Salam

Pemberian Izin Keramaian Harus Sangat Selektif

Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Muslizar MT menutup paksa keramaian dan pasar malam di Lapangan Pulau Kayu

Pemberian Izin Keramaian Harus Sangat Selektif
SERAMBI/RAHMATSAPUTRA
WAKIL Bupati Abdya, Muslizar MT menutup paksa pasar malam di Lapangan Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Sabtu (16/3) malam. 

Wakil Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Muslizar MT menutup paksa keramaian dan pasar malam di Lapangan Pulau Kayu, Kecamatan Susoh, Sabtu (16/3) malam, karena di sana sedang berlangsung MTQ VII/2019 Tingkat Kabupaten Abdya di Masjid Agung Abdya. “Dampak adanya pasar malam, masyarakat yang hadir ke acara MTQ cukup sepi,” kata Muslizar.

Ketua DPC Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Abdya, Harmansyah mendukung langkah Wabup Muslizar untuk menutup pasar malam tersebut. “Ini langkah yang sangat tepat, karena selama ini banyak yang mengkhawatirkan kehadiran pasar malam tersebut,” ujarnya.

Harman menilai, kehadiran pasar malam itu selama ini hanya mengundang maksiat. Sebab, yang hadir di lokasi itu adalah kebanyakan remaja dan pasangan bukan muhrim. “Saya berharap, ke depannnya, pemberian izin keramaian dan lainnya ada proses koordinasi dengan pemkab dan Dinas Syariat Islam. “Selama ini hanya bermodal izin dari desa setempat, langsung digelar pasar malam. Ini harus dievaluasi, hiburan rakyat itu benar-benar membuat masyarakat nyaman, bukan sebaliknya.”

Ya, hiburan malam pada dasarnya memang sangat berpotensi menciptakan ketidaknyamanan serta kemaksiatan. Karenanya, sejak dulu, hiburan lamam itu sangat ditolak di kampung-kampung. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hiburan dan pasar malam sudah begitu bebas digelar di kampung atau pusat kecamatan. Maka, tak heran jika dulu malam-malam hening di Aceh terisi dengan senandung ayat-ayat suci Alquran dan salawat dari masjid dan meunasah, kini tak jarang diriuhi suara musik dan raungan suara sepeda motor dalam tong setan.

Oleh sebab itulah, kita berharap ke depannnya semua phak yang terkait dengan pemberian izin bagi acara keramaian baik siang maupun malam, hendaknya berkoordinasi sehingga tidak menimbulkan efek buruk bagi masyarakat. Hal-hal yang perlu dikoordinasikan antara lain soal menu hiburan dan keramaian, tempat, dan waktu.

Soal menu, tentunya jika itu hiburan maka harus yang tak berdampak pada pemburukan nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Kemudian soal tempat, ini juga harus dilihat secara selektif. Misalnya, jangan dalam lingkungan permukiman penduduk. Kemudian, jangan sampai dekat dengan rumah ibadah dan lain-lain.

Lantas, ini yang paling penting, adalah soal waktu pergelaran hiburan atau keramaian, sebaiknya dihindari pada malam hari. Tapi, soal waktu ini juga bukan cuma soal siang dan malam, tapi juga harus melihat “musim”. Misalnya, jika di Aceh sekarang sedang musim MTQ, maka sebaiknya jangan ada yang memberikan izin keramaian atau hiburan. Selain itu, saat ini anak-anak juga sedang musim ujian di sekolah atau dayah-dayah, maka seharusnya tak ada kegiatan-kegiatan seperti pasar malam dan hiburan.

Jadi, sekali lagi pemberian izin penyelenggaraan hiburan harus dilihat waktu yang tepat, misalnya musim liburan anak sekolah atau tanpa kegiatan lain yang bisa membuyarkan konsentrasi masyarakat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved