Salam

Masyarakat Dambakan Pemilu yang Kondusif

Polisi di Kabupaten Bireuen menangkap empat pria yang diduga mengintimidasi warga terkait dengan kampanye

Masyarakat Dambakan Pemilu yang Kondusif
Tribunnews.com
Ilustrasi 

Polisi di Kabupaten Bireuen menangkap empat pria yang diduga mengintimidasi warga terkait dengan kampanye pemilihan umum legislatif (pileg) dan presiden (pilpres) 2019 sekaligus sebagai terduga pelaku tindak pidana menguasai senjata tajam untuk menakut-nakuti warga.

Sumber-sumber kepada kepolisian melaporkan, keempat tersangka sejak seminggu terakhir mendatangi rumah-rumah timses partai di kawasan Peusangan dan Jangka. Lalu mereka meminta timses tidak lagi berkampanye dan dilarang mengampanyekan calegnya. Keempat tersangka meminta para timses untuk mengampanyekan caleg dan partai tertentu saja. Karena itulah beberapa pihak yang merasa terintimidasi melaporkannya ke polisi hingga kemudian keempat orang itu ditangkap.

Penangkapan ini memngingatkan kita pada masa 12 tahun lalu. Ketika itu, banyak orang secara berani mengintimidasi untuk kepentingan partai atau caleg tertentu. Keadaan ini juga dirasakan warga pada musim Pilkada baik tingkat kabupaten/kota maupun tingkat provinsi. Akan tetapi, musim memaksa kehendak itu kini sudah harus berlalu. Apalagi, menghadapi Pemilu 2019, masyarakat --khususnya calon pemilih-- sudah disiapkan untuk menolak segala upaya yang mencederai demokrasi. Agar pesta dan kegembiraan itu terwujud, semua elemen masyarakat ditantang untuk mewujudkan kondusifitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, kini masyarakat sudah berani menolak ajakan-ajakan yang melanggar aturan Pemilu.

Dan, di pihak lain kita juga mengapresiasi sikap polisi yang cepat membungkam para tersangka pelaku intimidasi warga. Sebab, Pemilu 2019 benar-benar harus mencerminkan pesta demokrasi. Seluruh lapisan masyarakat didorong untuk bergembira melaksanakan kedaulatannya memilih wakil rakyat, serta memilih Presiden periode lima tahun berikutnya tanpa dibayangi rasa takut dan paksaan. Itulah yang disebut sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada hak azasi setiap individu yang memiliki hak memilih.

Para cendikiawan politik mengingatkan, pemungutan suara langsung untuk memilih presiden dan anggota DPR, DPRA, dan DPRK adalah refleksi kedaulatan rakyat. Karenanya dideskripsikan juga sebagai pesta demokrasi. Maka, implementasi kedaulatan rakyat itu harus diwujudkan dalam suasana penuh kegembiraan dan memberi kebebasan seluas-luas bagi setiap pemilih untuk menentukan pilihannya. Tentu saja suasana pesta demokrasi yang menggembirakan itu bisa terlaksana jika semua elemen masyarakat mampu mewujudkan suasana kondusif.

Pesannya adalah beda pilihan tidak boleh merusak kondusifitas yang sejatinya selalu menjadi kebutuhan semua orang. Dan kondusifitas itu, khususnya di Aceh, akan tercipata bila semua orang menghargai perbedaan pilihan, bisa meneruima kekalahan dengan lapang dada, serta bisa menyambut kemenangan tanpa hura-hura dan euforia. Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved