Harga Pupuk Bersubsidi di Atas HET

Sejumlah pedagang di Aceh Barat Daya (Abdya) disinyalir menjual pupuk bersubsidi tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET)

Harga Pupuk Bersubsidi di Atas HET
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
PEKERJA memuat ratusan ton pupuk bersubsidi jenis NPK Phonska, ZA, SP-36, dan pupuk organik di Gudang Penyangga Lini III PT Petro Kimia Gresik di Blangpidie, Rabu (27/2). 

* Di Kabupaten Aceh Barat Daya

BLANGPIDIE - Sejumlah pedagang di Aceh Barat Daya (Abdya) disinyalir menjual pupuk bersubsidi tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hasil penelusuran Serambi ke sejumlah pedagang pupuk di kawasan Blangpidie dan Susoh, rata-rata mereka menjual pupuk bersubsidi melampaui HET berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 40.000 per sak (isi 50 kilogram).

Salah satu contoh, HET pupuk urea bersubsidi yang berdasarkan Surat Keputusan (SK) Dinas Pertanian dan Pangan Abdya adalah Rp 1.800 per kilogram atau Rp 90.000 per sak. Namun, sejumlah pedagang menjual pupuk bersubsidi itu mencapai Rp 110.000 per sak, bahkan lebih. Begitu juga dengan NPK Phonska yang dijual pedagang dengan harga Rp 130.000 per sak, padahal HET nya sebesar Rp 2.300/Kg atau Rp 115.000 per sak.

Untuk pupuk SP-36, harga HET Rp 2.000/Kg atau Rp 100.000 per sak, namun di beberapa toko dijual dengan harga Rp 110.000 hingga Rp 125.000 per sak. Sedangkan pupuk ZA, HET nya sebesar Rp 1.400 per kilogram atau Rp 70.000 per sak. Tapi, rata-rata pedagang menjual dengan harga Rp 80.000 per sak hingga Rp 100.000 per sak.

Ironisnya, selain harga melampaui HET, pupuk bersubsidi itu juga sulit didapatkan oleh petani. Tak heran, mereka pun sampai harus menunggu dua minggu lebih untuk bisa mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut. “Phonska yang sering langka. Untuk mendapatkan NPK Phonska, kami terpaksa bayar uang dimuka sebesar Rp 130 ribu. Kalau gak, pupuk itu bisa saja dikasih ke orang lain,” ujar salah seorang petani, Gurnawan.

Gurnawan mengaku, dirinya tidak mengetahui HET NPK Phonska. “Gak tahu, sudah hampir dua tahun memang segitu harganya. Tiga tahun yang lalu, mungkin Rp 125.000, gak jauh bedalah. Kalau Rp 115.000 per sak, gak pernah,” sebutnya. Jika benar harga pupuk yang dijual melampaui HET, dia berharap, dinas terkait menegur dan memberikan peringatan kepada pedagang pupuk tersebut.

Akan Ditindak
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kadistanpan) Abdya, drh Nasruddin membenarkan, bahwa pihaknya telah menetapkan HET untuk pupuk bersubsidi. “Iya benar (ada HET). Kita gak tahu akalau ada yang menjual melampaui HET. Akan kita cek kenapa mereka menjual melampaui HET yang ditetapkan,” ujarnya.

Nasruddin menerangkan, pihaknya akan meminta tim agar memantau peredaran pupuk bersubsidi tersebut, sehingga para pedagang tidak menjual di atas HET. “Jika terbukti, maka akan kita tindak dan dapat diberikan sanksi,” tegasnya. Untuk itu, Nasruddin mengimbau, para pedagang tidak bermain-main dan menjual pupuk bersubsidi melampaui HET kepada petani.(c50)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved