Tim Survei Wajib Independen

Masyarakat dari 13 desa di Kecamatan Kaway XVI dan Pante Ceureumen, Aceh Barat meminta tim survei

Tim Survei Wajib Independen
SERAMBI/HERIANTO
WAKIL Ketua I DPRA, Sulaiman Abda didampingi Kadis PUPR Aceh, Fajri meninjau pembangunan proyek Jembatan Limpok, Darussalam, Aceh Besar, Jumat (30/11). 

* Tuntutan Warga 13 Desa
* Soal Jembatan Ulee Raket

MEULABOH - Masyarakat dari 13 desa di Kecamatan Kaway XVI dan Pante Ceureumen, Aceh Barat meminta tim survei dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang turun ke lokasi jembatan Ulee Raket, Sawang Teube, Kaway XVI untuk bersikap independen. Hal ini lantaran penetapan lokasi pembangunan jembatan baru pengganti jembatan rangka baja Ulee Raket yang ambruk memicu polemik antarwarga.

“Kami berharap hasil itu benar-benar independen,” kata Koordinator Warga, Kamaruzzaman kepada Serambi, Jumat (1/3). Kamaruzzaman mengungkapkan, pembangunan kembali jembatan di lokasi semula menjadi harapan dari kalangan masyarakat. Apalagi, ucapnya, Ulee Raket, Sawang Teube yang merupakan lokasi jembatan lama dinilai sudah sangat tepat. “Sebab itu, kami tetap meminta dibangun pada lokasi semula,” tegasnya.

Seperti diberitakan, tim independen dari Unsyiah dilaporkan pada Senin (25/2), turun ke lokasi jembatan rangka baja Ulee Raket, Kecamatan Kaway VI, Aceh Barat. Kedatangan tim yang beranggotakan dua pakar konstruksi jembatan itu untuk memastikan layak tidaknya pembangunan kembali jembatan baru di lokasi semula.

Survei yang dilakukan tim Unsyiah tersebut merupakan lanjutan dari survei yang dilaksanakan tim Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat, beberapa pekan sebelumnya. Hasil survei tim Unsyiah itu nantinya akan dipadukan dengan hasil survei tim PUPR dan akan menjadi dasar dalam penetapan lokasi pembangunan jembatan baru.

Pembangunan jembatan baru pengganti jembatan rangka baja Ulee Raket yang ambruk pada tahun 2018 lalu, memunculkan polemik di tengah masyarakat. Sebab, sebagian warga ingin jembatan baru dibangun di tempat semula. Sedangkan, sebagian lainnya setuju dengan rencana Pemkab Aceh Barat yang akan memindahkan lokasi pembangunan jembatan baru itu ke tempat lain.

Untuk meredam konflik horizontal antarwarga, Kapolres Aceh Barat bersama Dandim 0105 mengadakan pertemuan dengan seluruh keuchik dari Kecamatan Kaway XVI dan Pante Ceureumen. Dalam pertemuan di aula Mapolres itu disepakati dua poin. Poin pertama akan diturunkan tim survei untuk memetakan lokasi yang tepat bagi pembanguna jembatan baru. Sedangkan poin kedua, semua warga dari dua kecamatan tersebut diminta untuk saling menahan diri serta tidak berbuat hal-hal yang dapat membuat memicu kericuhan antarsesama.

Jembatan Lama Masih Difungsikan
Sementara itu, informasi yang diperoleh Serambi, Jumat kemarin, mengungkapkan bahwa hingga saat ini warga setempat masih menggunakan jembatan lama Ulee Raket di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat meski kondisinya miring karena roboh pada November 2018. Hanya saja, jembatan lama itu cuma bisa dilewati pengendara roda dua dan pejalan kaki saja. Abutment jembatan itu sendiri telah diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat 13 desa di Kecamatan Kaway VI dan Pante Ceureumen. Warga sengaja bergotong royong memperbaiki secara darurat jembatan ulee raket agar bisa dilintasi. “Warga lebih memilih melintasi jembatan miring ini karena jalurnya lebih dekat ke Pante Ceureumen dan Kaway VI atau sebaliknya,” ujar Kamaruzzaman, tokoh setempat.(riz)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved