Pupuk Subsidi Dijual Lampaui HET

Sejumlah pedagang pupuk dan alat pertanian di Kecamatan Susoh dan Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya)

Pupuk Subsidi Dijual Lampaui HET

BLANGPIDIE - Sejumlah pedagang pupuk dan alat pertanian di Kecamatan Susoh dan Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya), masih menjual pupuk bersubsidi melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat.

Akibat tingginya harga pupuk bersubsidi itu, sejumlah petani mengeluhkan dan meminta dinas terkait menegur dan memberikan sanksi kepada para pedagang pupuk.

Perbedaan harga HET dengan harga yang dijual oleh para pedagang kepada petani itu berkisar Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per sak.

Hasil penelusuran Serambi ke sejumlah toko pupuk di kawasan Blangpidie dan Susoh, rata-rata pegadang menjual pupuk bersubsidi melampaui HET berkisar Rp 10.000 hingga Rp 40.000 per sak (isi 50 kilogram).

Berdasarkan surat Keputusan Dinas Pertanian dan Pangan Abdya, harga HET pupuk urea Rp 1.800 per kg atau Rp 90.000 per sak, namun sejumlah pedagang menjual pupuk bersubsidi tersebut mencapai Rp 110.000 per sak, bahkan lebih dari itu.

Begitu juga dengan pupuk phonska atau NPK, dijual oleh pedagang dengan harga Rp 130.000 per sak, padahal HET NPK sebesar Rp 2.300 per kilo atau Rp 115.000 per sak. Untuk pupuk SP-36, harga HET Rp 2.000 atau Rp 100.000 per sak, namun di beberapa toko, pupuk SP-36 itu dijual dengan harga Rp 110.000 hingga Rp 125.000 per sak, bahkan ada yang menjual Rp 130.000 per kilogram.

Sementara pupuk ZA, HET sebesar Rp 1.400 per kilo atau Rp 70.000 per sak, namun rata-rata pedagang menjual pupuk ZA 80.000 per sak hingga Rp 100.000 per sak. Bukan saja melampaui HET, pupuk bersubsidi itu juga sulit didapatkan oleh petani. Mereka harus antre mendapatkan pupuk tersebut hingga dua minggu, bahkan hingga satu bulan.

Di berbagai daerah, pupuk bersubsidi memang kerap langka, apalagi ketika sudah memasuki musim tanam. Kalaupun ada, harganya dipastikan lebih mahal dari ketetapan pemerintah. Ini pula diduga sebagai salah satu sebab produktivitas tanaman padi turun. “Ini fenomena rutin setiap tahun di berbagai daerah. Pemerintah harus membenahi mata rantai distribusi pupuk bersubsidi,” kata seorang pengamat ekonomi di Banda Aceh.

Menanggapi hal itu, Ketua DPC Pospera Abdya Harmansyah juga menanggapi adanya pedagang di Blangpidie dan Susoh menjual pupuk bersubsidi melampaui HET. “Hasil pantauan kami, masih ada pedagang yang menjual pupuk bersubsidi melampaui HET. Ini membuktikan dinas terkait lemah dalam mengawasi penjualan pupuk bersubsidi ini,” ujar Ketua DPC Pospera Abdya itu kepada Serambi.

Kata Harmansyah, selain memastikan petani mendapatkan pupuk, dinas terkait berkewajiban memantau penjualan dan pendistribusian pupuk bersubsidi tersebut.

“Awalnya sudah mulai ada yang menjual sesuai HET, tapi kini sudah mulai lagi. Bahkan ada salah satu toko besar di Blangpidie berani menjual pupuk jauh melampaui HET. Ini sangat ironis,” sebutnya.

Menurutnya, mahalnya pupuk bersubsidi itu membebani petani. Sebab, dengan kondisi petani hari ini sedang musim tanam, membutuhkan banyak pupuk. “Kalau seperti ini, patut diduga ada permainan di tingkat agen dan penyalur. Sebagai efek jera, jika terbukti ada penyimpangan, dinas wajib memberikan sanksi tegas,” pungkasnya.(c50)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved