Menjadikan Singkil Pusat Perekonomian Daerah Kepulauan

Kabupaten Aceh Singkil selama ini dianggap sebagai daerah ujung lantaran wilayahnya mentok ke laut

Menjadikan Singkil Pusat Perekonomian Daerah Kepulauan
ist
Pantai Pulau Sarok, Singkil, Aceh Singkil, diambil dari udara 

Kabupaten Aceh Singkil selama ini dianggap sebagai daerah ujung lantaran wilayahnya mentok ke laut. Tak mengherankan jika kabupaten dengan luas 2.185 kilometer persegi itu sulit berkembang.

Aroma kemiskinan pun tak mau lekang. Ini terlihat dari status Aceh Singkil, sebagai Kabupaten tertinggal satu-satunya di Provinsi Aceh yang sudah disandang sejak empat tahun silam. Padahal potensi alam yang dimilikinya melimpah. Mulai dari sektor perikanan, perkebunan dan memiliki destinasi wisata Kepulauan Banyak yang telah mendunia.

Soal stigma kondisi geografis yang telanjur membuat warganya pasrah jika Singkil dianggap berada di sudut, pinggir, dan terpelosok. Tak bisa dipungkiri menjadi faktor penentu sulitnya kabupaten dengan 11 kecamatan itu disejajarkan dengan daerah pelabuhan lain di Indonesia semacam Cirebon di Jawa Barat.

Sesungguhnya Singkil, sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, letaknya sangat strategis. Singkil memiliki pelabuhan penyeberangan yang dapat melayani sekitar satu juta penduduk di tiga kepulauan, yaitu Kepulauan Banyak, Simeulue, dan Pulau Nias, yang akan belanja aneka kebutuhan ke Medan, Sumatera Utara.

Bagi penduduk Pulau Nias, menuju Medan melalui pelabuhan Singkil jauh lebih hemat biaya dan waktu tempuh lebih cepat sekitar dua jam bila dibanding melalui Sibolga. Begitu juga bagi pengusaha sembako dan bahan bangunan asal Simeulue, lebih untung belanja ke Medan via Singkil.

Namun posisi strategis tersebut belum mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Aceh Singkil. Penyebabnya antara lain, mayoritas pengusaha Nias dan Simeulue langsung belanja ke Medan. Sebab di Singkil, tidak cukup tersedia barang yang dibutuhkan.

Kemudian kapal pelayaran tujuan Nias, Simeulue, dan Kepulauan Banyak, terbatas. Selanjutnya kondisi pelabuhan penyebrangan Aceh Singkil, di Pulau Sarok, masih relatif kecil dan minim fasilitas.

Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid baru-baru ini mengatakan, pihaknya sedang berupaya memaksimalkan potensi wilayahnya dalam melayani daerah kepulauan. Salah satunya meningkatkan komunikasi dengan Pemerintah Daerah Kepulauan Nias.

Pemkab Aceh Singkil juga, sedang berupaya menambah jumlah armada penyebrangan. “Kami sedang berupaya agar Aceh Singkil bisa jadi pusat pertumbuhan ekonomi kepulauan. Langkah ini butuh waktu dan biaya banyak, kita harus memulainya,” kata Dulmusrid.

Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan Aceh Singkil, Edi Hartono mangatakan, mengatasi pesoalan transportasi pihaknya sedang mengajukan usulan penambahan frekuensi pelayaran dari Pelabuhan Singkil ke Simeulue dan Nias. “Dari selama ini dua kali seminggu. Kita usulkan tiga kali seminggu,” ujar Edi.

Warga berharap potensi Singkil sebagai daerah transit bagi jutaan penduduk kepulauan dapat segera digarap Pemkab Aceh Singkil dan Pemerintah Aceh. Sehingga Singkil dalam waktu dekat dapat menjadi pusat segitiga pertumbuhan (growth triangle) Singkil-Simeulue dan Nias.(de)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved