Balai Bahasa Aceh

Nasionalisasi Kata-kata Basa Singkil Dalam Ucapan dan Tulisan

penyerapan kosakata Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Singkil bukan hanya untuk kata yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Singkil,

Nasionalisasi Kata-kata Basa Singkil Dalam Ucapan dan Tulisan
DOK SERAMBI INDONESIA
Medoal, alat musik tradisional asal Aceh Singkil yang terbuat dari kayu pohon coping-coping dimainkan di Anjungan Kabupaten Aceh Singkil di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 6, di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Kamis (26/9/2013). PKA merupakan even empat tahunan yang menampilkan keistimewaan Aceh di bidang agama, budaya, pendidikan, dan adat istiadat. SERAMBI/M ANSHAR

Oleh: Mulyadi Kombih

Sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional, Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang kosakatanya banyak mempengaruhi dan diserap menjadi bahasa-bahasa daerah. Demikian juga Bahasa Singkil banyak menyerap kosakata Bahasa Indonesia. Adakalanya diserap secara utuh kedalam Bahasa Singkil, terkadang juga diserap dengan beberapa penyesuaian bunyi. Penyerapan kosakata Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Singkil bukan hanya untuk kata yang tidak ada padanannya dalam Bahasa Singkil, akan tetapi banyak juga kosakata Bahasa Indonesia yang meskipun memiliki padanan dalam Bahasa Singkil namun sering digunakan menjadi pelengkap kalimat.

Beberapa pola penyerapan kosakata kedalam Bahasa Singkil

1. Seluruh fonem /r/ yang dalam Bahasa Indonesia diucapkan nyata dan jelas jika diserap kedalam Bahasa Singkil akan berubah menjadi uvular sebagai /gh/ meskipun sebenarnya banyak Orang Singkil menuliskan bunyi ini dengan /kh/. Beberapa contoh untuk jenis penyerapan ini adalah;

rumah sakit menjadi rumah sakit /ghu-mah.sa-kit/
kantor menjadi kantor /kan-togh/
telanjur menjadi terlanjur /tYgh-lan-jugh/ meskipun ada padanannya Bahasa Singkil yakni sor /sogh/, (enggo sor tepangan = sudah telanjur dimakan)
pintar menjadi pintar /pin-tagh/ meski ada padanannya norok /no-ghoq/

2. Setiap akhiran /-an/ dalam Bahasa Indonesia apabila diserap menjadi Bahasa Singkil menjadi akhiran /-en/ (dengan e pepet). Contoh jenis penyerapan ini adalah;

lapangan menjadi lapangen /la-pa-ngYn/
peraturan menjadi peraturen /pe-gha-tu-ghYn/
rambutan menjadi rambuten meski memiliki nama dalam Bahasa Singkil lekang /lY-kang/
jembatan menjadi jambaten meski punya padanan dalam Bahasa Singkil yakni kite /ki-té/

Bertolak dari kedua model penyerapan ini, akhirnya timbul semacam teori membalik pola penyerapan dimaksud dalam tulisan dan percakapan dengan orang selain Suku Singkil. Semacam ada proses peng-Indonesia-an kembali kata Bahasa Singkil. Banyak kata maupun nama Singkil yang akhirnya terkonotasi sebagai berasal dari Bahasa Indonesia, padahal tidak demikian, utamanya nama-nama kuta dan marga.

Dalam hal pembalikan pola penyerapan /r/ menjadi /gh/ dalam Bahasa Singkil, maka setiap nama yang mengandung bunyi /gh/ dalam Bahasa Singkil akan berubah menjadi berbunyi /r/ dalam penulisan dan percakapan diluar Bahasa Singkil. Seperti nama kuta yang bagi Orang Singkil selalu diucapkan / ghun-ding/ namun ditulis Runding bahkan tidak sedikit menulis Rundeng.

Nama kampong yang bagi sesama Orang Singkil diucapkan /gY-ghu-guh/ namun dalam tulisan serta pengucapan ketika lawan berbicara bukan Orang Singkil selalu Geruguh. Pun demikian penulisan marga, yang bagi Orang Singkil selalu diucapkan /bha-ghat/ dengan bunyi /b/ tipis dan agak samar, tidak pernah dirubah tulisannya dari Barat.

Halaman
12
Editor: iklan@serambinews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved