Opini

Seni Penawar ‘Racun Politik’

LINTASAN sejarah di Aceh seolah-olah hanya berisi monumen konflik dan politik

Seni Penawar ‘Racun Politik’
SERAMBINEWS.COM/RAHMAT SAPUTRA
Ketua KIP Abdya, Sanusi SPd didampingi para komisioner KIP Abdya menggelar sosialisasi tahapan, peserta, dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pileg dan Pilpres 2019, kepada siswa-siswi SMAN 2 Abdya dalam program KIP Abdya Goes To School, Selasa (23/10/2018) di Kecamatan Manggeng. 

Oleh Teuku Kemal Fasya

LINTASAN sejarah di Aceh seolah-olah hanya berisi monumen konflik dan politik. Duka dan sengsara sering mengikutinya. Padahal, Aceh juga memiliki momentum intelektual, pendidikan, teknologi, infrastruktur, dan seni yang tak kalah cemerlang di masa silamnya. Salah satu momentum seni tahun lalu yang layak dicatat ialah pelaksanaan Aceh International Rapai Festival (ACIRAF) II, di Lhokseumawe 3-7 November 2018.

Berbeda dengan pelaksanaan rapai pertama di Banda Aceh pada 2016, pelaksanaan kedua di Lhokseumawe lebih semarak dan menemukan titik memorialisasi seni perkusi tradisional Aceh. Pada kegiatan terakhir, acara seremonial tidak berisi rentetan pidato pejabat yang panjang, superfisial, dan saling memuji. Acara lebih berkhidmat sebagai acara seni.

Acara pembukaan oleh ketua Dewan Kesenian Lhokseumawe, Nazaruddin ZA, dilakukan dengan sedikit kalimat. Setelah itu langsung diikuti ketukan Rapai Pasee oleh puluhan seniman Lhokseumawe. Sang ketua DK Lhokseumawe langsung mengestafetkan kata-katanya melalui gerak tangan ala konduktor untuk mengatur pukulan rapai. Benar-benar ritmis dan harmonis. Audiens hanyut dalam makna setiap rakaat pukulan rapi dan bertunas sendiri menurut imajinasi mereka.

Rapai penebus batas
Pertanyaannya bagaimana festival kesenian berskala internasional bisa dilaksanakan di Lhokseumawe dan menemukan momentum publiknya, bukan hanya di tingkat lokal, tapi nasional dan internasional? Itu tak lain karena rapai telah ada dalam DNA kultural masyarakat Aceh, meskipun seni ini sempat mengalami masa surut pada masa konflik. Rapai sebagai “seni malam” tak mungkin dihadirkan dengan semarak pada saat konflik.

Rapai bisa direpresi tapi tidak hancur. Ia meriah pada momentum yang tepat. Ketua Dewan Kesenian Lhokseumawe dan Ketua DPRK Lhokseumawe, M Yasir Usman, adalah pemain rapai sekaligus eks kombatan. Mereka berani melanjutkan rapai sebagai bagian tradisi mengakar, payung bagi pengetahuan lokal Aceh.

Rapai memang spesial. Bisa dikatakan ia termasuk instrumen musik otentik dari Aceh --untuk tidak mengatakan satu-satunya. Rapai menjadi penjelas identitas kesenian, sekaligus kebudayaan dan juga politik Aceh. Para pemain, syekh, dan alat musik memediasi pesan estetis dan juga spiritual ketika pertunjukan berlangsung. Ia bisa menyeret pandangan masyarakat bahwa nilai spiritual permainan rapai mampu menembus dimensi kreatif dan rekreatif dari kesenian itu. Makna estetisnya tidak hanya saat sebuah pertunjukan berlangsung di atas panggung (on stage performance). Nilai-nilai filosofisnya juga bisa dibaca ketika berkumpul dan latihan.

Penulis sendiri sempat ingin mendapatkan terapi dari seorang tukang urut yang juga pemain rapai di daerah Kandang, Lhokseumawe. Pada malam itu, ia telah berencana menutup ruang praktik. Ia mengatakan tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena waktu latihan akan segera berlangsung di kampung seberang. Waktu itu sedemikian mistisnya bagi sang pemain rapai. Uang tidak pernah mengganggu semangat musikalitasnya.

Kalau ditelusuri, kegiatan pementasan rapai bukan wujud profesionalisme, sesuatu yang memiliki harga pantas dan ditampilkan dalam momen-momen even kesenian berbayar. Seniman Rapai Pasee hidup dari semangat komunalisme demi merawat seni tradisi yang memiliki sejarah panjang seturut dengan kehadiran kerajaan-berbahasa Melayu di daerah Aceh Utara pada akhir abad 13: Samudera Pasai (Margareth Kartomi, Some Implication of Local Concept of Space in the Dance, Music, and Visual Arts of Aceh, Yearbook for Traditional Music, Vol.36, 2004).

Sejarah dalam perjalanan Rapai Pasee, misalnya, berbeda dengan Saman atau Ratoh Jaroe, yang bisa jadi komersial dan populer secara global. Eksistensi seni Rapai Pasee terikat pada kosmologi masyarakat Pasai yang anthropomorphic: sebagai “permainan kesenian kampung”. Bahkan kelompok-kelompok rapai menjadi ikatan “pusaka keluarga” dibandingkan seniman panggung. Mereka berbaur hidup di masyarakat di kampung atau sebuah kota kecamatan yang masih homogen (Angga Eka Karina, Tesis, 2014). Tentu setiap instrumen rapai lainnya seperti Rapai Daboh, Rapai Pulot, Rapai Geurimpheng, dan lain-lain memiliki nilai filosofis dan kedalaman makna simbolik yang diyakini dan menggerakkan komunitas penggunanya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved