Rusli Yusuf: Ulama Harus Berpolitik, Tapi Bukan Politik Praktis Apalagi Berpolitik di dalam Masjid

Rusli mengatakan ulama harus ikut berpolitik, karena politik itu adalah ruh dalam pembangunan bangsa.

Rusli Yusuf: Ulama Harus Berpolitik, Tapi Bukan Politik Praktis Apalagi Berpolitik di dalam Masjid
Ketua Pusat Studi Pendidikan Karakter Kebangsaan dan Radikalisme Universitas Syiah Kuala, Dr Rusli Yusuf MPd, menyampaikan paparanya dalam acara sosialisasi dan pemantapan nilai sejarah, karakter dan wawasan kebangsaan yang dilaksanakan oleh Kesbangpol Provinsi Aceh di Meureudu, Pidie Jaya, Rabu (30/8) 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Ketua Pusat Studi Kebangsaan dan Radikalisme Unsyiah Rusli Yusuf mengatakan ulama menjadi salah satu instrumen pengontrol setiap kebijakan pemerintah.

“Negara ini bisa diperbaiki dengan berpolitik. Tapi bagaimana gaya politiknya, gaya politik ulama harus seperti politik kampus. Dia harus mengembangkan gagasan dan ide-ide supaya bangsa ini menyatu. Itu yang kita maknakan politik ulama,” katanya.

Baca: Dilaporkan ke Bareskrim atas Dugaan Ujaran Kebencian, Ini Komentar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj

Baca: Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern Terima Ancaman Mati di Media Sosial, Polisi Buru Pelaku

Baca: Cinta Segitiga Berujung Maut, Istri dan Oknum Polisi Bayar Pembunuh untuk Habisi Pengusaha Tembakau

Rusli menyampaikan itu ketika menjadi narasumber program cakrawala Radio Serambi FM dengan judul ‘Kembalikan Masjid pada Khitahnya’, Jumat (22/3/2019).

Acara yang dipandu Vheya Artega itu juga menghadirkan narasumber internal Yocerizal, Redaktur Politik dan Keamanan (Polkam) Harian Serambi Indonesia.

Dia mengaku sepakat jika ulama berpolitik, tapi bukan politik praktis apalagi berpolitik di dalam masjid.

Rusli mengatakan ulama harus ikut berpolitik, karena politik itu adalah ruh dalam pembangunan bangsa.

Tapi politik yang dibawa, kata Rusli, harus politik yang mengedepankan perdamaian, bukan politik praktis apalagi sampai di bawa ke dalam masjid yang dipastikan akan memecah belah umat.

“Masjid harus dijadikan tempat damai. Artinya, ulama harus keluar dari politik praktis ketika berada di dalam masjid. Tapi ketika beliau ingin menggagas sesuatu ide tertentu di luar masjid, saya pikir itu hak warga negara. Tapi jika sang khatib memiliki keadaban, maka dia tahu bagaimana harus berpolitik,” kata Rusli.(*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved