Gadis yang Ditabrak Bandar Sabu Meninggal

Riska Syahputri (16), pengendara sepeda motor (sepmor) yang ditabrak bandar narkoba di Dusun Beringin

Gadis yang Ditabrak Bandar Sabu Meninggal
SERAMBI/RAHMAD WIGUNA
JENAZAH Riska Syahputri tiba di rumah orang tuanya di Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, Rabu (13/3)sore. 

KUALASIMPANG - Riska Syahputri (16), pengendara sepeda motor (sepmor) yang ditabrak bandar narkoba di Dusun Beringin, Kampung Alur Cucur, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, meninggal dalam perawatan di rumah sakit di Medan, Rabu (13/3). Gadis itu menderita luka parah setelah tubuhnya terpental ke aspal dan menghantam tembok sekolah.

Riska mengembuskan napas terakhir sekira pukul 10.00 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari. Sekira pukul 15.50 WIB, jenazah korban tiba di rumah orang tuanya di Rantau, Aceh Tamiang, menggunakan ambulans. Sebelum dirujuk ke Medan, anak kedua dari tiga bersaudara buah pernikahan Syafrian (40) dan Dede ini sempat dirawat di RSU Pertamina Rantau, Aceh Tamiang dan RSUD Aceh Tamiang.

Riska bersama adiknya, Rasyah Safrian (12) menjadi korban kecelakaan lalu lintas ketika polisi memburu dua terduga bandar narkoba di Rantau, Aceh Tamiang, Senin (11/3) malam lalu. Sepeda motor yang dikendarai Riska terpental ke aspal setelah dihantam sedan pelaku yang melaju kencang menghindari kejaran polisi.

Hantaman itu membuat Riska dan Rasyah terjatuh. Nahas bagi Riska, tubuhnya terseret hingga menghantam tembok gedung sekolah. Nasib Rasyah sedikit beruntung, karena luka yang dideritanya tidak begitu parah. Yang disesalkan warga, ketika itu petugas maupun warga terlalu fokus memburu pelaku sehingga keberadaan Riska agak luput dari perhatian.

“Setelah adiknya (Rasyah) menjerit minta tolong, baru orang-orang menolong Riska,” kata Datok Penghulu Rantau Pauh, Siti Adnin.

Sebelum insiden maut ini terjadi, firasat tidak enak sudah dirasakan ibunya. Bahkan Dede sempat mengingatkan Riska agar malam itu tidak ke luar rumah karena kondisi sedang mati lampu.

“Mamaknya bilang nanti ketabrak, karena gelap mati lampu. Tapi Riska bilang kalau memang ajalnya sampai, ya di mana saja pun mati,” kata Siti menirukan penggalan komunikasi terakhir Riska dengan ibunya.

Hal yang tidak diinginkan ini terjadi ketika kakak beradik ini melaju ke arah pulang. Keduanya dikejutkan suara letusan dari arah belakang. Sang adik mengira letusan itu suara petasan dan meminta kakaknya menghindar dengan cara menambah kecepatan. Dalam hitungan detik, suara letusan itu disusul dengan raungan mobil melaju kencang yang juga berasal dari arah belakang mereka.

“Mereka diserempet, karena disenggol bagian samping. Tapi karena kencang, ya tercampak jugalah,” lanjut Siti.

Warga lain yang menyaksikan kejadian itu menambahkan, seusai menyenggol sepeda motor korban, mobil tersebut langsung tak terkendali hingga kemudian menabrak pohon. “Ban mobil sudah pecah, tinggal pelek. Jadi keluar percikan api,” kata seorang warga.

Keluarga maupun masyarakat memandang Riska anak baik dan ramah. Setiap sore atau selepas magrib, dia memiliki kebiasaan jalan-jalan mengendarai sepmor bersama Rasya. “Kalau tidak ke lapangan badminton, ya mereka jajan. Biasanya siomay atau bakso,” tutur warga lainnya.

Kepergiannya ini juga meninggalkan duka bagi teman-teman sekelasnya. Di mata mereka, Riska adalah gadis ceria dan disenangi teman-temannya. “Kepedulian sosial tinggi sekali. Setiap ada kawan yang sakit, selalu dia yang pertama mengajak jenguk,” kata Ikbal, salah satu teman sekelasnya. (mad)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved