Citizen Reporter

Dakota RI-001 Seulawah Masih Tersimpan di Yangon

PERJALANAN saya ke Myanmar masih dalam kapasitas anggota Tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan

Dakota RI-001 Seulawah Masih Tersimpan di Yangon
IST
T CUT MAHMUD AZIZ MA

OLEH T CUT MAHMUD AZIZ MA, Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, melaporkan dari Yangon, Myanmar

PERJALANAN saya ke Myanmar masih dalam kapasitas anggota Tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI (BPPK Kemlu RI). Dalam tim ini saya dari Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen dan Dr Ichsan dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara tergabung dalam program penelitian bertajuk Pengembangan Kerja Sama Ekonomi dan Konektivitas antara Indonesia, India, dan Myanmar.

Dari India, saya dan Dr Ichsan melanjutkan penelitian ke Myanmar. Dalam perjalanan riset kali ini kami didampingi seorang peneliti junior yang juga fotografer, Eddi Syahputra. Kami berangkat dari Kuala Lumpur, dua jam kemudian tiba di Yangon, Myanmar. Sebelum mendarat di Bandara Internasional Yangon, ada rasa penasaran untuk sesegera mungkin dapat menginjakkan kaki di negara yang “agak tertutup” ini dan menjadi buah bibir dunia karena tragedi Rohingya. Sempat terpikir, mungkin sebagai peneliti kami akan melalui proses pemeriksaan yang ketat. Akhirnya, pesawat pun mendarat mulus di Bandara Internasional Yangon. Waktu menunjukkan pukul 23.30 waktu setempat. Terlihat dari dalam pesawat bangunan bandara yang megah yang kalau diperkirakan sebesar Bandara Internasional Kuala Namu (KNO) Sumatera Utara.

Para penumpang bergegas menuju bandara yang malam itu tak begitu ramai, sebelum menuju ke jalur imigrasi. Kami bertiga mengeluarkan beberapa lembar surat keterangan, salah satunya nota diplomatik. Kami juga berandai-andai tentang beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan apa jawabannya, untuk mengantisipasi mana tahu jika nanti ditanyakan oleh petugas imigrasi, kami harus kompak dengan jawaban yang sama dan tak boleh berbelit-belit.

Ketika berada di depan petugas imigrasi, dengan wajah senyum mereka menyapa kami. Setelah melihat berkas, tak ada pertanyaan yang diajukan, dan paspor pun langsung distempel. Perasaan kami begitu lega. Di luar bandara kami telah ditunggu oleh driver Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon. Dengan wajah senyum, ia bantu mengangkat barang bawaan kami untuk dimasukkan ke dalam mobil. Dalam perjalanan menuju Guest House KBRI kami mengamati suasana malam yang lengang. Ada perasaan bahagia, kami bisa berada di Kota Yangon.

Mendengar nama “Myanmar” maka yang pertama mungkin terlintas di pikiran kita adalah “Rohingya.” Rohingya merupakan salah satu etnis yang menetap di Rakhine State, salah satu dari 14 negara bagian di Myanmar. Kata “Rohingya” begitu mendunia karena telah menjadi isu dan berita dunia. Myanmar dikecam banyak negara karena terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap etnis Rohingya. Atau yang kedua, berita heboh nelayan Aceh yang ditahan di Myanmar yang sekarang sebagian telah dipulangkan ke Aceh. Namun, pada tulisan ini saya tidak membahas kedua permasalahan tersebut.

Myanmar adalah salah satu negara anggota ASEAN yang letaknya berada di sebelah timur Teluk Benggala. Sedangkan di sebelah selatannya, berbatasan dengan perairan Pulau Weh Aceh, Indonesia. Diperkirakan jaraknya dari Pulau Weh sekitar 1.200-an km. Jika ada penerbangan langsung dari Banda Aceh ke Kota Yangon (Rangoon) maka waktu tempuhnya diperkirakan sekitar dua jam saja. Ibu kota Myanmar sebelumnya adalah Yangon, tapi sejak 2005 dipindahkan ke Naypyidaw. Waktu tempuh sekitar empat jam perjalanan darat dari Yangon ke Naypyidaw. Namun, pusat perdagangan dan kedutaan besar negara asing masih berada di Yangon.

Dari apa yang kami amati selama berkeliling Kota Yangon, dapat kami katakan bahwa kota ini terbilang bersih. Kota ini juga nyaman untuk ditempati. Ungkapan beberapa WNI yang telah lama menetap di sini, mereka merasa nyaman tinggal di Yangon. Di kota ini tak ada pencurian dan pencopetan, juga sangat minim kriminalitas. Kalau dompet tertinggal, tak bakal hilang. Mereka mengakui akan kebaikan penduduk Yangon. Senada dengan apa yang diungkapkan seorang pejabat KBRI, selama bertugas dan menetap di Yangon, ia belum pernah melihat orang yang bertengkar atau pun berkelahi. Jika diperhatikan secara fisik, hampir tak ada perbedaan antara orang Indonesia dan orang Myanmar.

Keadaan di Yangon seperti Indonesia di era 80-an. Dalam berlalu lintas, mereka jauh lebih disiplin. Walaupun Yangon, merupakan kota bisnis dan modern, tapi di mana-mana terlihat kaum lelaki dan perempuan mengenakan kain sarung yang mereka sebut longji (dibaca longyi). Kain tersebut dikenakan tanpa jahitan. Pria menggunakannya dengan cara mengikat satu kali di bagian depan, sedangkan untuk perempuan, kainnya digulung dan ujungnya diselip ke pinggang, lalu dilipat. Para pejabat Myanmar yang baru selesai kunjungan ke luar negeri, setiba kembali ke negaranya, di bandara mereka sudah ganti pakaian jas atau pakaian modern dengan pakaian tradisionalnya, pakaian lengan panjang tanpa kerah dan mengenakan longji.

Ada sekitar 500-an WNI yang bekerja di sini, umumnya kalangan ekspatriat. Kehidupan mereka penuh keakraban dengan beberapa kegiatan sosial yang aktif mereka lakukan, seperti pengajian setiap Jumat malam dan kegiatan olahraga di Minggu pagi seperti basket, badminton, atau tenis lapangan. Kegiatan olahraga diakhiri dengan makan siang bersama yang dipusatkan di lapangan olahraga Indonesian International School. Sekolah tersebut satu pekarangan dengan Guest House dan Masjid Al-Muhajirin KBRI.

Jika kita membuka lembaran sejarah, di awal sejarah kemerdekaan Indonesia, Burma (sekarang Myanmar) mengizinkan negaranya dijadikan tempat pangkalan beroperasinya pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang digunakan untuk menyelundupkan senjata, amunisi, dan alat komunikasi untuk dikirim ke Indonesia. Pesawat tersebut merupakan sumbangan rakyat Aceh.

Di samping itu, pada Januari 1949 Pemerintah Burma memberi bantuan peralatan radio yang memungkinkan terjalin komunikasi antara Pemerintah Indonesia di Yogyakarta dan PDRI di Sumatera dengan Perwakilan RI di Rangoon, dan Utusan RI di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada bulan yang sama, tanggal 20 hingga 23 Pemerintah India dengan dukungan Burma berhasil menyelenggarakan Konferensi Inter-Asia di New Delhi khusus membahas dan mengutuk Agresi Militer II Belanda di Indonesia (Waspadaaceh.com 2019, Ihsanuddin 2018, dan Rumintang 2008).

Nah, radio bantuan Pemerintah Burma tersebutkah cikal bakal Radio Rimba Raya? Untuk memastikannya perlu kajian lebih lanjut, karena selama ini ada dua pemahaman yang melatarbelakangi sejarah Radio Rimba Raya. Sedangkan pesawat Dakota RI-001 Seulawah yang ditempatkan di Burma, akhirnya disewa Pemerintah Burma sebagai pesawat angkut pada 1949. Hingga kini pesawat tersebut masih berada di Yangon, disimpan di Defence Services Museum, menjadi bukti sejarah kedekatan hubungan antara Indonesia dan Myanmar (MD 2017). Burma, bersama India adalah negara yang konsisten membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam pertemuan tim peneliti dengan petinggi Myanmar ISIS (terdiri para mantan duta besar, diplomat, dan peneliti atau akademisi) yang merupakan lembaga think tank di bawah Kemenlu Myanmar, mereka mengatakan bahwa Indonesia dan Myanmar memiliki hubungan sejarah dan emosional yang dekat. Setidaknya ada tiga hal yang membuat kita dekat. Pertama, selama ini Indonesia cukup konsisten membantu Myanmar dalam transisi ke arah demokrasi. Kedua, dukungan Pemerintah Burma di awal kemerdekaan Indonesia yang dibuktikan dengan keberadaan Pesawat Dakota RI-001 Seulawah di Yangon. Ketiga, jauh sebelum itu, telah terjalin hubungan dagang rempah-rempah yang dilakukan antara para pedagang Nusantara dan Burma sebelum abad ke-16 Masehi (Laporan BPPK Kemlu RI 2018). Nah, demikianlah hubungan itu telah terjalin. Kini, kita tinggal melanjutkannya, terutama dalam hal-hal yang masih relevan, penting, dan strategis.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved