Opini

Stop ‘Bullying’ di Sekolah

BERITA di Harian Serambi Indonesia (Jumat, 1/3/2019) mengenai penemuan mayat seorang siswa Sekolah Usaha

Stop ‘Bullying’ di Sekolah
IST

Oleh Faizatul Husna

BERITA di Harian Serambi Indonesia (Jumat, 1/3/2019) mengenai penemuan mayat seorang siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Aceh Besar, membuat kita tercengang dan mengusap dada. Lebih miris lagi, sebab kekerasan yang berujung kematian tersebut dilakukan oleh senior --yang notabene adalah pelajar-- di lingkungan sekolah. Cita-cita korban serta keluarga untuk mengenyam pendidikan terbaik pupuslah sudah. Sayangnya, kasus semacam ini bukanlah kejadian pertama di Indonesia.

Jika kita ikuti, kasus kekerasan di sekolah selalu menjadi peristiwa yang tidak ada habisnya. Bukannya berkurang, angka kekerasan justru terus merangkak naik. Sangat mudah menemukan berita-berita terkait kasus kekerasan di dunia pendidikan Indonesia.

Data teranyar yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), setidaknya ada lebih dari 161 kasus kekerasan yang terjadi per 2018. Sementara kekerasan dan bullying dengan melibatkan anak sebagai pelaku tercatat sebanyak 41 kasus. Tentu saja angka tersebut masih mungkin terus bertambah mengingat banyak kejadian kekerasan dan bullying yang luput dari pantauan.

‘Bullying’ di sekolah
Jika merujuk pada laporan riset oleh American Educational Research Association 2013, kekerasan di sekolah (school violence) dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain yang terjadi di lingkungan sekolah. Satu bentuk kekerasan yang kerap terjadi di sekolah adalah bullying atau perundungan. Sementara yang terparah adalah kekerasan dengan menggunakan senjata atau senjata tajam yang tentu saja berakibat lebih fatal bagi si korban.

National Centre Against Bullying mengklasifikasikan jenis bullying dalam beberapa tipe, yaitu physical, verbal, social, dan cyber. Physical bullying (bullying secara fisik) mencakup pukulan, tendangan, cubitan, dorongan ataupun perusakan barang milik korban yang akibatnya akan dirasakan baik dalam jangka waktu yang singkat maupun jangka waktu yang lama.

Sementara bentuk bullying secara verbal bisa berupa ejekan, intimidasi, menyindir, menggoda, dan ucapan-ucapan lainnya yang menyakiti korban. Jika bullying secara fisik dan verbal dapat dirasakan dan terlihat secara nyata, maka bullying secara sosial (social bullying) bisa jadi sebaliknya, alias tersembunyi dan samar.

Tujuan social bullying ini adalah untuk menjatuhkan reputasi seseorang dimata orang lain dan berujung pada penghinaan. Misalnya dengan menyebarkan rumor tentang seseorang, bercanda dengan tujuan menghina, dan mengajak orang lain untuk menjauhi seseorang. Bentuk yang terakhir adalah cyber bullying yang melibatkan teknologi digital, seperti handphone dan komputer dan software yang diinstal di dalamnya yakni media sosial (facebook, instagram), dan platform online lainnya. Bentuk bullying ini bisa berupa ejekan dan komentar pedas, gambar atau video yang melukai perasaan, menggunakan akun orang lain untuk masuk, menyebarkan gosip secara online dan lain-lain.

Jika menengok tipe-tipe bullying di atas, maka bullying, baik disadari maupun tidak, sangat bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Sayangnya, pada jenis bullying tersembunyi, si pelaku sendiri seringkali tidak menyadari bahwa ia sudah melakukan bullying yang berdampak buruk --setidaknya secara psikis-- terhadap orang lain.

Pengawasan orang tua
Tidak mudah menjawab secara gamblang siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya tindak kekerasan dan bullying di lingkup pendidikan formal. Benar bahwa secara kasat mata kesalahan terletak pada si pelaku bullying, meskipun masih dalam usia belia yang seharusnya fokus menimba ilmu. Namun yang perlu diingat, pengawasan orang yang lebih tua baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah sangat berpengaruh dalam pencegahan tindakan bullying.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved