Opini

‘Doto Tamong Sikula’

USIA sekolah merupakan masa meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia berkualitas, pembinaan karakter

‘Doto Tamong Sikula’
Serambinews.com
Seorang murid menjawab soal saat pelaksanaan try out Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) di SDN 2 Percontohan Tijue, Pidie, Jumat (8/3/2019). 

(Transformasi Sehat Era Milenial)

Oleh Isra Firmansyah

USIA sekolah merupakan masa meletakkan landasan kokoh bagi terwujudnya manusia berkualitas, pembinaan karakter, dan berbagai stimulasi kependidikan yang akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan optimal anak. Masa ini disebut sebagai era keemasan (the golden age period). Upaya menjaga kesehatan baik promotif maupun preventif harus diajarkan dan dinisiasi sejak dini. Hal ini akan dirasa lebih berbekas dalam memorinya hingga dewasa.

Program pendidikan kesehatan dipandang perlu diajarkan dan diketahui oleh pelajar. Dulu, kita mengenal beberapa program seperti Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dokter cilik, Palang Merah Remaja (PMR), Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), reproduksi remaja dan lainnya.

UKS dilaksanakan secara terpadu melalui program pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah. Dasar kebijaksanaan pelaksanaan UKS adalah Undang-undang No.4 Tahun 1979 tentang Pembinaan Anak Sekolah. Kegiatan ini menjadi tupoksi program puskesmas dalam rangka mencapai derajat kesehatan anak secara maksimal, sekaligus meningkatkan prestasi belajar anak-anak di sekolah.

Perlu inovasi
Seiring berjalannya waktu dan perubahan zaman, kini kita dihadapkan pada transformasi perilaku pelajar dan disrupsi bidang kesehatan. Kegiatan UKS dan program sejenisnya, kini menjadi terkesan kaku, statis dan agak membosankan di kalangan siswa yang notabenenya komunitas milenial. Sehingga dianggap perlu inovasi dan inspirasi baru mengubah konsep ini menjadi lebih tertata dalam menyahuti perkembangan zaman.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Banda Aceh mencoba merancang format baru, agar konsep UKS ini menjadi smart dan kekinian. Program ini diberi nama sesuai literasi keacehan, yaitu Doto Tamong u Sikula (DTuS). Tentu saja, inisiasi ini belum ada di Indonesia, dan bila sukses artinya IDI Banda Aceh-lah yang akan menjadi rule of model transformasi UKS pertama di Indonesia.

Format DTuS ini terdiri atas klasifikasi pelajar berdasarkan kelompok usia Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada tingkat SD akan disajikan materi cita-citaku, hand hygine, dan penyuluhan gizi sehat sempurna. Di tahapan SMP menitikberatkan pada kesehatan reproduksi dan upaya pertolongan pertama pada kasus darurat. Sedangkan pada pelajar tingkat atas lebih menekankan pemahaman bahaya NAPZA, bantuan hidup dasar (BHD), dan pengenalan alat pemadam api ringan (APAR).

Selain itu, IDI Banda Aceh akan secara simultan memprogramkan juga Doto Tamong Dayah. Hal ini untuk memperbaiki pengaturan gizi nutrisi siswa yang tinggal berasrama (boarding school), dan kesehatan lingkungan dayah. Dalam rangkaian serupa akan dilakukan berkala pemeriksaan kesehatan pribadi organ tubuh (mata, telinga hidung tenggorokan, serta scaling gigi) di sekolah/dayah.

Anak usia sekolah merupakan kelompok umur rentan terhadap masalah kesehatan. Upaya penanaman konsep kebiasaan hidup sehat lebih terpatri pada mereka. Keadaan kesehatan anak akan sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved