Tafakur

Menjadi Pemaaf

Menjadi Muslim adalah menjadi orang yang pemaaf. Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wasallam sendiri sangat banyak menghadapi celaan

Menjadi Pemaaf
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

“Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat tiga hari, maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam, maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa” (HR. Muslim).

Menjadi Muslim adalah menjadi orang yang pemaaf. Rasulullah Shallallahu‘alaihi Wasallam sendiri sangat banyak menghadapi celaan dan ejekan ketika memulai menyiarkan ajaran Islam. Namun beliau selalu mengedepankan kata maaf untuk kejahatan orang terhadapnya. Bahkan, karena pemaaf, beliau berhasil mengislamkan orang-orang yang pernah berbuat jahat kepadanya dan bahkan kemudian ada yang menjadi sahabat dekatnya.

Bahkan kita diajak untuk bukan hanya rela memaafkan orang, tetapi juga melupakan kesalahan mereka terhadap kita. Kita juga diajak mengingat kebaikan-kebaikan orang lain kepada kita, tetapi melupakan kebaikan kita kepada orang lain. Apalagi kita telah banyak menikmati kebaikan orang lain, langsung atau tak langsung.

Sebagai pengikut Nabi Shallallahu‘alaihi Wasallam, kita sepatutnya meneladani beliau, termasuk dalam hal memaafkan satu sama lain. Lebih-lebih di tahun-tahun politik, saling mencela memuncak di mana-mana dan jangka waktu lama. Sedikit salah atau kekurangan orang lain, dibesar-besarkan. Padahal itu haram. Itu berseberangan dengan apa yang diajarkan dalam Islam, yang menyuruh untuk menutupi aib dan memaafkan orang lain.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved