamaah umrah, melaporkan dari Kota Mekkah, Arab Saudi

BUKAN rahasia lagi, Tanah Haram Mekkah dan Madinah, Arab Saudi, memiliki kelebihan tersendiri dibanding tanah-tanah lain di bumi ini. Tanah Haram Mekkah nilai bandingannya 100.000 kali dan Tanah Haram Madinah 1.000 kali dari tanah lainnya. Tapi, itu semua menjadi hambar bagi umat muslim bila kesempatan berada di kedua Tanah Haram tersebut rusak karena “kosong hati” dari nur tauhid Isim Zat (nama Allah).

Bukan hanya “hambar”, tapi juga menjadi sangat menderita apabila seseorang berada di Tanah Haram tapi tidak bisa merasakan manis dan lezatnya ibadah. Ditambah lagi dengan beban pengeluaran biaya yang begitu besar. Akhirnya, program perjalanan suci itu berubah menjadi sekadar refreshing atau selingan kesibukan hidup. Atau boleh jadi sebagai sarana rekreasi rohani (istilah pembalut tampilan luar saja) tanpa merasakan apa-apa sehingga dapat dipastikan nilai rohani atau batin umat Islam tersebut, kosong.

Hasil amatan saya sebagai salah seorang pembimbing ibadah umrah, selama ini ada orang yang saat berada di depan Kakbah atau ketika berada di depan makam Rasulullah saw bercucuran air mata. Tapi, cukup banyak pula orang yang tidak merasakan apa-apa. Bahkan, tak sedikit pula orang yang sibuk dengan bicara tentang dunia, mengabadikan suasana di sekitar Kakbah dengan kamera/rekaman video, dan berbagai kegiatan yang kurang bermanfaat lainnya sampai tiba masa kembali ke Tanah Air.

Menurut saya, itulah perbedaan yang terjadi antara orang yang hidup dengan qalbu tauhid Isim Zat dengan orang yang kalbunya kosong dari Isim Zat. Maka, wajar saja sekembali ke Tanah Air dari perjalanan melaksanakan ibadah haji atau umrah, tak ada bekas rohani apa pun yang diperoleh orang tersebut. Padahal, bisa mengisi batin dengan Isim Zat di Tanah Haram merupakan ‘oleh-oleh’ yang tak ternilai. Dengan kata lain, perjalanan haji atau umrah itu benar-benar menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan nilai keimanan dan ketakwaan kita kepada Sang Maha Pencipta, Allah Swt.

Hal lain yang harus menjadi perhatian kita semua adalah Kakbah merupakan pusat charger (pengisi ulang atau penambah) keimanan. Kita diwajibkan menghadap ke Kakbah saat melaksanakan shalat, bukan berarti kita menyembah Kakbah atau bukan berarti Allah ada dalam Kakbah. Tapi, kita diperintahkan menyembah Allah dengan menghadap ke Kakbah karena Kakbah merupakan charger keimanan bagi umat Islam.

Bayangkan kita menghadap Kakbah, tapi bukan menyembahnya. Maka, hanya orang-orang yang mendapat makrifah (mengenal Allah) yang mampu merasakan manis tauhid tersebut saat berada di Tanah Haram. Secara zahir, ia terlihat menghadap, rukuk, sujud, dan segala-galanyanya fokus menghadap ke Kakbah. Tapi, secara batin mereka sedang menyerahkan diri kepada Allah. Inilah yang saya maksudkan keimanan bisa dicas ketika kita menghadap Kakbah.

Sebaliknya, orang yang kosong batinnya dari Isim Zat boleh jadi mereka menghadap Kakbah sama dengan menyembah Kakbah. Atau mereka beranggapan Allah ada di dalam Kakbah. Sebab, Kakbah itu disebut juga Baitullah yang artinya ‘Rumah Allah.’ Karena tidak ada makrifah (mengenal Allah) dalam dirinya bahwa Allah tidak terikat dengan tempat, ruang, dan waktu. Jika ini terjadi akibatnya sangat fatal dan berbahaya. Orang tersebut bukan hanya menderita di dunia dan akhirat kelak, tapi bahkan hal itu bisa juga menjadi bencana besar baginya, yaitu hadir di Tanah Haram malah menjadi syirik. Na’uzu billah.

Oleh sebab itulah, pengisian batin dengan Isim Zat saat berada di Tanah Haram, merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap hamba-Nya. Tak hanya sebagai sebuah kewajiban, tapi tindakan itu akan membuat bunga-bunga nur iman terpancar dalam organ tubuh umat Islam. Jadi, wajar sekembalinya ke Tanah Air, ada bekas kekuatan rohani dalam pribadi orang tersebut. Itulah sebenarnya yang diinginkan Allah sebagai ‘oleh-oleh’ yang didapat umat Islam dari Tanah Haram Mekkah dan Madinah. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved