Citizen Reporter

Kejujuran ala Okinawa

TAHUN ini saya diberi kesempatan menginjakkan kaki pertama kali di Negeri Sakura guna memaparkan hasil penelitian

Kejujuran ala Okinawa
IST
DR KAHLIL MUCHTAR

OLEH DR KAHLIL MUCHTAR, Dosen Prodi Teknik Komputer, Universitas Syiah Kuala dan Peneliti Kecerdasan Buatan, melaporkan dari Okinawa, Jepang

TAHUN ini saya diberi kesempatan menginjakkan kaki pertama kali di Negeri Sakura guna memaparkan hasil penelitian kami di Konferensi Internasional ICAIIC (International Conference on AI in Information and Communication). Tema yang kami angkat dalam seminar kali ini adalah pemanfaatan teknologi kota pintar (smart city) yang efisien dan akurat.

Seminar ini diadakan di Okinawa, kota kecil sarat sejarah, bersih, dan modern di Jepang. Saya merasa beruntung karena pernah tinggal tujuh tahun di Taiwan yang secara kultur dan infrastruktur kota tidak jauh beda dengan Okinawa. Jarak dari Taipei ke Okinawa hanya 1,5 jam menggunakan pesawat, tidak jauh berbeda dengan jarak antara Banda Aceh dan Kuala Lumpur. Salah satu perbedaan yang cukup mencolok hanyalah frekuensi kendaraan roda dua di jalanan yang bisa dihitung dengan jari. Sebaliknya di Taiwan, para pengendara roda dua sangat dominan di jalan raya.

Selama tiga hari di Okinawa saya mendapatkan pelajaran penting tentang kejujuran yang diterapkan di fasilitas publik. Yang pertama adalah keunikan penginapan saya selama di Okinawa, yaitu Mr Kinjo Hotel. Hotel yang sangat minimalis baik dari desain interior dan layanannya. Fasilitas kamar terbilang sangat lengkap, dari kulkas, kompor, pemanas air hingga mesin cuci. Yang paling unik adalah pegawai front desk hotel ini hanya bekerja dari pukul 3 sore hingga 12 malam sehingga para tamu yang akan keluar (check out) hotel di luar jam tersebut cukup meletakkan kunci kamar di sebuah kotak kecil di depan lift tanpa perlu melapor lagi. Bagi saya ini adalah pengalaman unik bagaimana kejujuran dikedepankan dan aplikatif. Dari pengalaman ini saya kagum dengan pengelolaan Negeri Matahari Terbit di saat perubahan demografi menjadi masalah besar bagi negara ini. Seperti yang kita ketahui bahwa populasi masyarakat Jepang semakin menua dan kelompok muda-mudinya menyusut.

Yang kedua adalah sistem transportasi yang menggabungkan teknologi canggih dan kejujuran. Selama di Okinawa saya memilih menggunakan bus dari penginapan ke tempat seminar. Walau waktu yang ditempuh cukup lama (sekitar 30 menit), tapi saya sangat menikmati sarana ini karena sangat bersahabat bagi turis asing seperti saya dan waktu kedatangan bus yang sangat disiplin. Bus dilengkapi dengan notifikasi suara dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jepang, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris sehingga para penumpang bisa dipastikan tidak akan tersesat atau salah turun karena notifikasi ini akan terus berulang jika bus mendekati salah satu pemberhentian.

Yang menarik lagi, kalau kita membayar secara tunai, maka cukup menyiapkan ongkos sesuai tarif yang telah ditetapkan dan memasukkannya ke dalam satu kotak di samping sopir. Tidak ada pengecekan dari sopir apakah penumpang memasukkan ongkos yang sesuai atau tidak. Saya meyakini kejujuran telah menjadi budaya yang tidak tertulis di kota kecil ini. Semoga dua kisah kejujuran ala Okinawa ini menginspirasi kita di Aceh dalam berinteraksi secara sosial dan memastikan kejujuran bisa aplikatif di segala bidang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved