Cetak Sawah Baru Terhambat
Program cetak sawah baru seluas 290 hektare di Kabupaten Aceh Tamiang masih terhambat, menyusul penolakan
* Warga Tenggulun Tolak Pembebasan Lahan
KUALASIMPANG - Program cetak sawah baru seluas 290 hektare di Kabupaten Aceh Tamiang masih terhambat, menyusul penolakan dari sebagian warga. Warga menilai program yang dipaparkan pemerintah daerah belum memberi jaminan masa depan mereka.
Penolakan ini ditunjukkan ketika Pemkab Aceh Tamiang melakukan sosialisasi dengan mengumpulkan warga di Kantor Datok Penghulu Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, Kamis (21/3) siang. Pertemuan yang dipimpin langsung Bupati Aceh Tamiang, H Mursil itu sempat diwarnai perdebatan.
“Intinya kami belum bisa menerima,” kata Poniran, salah satu warga. Dia beralasan program cetak sawah 290 hektare belum jelas, seharusnya pemerintah menunjukkan keseriusan dengan membangun irigasi.
“Saat ini irigasi belum ada, mustahil dibangun bersamaan, makanya bangun dulu irigasi,” katanya.
Warga lainnya, Mulyono mengatakan sikap mereka sebenarnya bukan menolak, melainkan hanya meminta kejelasan program dan ketegasan pemerintah. Dia mengatakan seluruh warga di dusun itu telah menanam kelapa sawit di atas areal yang akan dijadikan sawah.
“Persoalannya, kami ada utang bank, kalau ini dijalankan, bagaimana cara bayar utang. Lagian kenapa yang punya sawit luas di sini tidak diajak berembug,” protesnya.
Bupati Aceh Tamiang, H Mursil menerangkan program cetak sawah ini merupakan program pemerintah pusat yang sudah digagas sejak 1985, namun atas berbagai alasan terjadi kendala dan baru kembali dilanjutkan tahun ini. “Alhamdulillah, kampung kita terpilih, ini sebuah keuntungan, karena kenyataannya kelapa sawit saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi,” kata Mursil.
Dia mengatakan isu negatif yang dilontarkan Eropa mengenai kelapa sawit membuat harga tidak stabil. Bila kondisi ini berkepanjangan, Mursil mengatakan akan menumbangkan pohon kelapa sawit di kebunnya untuk beralih ke sawah.
“Kalau berkepanjangan harga seperti sekarang, saya tumbangkan sawit saya, ganti sawah,” ujar Mursil. Dalam pertemuan dengan masyarakat, Mursil menjelaskan Kabupaten Aceh Tamiang mendapat jatah program cetak sawah seluas 290 hektare.
Namun sejauh ini lokasi yang dimiliki belum memadai, sehingga ada kemungkinan sebagian lahan yang tidak terpenuhi akan dialihkan ke kabupaten lain.
Mursil memberikan sedikit ilustrasi kepada masyarakat kalau keuntungan yang diperoleh dari persawahan padi lebih menggiurkan dibanding sawit. “Program cetak sawah ini satu paket dengan irigasi. Jadi tidak usah takut tidak ada air. Nanti juga dikasih sertifikatnya,” ucapnya.
Sedangkan Kadis Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Aceh Tamiang, Safuan merincikan dari luas lahan yang dibutuhkan 290 hektare, Aceh Tamiang baru mampu menyediakan 119 hektare yang berada di Karangbaru seluas 58 hektare dan Bendahara 57 hektare.
“Pada dasarnya program ini membantu masyarakat, karena masyarakat tinggal tanam. Urusan cetak sawah, bibit hingga sertifikat akan diurus pemerintah,” kata Safuan.(mad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/mursil-bupati-aceh-tamiang.jpg)