Opini

Melawan Intimidasi Pemilu

KASUS intimidasi pemilu yang terjadi di Bireuen dan telah tertangkapnya empat orang yang disangka intimidator

Melawan Intimidasi Pemilu
DOK POLRES BIREUEN
EMPAT pria yang diduga intimidator dalam kampanye pileg dan pilpres sekaligus sebagaiterduga pelaku tindak pidana menguasai senjata tajam untuk tujuan intimidasi ditangkap aparat Polres Bireuen. 

Oleh Marah Halim

KASUS intimidasi pemilu yang terjadi di Bireuen dan telah tertangkapnya empat orang yang disangka intimidator (Serambi, 2/3/2019) tidak bisa disikapi dengan “antena pendek”. Itu bukanlah kriminal biasa yang dianggap selesai dengan tertangkapnya empat intimidator tersebut. Sedikit tinggikan antena untuk bisa menangkap siaran apa yang sesungguhnya sedang berlangsung menjelang hari pencoblosan 17 April 2019.

Di level pusat ada adu istilah lebay “Perang Total” yang dibalas dengan “Jihad Qital”, yang bisa jadi ada korelasinya dengan intimidasi di level grassroot. Apa pun cerita, suara terbanyak adanya bukan di sekeliling Jakarta saja, tapi nun jauh di pelosok-pelosok desa, di balik gunung, di lorong-lorong kota, karena rakyat yang berdaulat kebanyakan ada di sana.

Teoritisnya, sebodoh apa pun orang tidak akan mau melakukan sesuatu yang sensitif dan riskan di tengah situasi yang rentan bergejolak tanpa ada kompensasi yang setimpal. Menggiring publik pada calon atau partai tertentu bukanlah perilaku biasa dalam situasi seperti sekarang ini. Yang menjadi teka-teki adalah siapa dan partai apa yang melakukannya. Kita bisa saja berasumsi jika cara-cara itu bukan saja dilakukan di Aceh, tetapi bisa jadi untuk seluruh daerah, bisa dibayangkan berapa sumber daya dan dana yang dibutuhkan untuk operatifnya agenda itu.

Kapitalisme politik
Pemilu langsung dengan pola OMOV (one man one vote) yang konon merupakan praktik demokrasi yang paling sahih saat ini sesungguhnya adalah biang dari semua praktik kotor di pemilu, termasuk intimidasi. OMOV yang kini menjadi tafsiran tunggal demokrasi yang dimainstreamkan oleh negara-negara Barat adalah anak kandung dari ideologi kapitalisme dari perkawinannya dengan politik.

Dalam masyarakat Barat, kapitalisme adalah spirit segala bentuk interaksi manusia; politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, lingkungan hidup dan sebagainya. Siapapun yang punya kapital bisa menguasai sumber daya secara tak terbatas, prinsip yang pada gilirannya mendorong gagasan bagaimana melanggengkan dan melipatgandakan penguasaan sumber daya, sehingga kesimpulannya harus “mengawinpaksakan” politik dan ekonomi.

Dalam ideologi Kapitalisme, merebut politik adalah keniscyaan karena kekuasaan politik akan menjamin penguasaan sumber-sumber pengaturan ekonomi yang semuanya ada di tangan politik. Karena itu tidaklah mengherankan jika semua pengusaha sukses negeri ini berlomba-lomba menjadi pengurus partai atau bahkan membuat partai sendiri sebagai cara bypass untuk langsung berada di puncak kepengurusan tanpa proses yang panjang. Kapital jadi ukuran posisi dalam struktur partai. Jadinya, kekuatan ekonomi dijadikan modal untuk merebut kekuasaan politik.Contoh paling anyar adalah bagaimana Donald Trump dengan modal gigantik-nya terkatrol ke puncak kekuasaan, sekaligus menegaskan betapa mendalamnya spirit kapitalisme dalam masyarakat Barat, khususnya AS.

Secara psikologis, jika bukan karena spirit dan motivasi, power is money and money is power, maka untuk apa pengusaha-pengusaha sukses dan mapan terjun langsung untuk menguasai politik; motivasi untuk mendapat lebih atau untuk mempertahankan apa yang ada saat ini. Dengan sistem ekonomi liberal-kapitalistik, tidak ada larangan dan batasan bagi yang punya kapital untuk merambah ekonomi dari hulu hingga hilir sektor-sektor bisnis yang menjadi hajat hidup orang banyak; sektor komunikasi, perbankan dan asuransi, transportasi, retail, energi, industri berat, real estate, olahraga, dan sebagainya. Karena itulah, demi untuk mengamankan kepentingan ekonominya, mengamankan kekuasaan politik adalah keniscayaan dan merupakan bagian dari investasi itu sendiri.

Praktik politik pun jadinya tidak lepas dari cara-cara investor. Tebar umpan sebanyak-banyaknya adalah buah pikiran politik kapitalistik, idenya sederhana semakin banyak meraup suara maka semakin berpeluang untuk menjadi pemenang, karena itu tebarlah umpan dengan berbagai cara. Kalau memilih jalan lurus, idealnya untuk meraup suara adalah mempengaruhi pemilih melalui visi dan misi. Dengan begitu pemilih akan bebas memilih siapa yang dianggap mewakili aspirasinya. Tapi demokrasi ala OMOV adalah all about vote, semua tentang dan demi suara; satu suatu begitu berharga. Kita harus berani menyatakan cara ini bukanlah tafsiran ideal dari demokrasi, ini adakah jalan pintas yang dianggap pantas.

Jadi, semua bentuk praktik kotor seperti intimidasi jika ditelusuri dengan benar, besar kemungkinan akan sampai ke hulunya dimana ada kepentingan pemodal besar yang tidak ingin peta kekuasaan bergeser jauh dari telunjuknya sehingga berbagai cara dari halus dan kasar terus dilancarkan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved