Salam

Kembalikan Masjid ke Khitahnya

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim, mengimbau para penceramah

Kembalikan Masjid ke Khitahnya
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DHANI
Ketua MPU Aceh, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim. 

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof Dr Tgk H Muslim Ibrahim, mengimbau para penceramah, khatib Jumat, dan teungku-teungku di Aceh agar tidak membicarakan politik praktis di dalam masjid. Selain itu, isu yang belum tentu kebenarannya juga tidak disampaikan dalam setiap majelis-majelis di dalam masjid.

Imbauan tersebut terkait dengan pelaksanaan Pemilu 2019 yang tinggal sekitar tiga pekan lagi. Akhir-akhir ini pihaknya menerima laporan adanya penceramah atau khatib yang bernarasi politik dalam penyampaian khutbah ataupun dalam majelis-majelis lain yang digelar di dalam masjid.

“Ya ada juga informasi-informasi demikian, tapi tidak terlalu terarah, misalnya kita menerima informasi di masjid pulan. Ya kita tidak tahu juga, mungkin kadang-kadang ada pengaruh lain,” kata Tgk Muslim sebagaimana diberitakan Serambi, Rabu (21/3).

Meski hanya berupa imbauan dan bukan satu keharusan yang harus dipatuhi, tetapi masalah ini kita anggap penting untuk menjadi perhatian bersama. Apalagi beberapa ulama di Aceh diketahui juga ikut terlibat dalam konstestasi Pilpres 2019, sehingga sedikit banyak ikut membuka ruang masuknya isu-isu politik praktis dalam setiap ceramahnya.

Masjid sendiri pada hakikatnya memang tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan semata, tetapi juga menjadi pusat kebudayaan dan pendidikan, termasuk juga di dalamnya pendidikan politik. Namun, pendidikan politik yang dimaksud di sini adalah proses pembelajaran dan pemahaman kepada masyarakat tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbeda dengan politik praktis yang bertujuan mempertahankan atau meraih kekuasaan sehingga dalam praktiknya, tak jarang segala upaya dilakukan. Termasuk melakukan kampanye dengan menunjukkan kebaikan atau menjelek-jelekkan kandidat tertentu yang belum tentu kebenarannya alias hoaks.

Membicarakan politik praktis di masjid juga berpotensi memecah belah umat, karena tidak semua jamaah yang hadir memiliki pilihan politik yang sama dengan si penceramah. Kita semua tentu tak menginginkan persatuan umat terpecah hanya karena berbeda pilihan capres.

Dalam konteks inilah kita mendukung imbauan MPU Aceh tersebut. Jangan sampai masjid justru menjadi tempat penyebaran hoaks dan memicu terjadinya perpecahan umat. Mari kita kembalikan masjid ke khitahnya, sebagai tempat beribadah dan penyebar kebaikan kepada umat.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved