Bocah Subulussalam Alami Gizi Buruk

Pianto Syahputra Laia bocah laki-laki berusia 1,8 tahun atau 21 bulan, warga Desa Penuntungan

Bocah Subulussalam Alami Gizi Buruk
IST
PIANTO Syahputra (1,8), bocah penderita gizi buruk, asal Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan, Subulussalam terkulai lemas tak berdaya RSUZA, Banda Aceh, Rabu (13/3).

SUBULUSSALAM - Pianto Syahputra Laia bocah laki-laki berusia 1,8 tahun atau 21 bulan, warga Desa Penuntungan, Kecamatan Penanggalan Kota, Subulussalam hanya dapat terkulai lemas tak berdaya akibat menderita penyakit gizi buruk. Sebab, tubuh bocah anak pasangan Fanotona La’ia (34) dengan Jernih Ndruru (29) itu semakin ceking, seperti tinggal kulit dengan perut membusung.

Meski sejak beberapa hari ini sudah dirawat di ruang IGD Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, kondisi Pianto sungguh memprihatinkan. Dia hanya mampu terkulai lemas di atas kasur dengan mata menatap kosong dan napas tersengal akibat penyakit yang menggelayut di tubuhnya. Jarum infus menusuk tubuhnya dan pernafasan menggunakan alat bantu. “Kasihan sekali, semoga banyak tergerak membantu pengobatan adik ini,” ujar Alkausarni alias Ican, pegiat Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Kota Subulussalam kepada Serambi, Rabu (13/3).

Berat badan Pianto juga jauh dari normal, yakni hanya 3,9 kilogram. Perutnya membusung sehingga terlihat jelas tulang rusuknya. Tak ada senyum di wajah Pianto kecuali tatapan kosong dari bola matanya yang berkaca-kaca. Bocah ini seperti ingin berteriak, tapi tak keluar suara kecuali sebatas erangan karena menahan sakit.

Menurut Alkausarni, setelah mengetahui informasi penderitaan Pianto, pihaknya langsung bergerak untuk mendampingi proses pengobatan bocah malang itu. Dari keterangan sang ibu, Pianto menderita gizi buruk setelah diawali diare berkelanjutan saat usianya masih tiga bulan. Kala itu, Jernih dan suaminya Fanetona Laia membawa Pianto ke RSUD Subulussalam. Dokter mendiagnosa balita itu mengalami gizi buruk. Setelah dirawat seminggu, kondisi Pianto berangsur membaik.

Tapi, penyakit itu kembali mendera tubuh Pianto. Ia pun kembali dibawa berobat ke RSUD Subulussalam. “Waktu itu, berat badannya hanya 5 kilogram. Kondisinya semakin parah. Hari kedua berat badannya turun drastis menjadi 2,5 kilogram. Namun, di hari ketiga naik lagi menjadi 4 kilogram,” terang Alkausarni.

Akibat penyakit gizi buruk yang dideritanya mulai menyebabkan komplikasi penyakit lain. Kata dokter, Pianto juga terindikasi mengalami anemia dan kesehatan jantungnya turut terganggu. Sehingga Pianto diharuskan rujuk ke RSUZA atau rumah sakit di Medan, Sumatera Utara.

“Kedua orangtua Pianto sempat kebingungan bagaimana harus membawa anaknya ke rumah sakit provinsi di Banda Aceh. Karena Kondisi ekonomi mereka tergolong sangat sulit. Sebab, keseharian orangtua Pianto hanyalah buruh kasar yakni tukang babat di salah satu perusahaan perkebunan di Subulussalam,” paparnya.

Melihat kondisi ini, Global Zakat melalui MRI Subulussalam akhirnya menyalurkan bantuan untuk membawa sang balita malang ini berobat ke Banda Aceh serta menanggung biaya hidup di sana. Namun demikian, ucap Alkausarni, keluarga kecil itu masih sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan untuk memenuhi biaya hidup selama pengobatan Pianto.

Berdasarkan catatan Serambi, Pianto bukanlah bocah pertama di Subulussalam didera penyakit gizi buruk. Beberapa tahun lalu, juga terdapat anak di Desa Jabi-Jabi, Kecamatan Sultan Daulat yang menderita gizi buruk sejak balita. Untuk Pianto sendiri, ACT Cabang Aceh berupaya meringankan beban balita malang itu melalui kampanye di laman kitabisa.com.(khalidin)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved