Haba Dinkes Aceh

Aceh Peringkat Tiga Stunting

Aceh menduduki peringkat tiga nasional untuk angka stunting balita, di bawah Nusa Tenggara Timur (NTT)

Aceh Peringkat Tiga Stunting
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Nova Iriansyah 

* Di Bawah NTT dan Sulbar

BANDA ACEH - Aceh menduduki peringkat tiga nasional untuk angka stunting balita, di bawah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat (sulbar). Untuk menurunkan angka stunting tersebut, ‘Geunting’ pun dideklarasikan. Hal itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sriprahastuti saat menghadiri deklarasi ‘Geunting’ atau ‘Gerakan Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting’ di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Minggu (3/3).

Ia mengatakan, saat ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah bersinergi dalam melaksanakan program pencegahan stunting. Bahkan, anggaran dari APBN juga sangat besar untuk program ini, serta didukung oleh anggaran daerah.

“Peran pemimpin, mulai dari tingkat pusat hingga daerah sangat penting dalam merealisasikan gerakan memerangi stunting. Kampanye cegah stunting tidak akan berjalan dengan baik kalau pemimpin tidak menunjukkan komitmen dan menjalankan kepemimpinannya dengan baik,” ujarnya.

Brian menjelaskan, stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting, bebernya, karena kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.

Saat ini, urainya, pemerintah gencar mengampanyekan gerakan pencegahan dan penanganan stunting. Sebab, prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (balita) Indonesia pada 2018 sebesar 30,8%. “Angka ini berada di atas ambang yang ditetapkan WHO sebesar 20%,” ulasnya.

Selain itu, di Asia Tenggara, Indonesia juga menduduki peringkat kedua setelah Laos. “Penyebab stunting ada banyak hal atau multifaktor. Karena itu, penyelesaiannya pun harus dilakukan secara multisektor. Di sinilah komitmen pemimpin negara harus kuat, yang selanjutnya diteruskan di level pemimpin daerah hingga kabupaten dan kota,” tukas doktor kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia itu.

Secara khusus, Brian memberikan apresiasi karena dalam lima tahun terakhir Pemerintah Aceh mampu menurunkan prevalensi stunting dari 41,5% di 2013 menjadi 37,3% pada 2018. “Itu artinya Pemerintah Aceh menyelamatkan 18 ribu balita dari stunting,” ungkapnya. “Meski demikian, Aceh tetap harus bekerja keras karena saat ini berada di peringkat ketiga prevalensi stunting tertinggi di Indonesia,” tutup Brian.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT bersama perwakilan pemerintah pusat dan 23 kabupaten/kota mendeklarasikan ‘Geunting’ atau ‘Gerakan Upaya Pencegahan dan Penanganan Stunting’ di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, Minggu (3/3). ‘Geunting’ merupakan gerakan khusus di Aceh dengan misi untuk pengentasan stunting.

Sebelumnya, World Health Organizations (WHO) telah memberi peringatan kepada Indonesia atas tingkat stunting atau kekerdilan anak yang cukup tinggi. Aceh menjadi provinsi yang cukup tinggi kasus itu sehingga harus segera memulai aksi pencegahan.

Angka prevalensi stunting pada bayi di bawah dua tahun (baduta) di Aceh cukup tinggi yaitu sebanyak 37,9 persen, sedangkan prevalensi rata-rata nasional sebesar 30,8 persen. Sehingga Pemerintah Aceh langsung membuat pergub tentang stunting dan mendeklarasikan gerakan bersama.

Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah mengatakan, dengan deklarasi ‘Geunting’ dan bersinerginya semua pihak, maka ia menargetkan Aceh mampu menurunkan angka stunting di bawa rata-rata nasional.

“Jika nasional mampu menurunkan 17 persen nanti, maka Aceh harus mampu menurunkan di bawah angka itu. Karena penduduk Aceh lebih sedikit,” ujar Nova.

Menurut Nova, deklarasi ‘Geunting’ itu menunjukkan komitmen semua pihak, mulai dari Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, serta TNI/Polri untuk mengentaskan stunting. Karena, penanganan masalah tersebut sangat berkaitan dengan masa depan bangsa. “Karena saat ini Pemerintah Aceh sudah mengeluarkan pergub, maka ke depan kabupaten/kota ahrus melahirkan perbup atau perwal untuk mensinergikan program pencegahan stunting,” pungkasnya.(mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved