Opini

‘La Yaskhar Qaumun’

AYAT di atas merupakan pesan moral yang difirmankan Allah Swt agar manusia senantiasa menjaga lisan

‘La Yaskhar Qaumun’
Twitter/Sekretariat Kabinet
Tgk. H. Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) dan puluhan ulama Aceh bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/3/2019). 

Oleh Syamsul Bahri

“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)...” (QS. Al-Hujurat: 13)

AYAT di atas merupakan pesan moral yang difirmankan Allah Swt agar manusia senantiasa menjaga lisan, perbuatan, dan tingkah laku dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. La yaskhar qaumun (janganlah mengolok suatu kaum), penting diketengahkan dalam tulisan ini, mengingat dalam beberapa waktu kita dipersibukkan oleh keadaan politik di Tanah Air, yang mana suatu kelompok yang mendukung masing-masing pasangan calon (paslon) merasa lebih baik dari pendukung paslon lainnya. Sehingga kampanye hitam banyak dilakukan, hoaks (berita bohong) dibuat, menghina kelompok lain dan memuja-muji kelompok sendiri, seakan-akan yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah.

Kemudian minggu lalu kita juga sibuk memperdebatkan istilah non-muslim kepada orang yang berbeda agama dengan kita. Dalam artian tidak diperbolehkan menyebut kafir kepada non-muslim dalam kehidupan sosial bermasyarakat, sebagaimana disinggung dalam Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama pada 27 Februari-1 Maret 2019 di Jawa Barat. Kasus inipun berbuntut panjang, berseliweran di media sosial seperti facebook, twitter, youtube, dan lain sebagainya. Isi postingan netizen terkadang di luar konteks, di antara mereka ada membuat meme dengan berbagai macam, di samping menggoreng isu ini untuk kepentingan politik pilpres. Di sini, ada sebagian kelompok menuduh dan mendiskreditkan organisasi NU telah melakukan penyimpangan.

Ada kasus lain yang juga heboh di masyarakat Aceh, yaitu ketika beberapa ulama Aceh diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara (5 Maret 2019). Dalam pertemuan tersebut sebagaimana kita baca di media, Jokowi mengharapkan bantuan ulama Aceh untuk menangkal kabar hoaks. Akan tetapi isu yang berkembang menyebutkan kalau ulama-ulama tersebut memberi dukungan kepada Paslon 01. Isu ini sebenarnya bukanlah persoalan, karena kalau seorang ulama mendukung suatu paslon, itu adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam dan juga hal biasa dalam perpolitikan di Aceh. Yang patut dipersoalkan adalah ketika sebagian orang mengolok ulama-ulama tersebut dengan ungkapan dan sindiran-sindiran yang tidak bagus.

Masih terjadi
Kalau kita ungkit berbagai kasus yang terjadi belakangan ini, atas dasar hoaks, penghinaan, fitnah, mungkin cukup banyak dan masih saja terjadi sampai hari ini. Sebenarnya hampir setiap masuk musim Pemilu masyarakat selalu dipersibukkan dengan kampanye, terutama dilakukan di media sosial. Meskipun kita bukan seorang politikus, bukan seorang juru kampanye, bukan bagian dari tim pemenangan, akan tetapi kita aktif meng-update atau memposting status bahwa paslon kita lebih bagus dengan cara menjelekkan paslon lain.

La yaskhar qaumun kata Allah Swt dalam ayat di atas, adalah perintah tegas agar suatu kelompok tidak memperolok kelompok lain. Al-Maraghi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kata al-sukhriyah (yaskhar) dalam ayat tersebut berarti mengolok-olok, menyebut-nyebut aib dan kekurangan-kekurangan orang lain dengan cara menimbulkan tawa. Orang mengatakan sakhara bihi dan sakhara minhu (mengolok-olokkan), dahika bihi dan dahika minhu (menertawakan), serta hizi’a bihi dan hazi’a minhu (mengejek). Adapun isim masdar-nya (infinitif) adalah al-sukhriyah dan sikhriyah (huruf sin di-dhammah-kan atau di-kasrah). Dalam Kamus Bahasa Arab Al-Munawwir, al-sukhriyah sama dengan al-huzu’u, yang artinya olok-olok atau ejekan.

Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah menyebutkan pernyataan hampir serupa, kata yaskhar/memperolok-olok yaitu, menyebut kekurangan pihak lain dengan tujuan menertawakan yang bersangkutan, baik dengan ucapan, perbuatan, dan tingkah laku. Atau ringkasnya, sebagaimana disebutkan dalam tafsir Jalalain, sebagai perilaku merendahkan dan menghina pada suatu kaum.

Penjelasan di atas dapat dipahami bahwa pergaulan antarsesama manusia (orang beriman) itu memiliki aturan yang sangat jelas dan mendetail. Mungkin banyak orang tidak memersoalkan masalah pengolok-olokan atau penghinaan ini, sebagian lain menganggapnya perkara kecil yang tidak perlu dibahas panjang dan banyak. Inilah keagungan Alquran yang memersoalkan dan menjelaskan satu kata agar dipahami oleh pemeluk agama.

Bukankah orang rela membunuh karena namanya dilecehkan? Bukankah seorang pemimpin rela membunuh orang lain ketika martabatnya dihina? Bukankah sebuah negara akan memerangi negara lain yang menginjak-injak simbol bendera dan lambang negaranya? Dan, bukankah orang rela mati (bunuh diri) karena nabi dan kitab sucinya dilecehkan? Hal ini menandakan la yaskhar, kata Allah dalam Alquran itu bermakna sangat mendalam, dan tentunya bermanfaat sekali jika diamalkan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved