Citizen Reporter

Syariat Islam bukan Hal Aneh di London

UNTUK meningkatkan kualitas dan kapasitas para dai International University of Asmaul Husna (IUAH) Malaysia

Syariat Islam bukan Hal Aneh di London
IST
LOEZIANA UCE

OLEH LOEZIANA UCE, Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, melaporkan dari London, Inggris

UNTUK meningkatkan kualitas dan kapasitas para dai International University of Asmaul Husna (IUAH) Malaysia dalam menjalankan tugasnya, salah satu langkah yang diprioritaskan adalah melakukan Jelajah Dakwah Asmaul Husna. Aktivitas ini direalisasi dengan cara mendatangi tempat-tempat yang dianggap perlu dan relevan.

Untuk agenda awal tahun 2019 ini Jelajah Dakwah Asmaul Husna dilakukan di wilayah Eropa, yaitu Prancis dan Inggris. Alhamdulillah, saya selaku Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan ini. Adapun anggota tim yang berjumlah tujuh orang umumnya berasal dari Malaysia. Hanya saya sendiri dari Indonesia.

Sebenarnya, melakukan perjalanan ke negara-negara di mana masyarakat Islam menjadi kaum minoritas bukanlah perjalanan yang pertama bagi saya. Namun, dalam perjalanan kali ini saya mendapat beberapa pengalaman istimewa sehingga saya merasa patut membagikannya kepada khalayak.

Berbeda dengan perjalanan terdahulu yang tujuan utamanya untuk sekadar berwisata, kali ini adalah perjalanan yang tujuan utamanya untuk dakwah dari satu tempat ke tempat lain di dua negara tersebut, terutama masjid atau islamic center di beberapa wilayah.

Saya memulai Jelajah Dakwah ini pada 4 Februari 2019 dari Banda Aceh menuju Kuala Lumpur. Oleh karena satu dan lain hal, Allah berkehendak tim yang berjumlah tujuh orang ini berangkat secara terpisah. Saya seorang diri berangkat dengan jadwal 36 jam lebih cepat dari teman-teman yang lain.

Dari Bandara Kuala Lumpur, dengan jasa penerbangan Emirates, saya menuju Bandara Internasional London Gatwick dengan terlebih dahulu transit di Bandara Internasional Dubai. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 jam, termasuk waktu transit, pukul 06.40 pagi waktu setempat saya tiba di London Gatwick (LGW) International Airport, di utara Kota London.

Sesampai di London, sebagaimana pengalaman saya sebelumnya dalam mengunjungi negara-negara di mana umat Islam menjadi minoritas, sudah terpatri dalam benak saya bahwa saya akan menghadapi beberapa hambatan umum. Misalnya, mulai dari yang berkaitan dengan penampilan busana muslimah yang saya kenakan, makanan halal, hingga hambatan dalam menunaikan ibadah wajib. Karena itulah sejak jauh-jauh hari saya sudah bersiap-siap mengondisikan diri untuk menjadi “barang langka” yang akan ditatap aneh, sinis, bahkan ditegur keras oleh security setempat karena melaksanakan ibadah spiritual (baca: shalat) di tempat umum (kendati biasanya saya lakukan di pojok-pojok yang agak tersembunyi).

Di luar perkiraaan, ternyata perjalanan saya ke London pada musim dingin kali ini benar-benar surprise karena saya tak mendapatkan hambatan sama sekali. Mereka tidak memedulikan jilbab yang saya pakai. Awalnya saya mengira mungkin karena musim dingin, sehingga tutup kepala menjadi pemandangan lazim. Namun, setelah beberapa hari saya menelusuri Kota London, saya semakin yakin bahwa umat Islam di tempat ini bukanlah barang langka atau pun benda aneh dan tidak dikenal. Hal itu terbukti dengan mudahnya saya dapat menunaikan shalat di tempat umum yang saya anggap layak, seperti di taman-taman, lokasi objek wisata, bandara, stasiun kereta, bahkan di pusat keramaian lainnya.

Biasanya pengalaman yang saya dapatkan pada perjalanan terdahulu ke negara-negara di mana umat Islam menjadi kelompok minoritas, menunaikan shalat di tempat umum bukanlah perkara yang mudah. Kita harus mencari tempat yang jauh dari keramaian dan itu pun terkadang jika diketahui penjaga keamanan tidak diperkenankan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved