Citizen Reporter

Cara Negeri Jiran Kelola Sampah

KEDATANGAN saya ke Pulau Pinang, Malaysia, kali ini bersama tujuh mahasiswa lainnya bersama dua dosen pembimbing tidak hanya untuk mengabdi

Cara Negeri Jiran Kelola Sampah
IST
SARAH NATASYA, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Syuah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

SARAH NATASYA, Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Syuah Kuala, Banda Aceh, melaporkan dari Pulau Pinang, Malaysia

KEDATANGAN saya ke Pulau Pinang, Malaysia, kali ini bersama tujuh mahasiswa lainnya bersama dua dosen pembimbing tidak hanya untuk mengabdi kepada masyarakat dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Akan tetapi, sebagai perwakilan Unsyiah, kami juga mengemban amanah untuk mengharumkan nama Aceh, layaknya duta wisata guna memajukan perekonomian dan meningkatkan daya saing pariwisata Aceh.

Sungguh saya merasa spesial dengan adanya program KKN antarnegara ini. Kesempatan yang tak boleh disia-siakan untuk berkontribusi dalam memperkenalkan adat, budaya, bahasa, dan tradisi Aceh. Melalui KKN ini kami dapat melaksanakan berbagai program yang telah kami rancang dan sesuaikan agar bermanfaat bagi masyarakat di Kota Aur, Pulau Pinang. Di sisi lain, kami pun dapat memetik nilai-nilai positif dari kebiasaan baik masyarakat Pulau Pinang, terutama dalam memajukan sektor pendidikannya.

Berada tiga minggu di Kota Aur, kami menempati dua rumah singgah bersama dengan orang tua asuh, sama halnya seperti KKN reguler di Indonesia. Meski mengalami sedikit kesulitan dalam memahami bahasa Melayu yang sebetulnya tak jauh beda dengan bahasa Indonesia, kami tak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Kami pun mulai menggunakan bahasa Melayu campuran. Juga ikut serta dalam berbagai aktivitas warga Kota Aur. Ini sungguh suatu tantangan tersendiri bagi kami untuk memahami ragam budaya Melayu.

Pendeknya, perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang bagi kami untuk dapat berkomunikasi dan menjadi akrab dengan masyarakat setempat maupun orang tua asuh. Sehari setelah tiba di Kota Aur kami juga langsung pergi mengelilingi kota ini menggunakan sepeda yang disewakan kepada kami. Masing-masing mahasiswa KKN mendapat satu sepeda. Selama di sini sepeda menjadi alat transportasi yang bermanfaat bagi kesehatan kami. Kami dibolehkan membawa pulang sepeda ke rumah orang tua asuh agar dapat kami gunakan setiap saat selama berada di Kota Aur.

Tepat di seberang jalan penyelaras rumah singgah terbentang pula sawah yang bagaikan permadani kuning keemasan. Kicau burung gagak makin menyempurnakan suasana rural agraris di Kota Aur. Ya, lahan tanah yang sangat luas memang sangat cocok dijadikan tempat untuk menanam padi. Hampir setiap rumah memiliki petak sawah. Begitu luasnya pepadian yang ditanam di desa ini. Sebelum menyudahi perjalanan, kami pun mengunjungi beberapa rumah warga dan disambut dengan ramah.

Suatu hal yang menarik perhatian saya, di sepanjang jalan yang kami lalui tidak terlihat sampah yang berceceran. Tidak pula saya temukan sampah pada lorong-lorong kecil yang berbatuan. Saya hanya mendapati sampah di tempat pembuangan sampah. Di situ ada sebuah kandang kecil berisikan berbagai macam botol plastik yang sengaja dipisahkan dari jenis sampah lainnya.

Kami pun selalu menyempatkan waktu untuk memilah sampah dan membuang sampah botol plastik di kandang kecil tersebut yang letaknya di bahu jalan. Botol-botol plastik tersebut akan diambil oleh petugas khusus pada hari tertentu, sehingga dapat didaur ulang kembali (recycle). Begitulah pemahaman masyarakat di negeri jiran ini mengenai kebersihan lingkungan, meski mereka tinggal di pedesaan yang tak begitu ramai penduduknya.

Di setiap rumah masyarakat juga terlihat bersih. Masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang sampah. Hal ini terlihat dari adanya tempat sampah khusus yang diletakkan di kamar mandi. Jadi, sampah seperti tisu yang digunakan tidak dibuang ke dalam kloset karena dapat menyumbat saluran air pembuangan.

Ketika kami berkunjung ke Taman Bimbingan Kanak-kanak (Tabika) yang merupakan taman kanak-kanak (TK) negeri, dan Pusat Asuhan Tunas Islam (Pasti) yang merupakan TK swasta, walaupun memiliki sistem belajar yang berbeda, tapi kedua TK yang terdapat di Kota Aur sudah berjalan dengan sangat baik. Terutama masalah kebersihan yang sudah diajarkan sejak dini. Hal menarik yang kami temukan di Tabika adalah ketika pukul 10.00 pagi waktu negeri bagian Pulau Pinang, anak-anak mengakhiri tugasyang diberikan dan mulai berbaris untuk mencuci tangan. Mereka mengambil sebuah celemek tali yang telah diikat dan menggantungkannya pada leher masing-masing. Baru berusia di antara tiga sampai lima tahun, tapi mereka diajarkan untuk bersikap mandiri, mempunyai rasa tanggung jawab dan saling menghargai.

Sejak usia dini mereka telah diajarkan untuk menjaga kebersihan. Setelah selesai makan, mereka berbaris untuk mencuci tangan dan pembelajaran pun kembali dilanjutkan. Hari itu mereka diajarkan mewarnai seekor ayam dan cangkang telurnya. Hasil dari mewarnai tersebut digunting oleh murid-

murid dan ditempelkan pada kertas yang lain. Kertas bekas guntingan yang berserak tidak ditinggalkan begitu saja. Ibu guru mulai bernyanyi dan mengajak murid-muridnya untuk bernyanyi bersama sambil mengutip setiap sampah dan membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan dan mengumpulkan hasil kerja mereka.

Mengamati kegiatan di Tabika , menunjukkan bahwa masalah kebersihan khususnya sampah telah diajarkan kepada anak dengan kedisiplinan yang tinggi. Anak-anak sudah memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sendiri. Salah satu metode yang sangat baik adalah dengan cara membuang sampah ke tempat semestinya sambil bernyanyi. Jadi, anak-anak dengan senang hati melakukannya. Cara ini bisa ditiru untuk diterapkan di kalangan anak-anak PAUD dan TK di Aceh. Bukankah pola pikir dan pola tindak positif sebaiknya dimulai sejak dini?

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved