Tafakur

Mengikhlaskan Bantuan

Tak jarang jasa baik kita kepada orang lain, termasuk kepada anak-anak sendiri, bagaikan tanaman

Mengikhlaskan Bantuan

Oleh: Jarjani Usman

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. Al Baqarah: 264)

Tak jarang jasa baik kita kepada orang lain, termasuk kepada anak-anak sendiri, bagaikan tanaman yang dipupuk dengan baik. Tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah kebaikan. Seharusnya itu disyukuri, karena bantuan yang diberikan telah bermanfaat. Apalagi di saat yang sama, banyak bantuan yang tidak menghasilkan apa-apa, bagaimana membuang ke tong sampah. Namun tidak semua orang mau mengikhlaskan bantuannya.

Sebahagian orang menyebut-nyebut dan menyebar berita kesana-kemari kalau dirinya telah bersusah payah berkorban untuk seseorang. Bahkan ada sebutan yang menyakiti hatinya. Padahal orang beriman tak sepatutnya berbuat demikian. Menyebut-nyebut bantuan hingga menyakitkan orang lain sangat dilarang. Rasulullah SAW bahkan menyuruh kita untuk melupakan kebaikan kita kepada orang lain. Dengan demikian, pahala yang diperoleh akan menjadi tabungan untuk kehidupan di akhirat.

Semua amal harus diikhlaskan karena Allah. Tak perlu takut rugi. Allah lah yang akan membalas segala kebaikan kita. Mungkin balasannya tidak (seluruhnya) dititipkan melalui tangan orang yang dibantu, tetapi melalui tangan-tangan orang lain, tanpa diduga sekalipun.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved