Terus Alami Penyusutan

KONFLIK antara peternak dan petani penggarap kebun di kawasan peternakan di wilayah Uber-Uber dan Blang Paku, Kecamatan Mesidah

Terus Alami  Penyusutan
Bongkahan kayu pinus dilokasi Sawmill (pengelolaan kayu) di Kamapung Uer Tingkem, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, Sabtu (25/11) SERAMBI/MUSLIM ARSANI 

KONFLIK antara peternak dan petani penggarap kebun di kawasan peternakan di wilayah Uber-Uber dan Blang Paku, Kecamatan Mesidah, Bener Meriah, sebenarnya bukanlah hal baru. Konflik telah terjadi sejak lama dan terus berulang.

Kawasan peternakan atau disebut Perueren, ditetapkan pada tahun 1969 berdasarkan Perda Aceh Tengah No. 3/1969. Saat itu total luas lahan mencapai 22.000 hektare (ha). Namun kemudian, lahan tersebut perlahan-lahan digarap oleh masyarakat menjadi areal perkebunan kopi.

Sejak itulah konflik mulai muncul. Sebagian masyarakat bersikeras tetap sebagai pereueren, sehingga muncul saling klaim kegunaan lahan antara peternak dengan pekebun. Para peternak juga mengeluh jika sapi-sapi mereka sering dibacok.

Tahun 2011 dilakukan pemetaan dan diketahui bahwa dari 22.000 hektare kawasan peternakan yang ditetapkan melalui Perda, telah menyusut menjadi 4.166 hektare. Sisa lahan inilah yang kemudian ditetapkan kembali sebagai kawasan peternakan melalui Qanun Nomor 5 tahun 2011. Melalui qanun tersebut, aturan diharapkan bisa ditegakkan, sekaligus akan menjadi kawasan itu sebagai sentra peternakan modern. Tetapi kenyataannya, sampai sekarang, pertikaian antara peternak dan penggarap kebun masih terus terjadi.(yos)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved