Opini

Beda Pendapat, Jaga Ukhuwah Islamiyah

RASULULLAH saw membuat gambaran tentang indahnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dengan perumpamaan

Beda Pendapat, Jaga Ukhuwah Islamiyah
Mustafa Husein Woyla
Alumni Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Lamno, mengikuti pengajian Tauhid di Balee Lhok Pawoh, pimpinan Tgk Heru Saputra, di Lambaro, Ingin Jaya, Aceh Besar 

Oleh Marhamah

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan kasih-mengasihi seperti tubuh, jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka seluruhnya akan tidak bisa tidur dan demam.” (Muttafaqun `Alaih)

RASULULLAH saw membuat gambaran tentang indahnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dengan perumpamaan seperti satu tubuh. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, bahkan menjadi ruh iman yang kuat. Itu sebabnya ketika Rasul saw hijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan adalah mempererat ikatan persaudaraan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Ikatan persaudaraan ini menggantikan ikatan-ikatan materi, kepentingan individu, dan ambisi pribadi, sehingga yang ada seorang muslim mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa Islam memberantas gejala-gejala egoisme dan mental mementingkan diri sendiri.

Pada hakikatnya persaudaraan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, karena dengan persaudaraan interaksi sosial di masyarakat aman, lancar, dan nyaman Kondisi seperti ini yang dicita-citakan Islam sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, Islam menghendaki agar manusia bersatu dalam kebersamaan, dan saling menolong.

Ukhuwah Islamiyah memang mudah untuk diucapkan, tetapi ternyata sulit aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini menjadi tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam sepanjang sejarah, yaitu sulitnya membangun ukhuwah Islamiyah. Kesulitan ini terletak pada fakta sering kandasnya ajaran Islam yang berhadapan dengan kepentingan dan egoisme. Akan tetapi menjadi kewajiban setiap Muslim untuk mewujudkan Ukhuwah Islamiyah. Meskipun tidak ada pakta tertulis, namun segala hal yang dapat merusak ukhuwah Islamiyah harus dijauhi.

Satu faktor yang dapat merusak ukhuwah adalah perbedaan pendapat atau pandangan. Padahal, menghadapi perbedaan pendapat tidak semestinya membuat persaudaraan rusak, jika tetap berusaha empati memahami cara pandang yang berbeda. Komitmen terhadap ukhuwah Islamiyah dicontohkan oleh para sahabat Nabi, mereka saling mencintai, mengasihi, menolong, dan menghormati. Meskipun terkadang mereka berbeda pendapat, namun hal itu tidak membuat mereka saling benci, apalagi menyesatkan orang lain. Mereka tetap berlapang dada dan menghormati perbedaan pendapat tersebut.

Ukhuwah Islamiyah dan persatuan senantiasa dijaga dan menjadi prioritas. Inilah sikap yang diajarkan oleh Rasul Saw kepada para sahabat sehingga umat Islam menjadi kuat dan berjaya pada masa itu. Hal ini didasari oleh penegasan Allah Swt, “Sesungguhnya kaum muslimin itu bersaudara, karena damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin menyiratkan makna penguatan ukuhuwah Islamiyah. Karena rahmatan lil ‘alamin yang memberikan kebaikan dan rahmat untuk seluruh alam, hanya akan terwujud dengan ukhuwah Islamiyah yang kuat. Begitu pentingnya ukhuwah Islamiyah ini, sehingga sering didapati pesan Nabi tentang aplikasi nilai ukhuwah disanding dengan kesempurnaan iman seseorang. Lebih dari itu, keluhuran nilai ukhuwah Islamiyah tidak hanya sekadar imbauan, tetapi ia merupakan perintah yang mesti ditaati. Pelanggaran terhadap nilai-nilai ukhuwah berdampak pada siksa dan murka Allah.

Nilai inklusif
Persaudaraan dalam perspektif Islam mengandung nilai inklusif. Nilai ini memandang bahwa kebenaran yang dianut oleh suatu kelompok, juga dianut oleh kelompok lain. Dengan kata lain, nilai ini mengakui terhadap adanya pluralisme, adanya keberagaman dalam suatu kelompok dengan menumbuhkan prinsip inklusivitas yang bermuara pada kesadaran terhadap berbagai keragaman yang ada.

Untuk mengaplikasikan nilai tersebut, perlu mendahulukan dialog, yaitu memahami perbedaan tanpa merugikan masing-masing pihak. Hasil dari mendahulukan dialog ini adalah hubungan erat, saling memahami, saling menghargai, saling percaya, dan tolong menolong. Sehingga akan memunculkan paradigma memandang seseorang atau kelompok lain pada sisi positifnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved