Opini

Meredam Amarah

SEPASANG suami istri (pasutri) Muhammad Nasir dan Roslinda, yang berprofesi sebagai pedagang nasi pecal di Banda Aceh

Meredam Amarah
Serambi Indonesia
Pembunuhan di Ulee Kareng, Suami Istri Pedagang Nasi Pecal Tewas Dibacok Karyawan Sendiri 

Oleh Abd. Halim Mubary

SEPASANG suami istri (pasutri) Muhammad Nasir dan Roslinda, yang berprofesi sebagai pedagang nasi pecal di Banda Aceh, harus meregang nyawa setelah dibunuh secara sadis oleh tersangka pelaku yang tak lain merupakan pekerja pasangan pasutri tersebut pada Selasa (26/2/2019) dini hari. Meskipun pihak kepolisian berhasil menangkap pelaku yang bernama Iskandar, seorang lajang yang sudah bekerja selama empat bulan bersama pasutri itu, namun peristiwa berdarah itu spontan memantik reaksi publik, baik di media sosial, maupun di ruang publik lainnya.

Para netizen banyak yang mengecam dan mengutuk aksi pembunuhan itu, namun ada juga sebagian yang menyalahkan sang majikan karena sesuai dengan keterangan pelaku kepada polisi, ia beralasan karena majikannya itu sering memarahinya. Jika minta uang tidak diberikan. Terlebih lagi, aksi pembunuhan itu telah direncanakan oleh pelaku sendiri sesuai dengan bukti-bukti di lapangan (Serambi, 27/2/2019).

Peristiwa yang nyaris serupa juga pernah menimpa keluarga pasangan suami istri keturunan Tionghoa, Toke Asun, istri, dan seorang anaknya yang ditemukan tewas bersimbah darah dalam rumah toko (ruko) di Gampong Mulia, Banda Aceh, awal 2018 lalu. Sang pelaku, Ridwan, yang juga seorang lajang yang juga bekerja pada keluarga Toke Asun, kemudian dijatuhi hukuman mati oleh PN Banda Aceh. Motifnya juga hampir sama, sakit hati kepada sang majikan lantaran sering dimarahi.

Pudarnya kasih sayang
Siapapun orangnya, pasti memiliki perasaan kesal, jengkel, marah, gemas, dan sakit hati terhadap orang lain. Amarah dan emosi memang sudah merupakan bagian dari salah satu sifat manusia-- sama halnya seperti perasaan senang, sedih, dan gembira. Namun, ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang memendam amarah dan emosi yang berakibat memicu aksi di luar akal sehat.

Contoh ringan saja, saat kita berada di lampu merah, yang durasi waktu lampu hijaunya menyala dalam hitungan dua hingga tiga menit saja, seakan terasa begitu lama. Malah saking kesalnya, ada juga segelintir pengendara yang berani menerobos lampu merah, kendatipun hampir pada setiap persimpangan lampu merah, terpampang tulisan “dilarang menerobos lampu merah”. Orang baru takut menerobos jika ada polisi lalu lintas yang mengawasi di sana.

Artinya, kita masih takut kepada sosok bereragam hukum, ketimbang rasa kepatuhan dan ketaatan kita terhadap peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku. Ketidakpercayaan terhadap perundangan-undangan itu juga, yang membuat banyak sekali orang berlaku permisif terhadap sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan pikirannya. Sehingga rasa suka dan tidak suka hanya ada dalam balutan pikiran seseorang, bukan lagi diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan produk hukum yang berlaku.

Bahkan, tafsir agama seperti yang ada dalam Alquran dan hadis Nabi pun, kerap dikesampingkan. Seolah semua itu hanya dianggap sebagai tekstualitas yang tidak perlu untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga yang terjadi dalam keseharian kita, perilaku reaktif dan tidak sabaran menghadapi sebuah persoalan.

Maka berangkat dari dua kasus di atas, secara serta merta kita dapat menangkap kesan bahwa baik pelaku dan korban kekerasan, tidak dapat mengendalikan diri dalam menghadapi sebuah situasi. Mereka menanggapi suatu hal dengan luapan emosi dan amarah yang meledak-ledak. Seandainya, baik para pelaku dan korban sama-sama dapat mengendalikan diri mereka, maka aksi kekerasan; baik secara verbal dan nonverbal seperti kasus tadi, tidak akan terjadi. Paling tidak, sinergitas relasi atasan-bawahan, bukan sekadar siapa yang kuat dan lemah. Miskin-kaya, majikan-pembantu. Namun lebih dari itu, memelihara keadaban etika dan moral.

Memang asap baru akan muncul jika ada apinya. Munculnya asap kabut di sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini misalnya, pasti ada penyebabnya. Mungkin ada oknum yang sengaja membakar lahan. Atau perokok yang membuang puntungan sembarangan sehingga membakar hutan. Dampak yang ditimbulkannya bukan hanya bagi pribadi sang oknum, namun ribuan orang di sekelilingnya pun juga akan merasakan menderita akibat dari ulah tangan-tangan jahil tadi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved