Opini

Menuju Bebas TBC pada 2030

PENYAKIT Tuberkulosis (TBC), masih merupakan satu masalah utama kesehatan masyarakat di dunia, ditularkan langsung oleh kuman

Menuju Bebas TBC pada 2030
Illiza Sa'aduddin Djamal berbicara dengan seorang warga yang telah sembuh dari penyakit TBC, Minggu (3/4). SERAMBI/MISRAN ASRI 

Oleh Ibrahim

PENYAKIT Tuberkulosis (TBC), masih merupakan satu masalah utama kesehatan masyarakat di dunia, ditularkan langsung oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sering dijumpai pada jaringan paru (95,9%), dan organ lain seperti kelenjar getah bening, usus, tulang, kulit, otak, ginjal dan lainnya serta dapat menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini lebih mudah menyerang orang yang menderita HIV, malnutrisi, diabetes, perokok, dan orang yang mengonsumsi alkohol.

Riset Global Burden of Disease, TBC penyebab kematian ke dua di dunia. Di Indonesia terdapat 759 per 100 ribu penduduk, pada usia 15 tahun ke atas dominan laki-laki dari perempuan, di perkotaan lebih tinggi dibandingkan pedesaan. Indonesia sang juara dengan kasus TBC tertinggi di dunia dan tren insiden kasus TBC tidak pernah menurun, bersama India, Cina, Filipina, dan Pakistan.

WHO mendefinisikan negara dengan beban tinggi atau High Burden Countries (HBC) untuk TBC berdasarkan tiga indikator yaitu; TBC, TBC Multi Drug Resistant (MDR-TBC) atau kebal obat, serta TBC dengan infeksi HIV. Ada 48 negara yang masuk dalam daftar ini.

Satu negara dapat masuk dalam satu daftar tersebut, atau keduanya, bahkan bisa masuk dalam ketiga katagori tersebut. Bahayanya, Indonesia bersama 13 negara lain masuk dalam daftar HBC untuk ke-3 indikator tersebut. Artinya, Indonesia memiliki masalah besar dalam menghadapi penyakit TBC.

Menko Puan Maharani, dalam pertemuan High Level Meeting on The Fight to End Tuberculosis di New York pada 26 September 2018 lalu. Menyampaikan komitmen Indonesia menekan dan menghilangkan penyakit tuberkulosis (TB) 2030 bebas TBC, juga tuntutan Sustainable Development Goals (SDGs).

Penularan TBC
Sumber penularan berasal daripasien TBCBTA (+) saat batuk, bersin, berbicara atau meludah sembarang tempat, kuman menyebar ke udara dalam bentuk percikan dahak. Sekali batuk hasilkan 3.000 percikan dahak dan terhirup orang lain dan tertular secara tidak sengaja. Bahayanya TBC dapat menyebar dari interaksi yang sering dan lama, seperti anggota keluarga atau teman.

Gejala khas terinfeksi kuman TBC antara lain; batuk berdahak lebih dua minggu, batuk darah, sesak nafas dan nyeri dada, nafsu makan berkurang, berat badan menurun (kurus), demam tidak terlalu tinggi, keringat malam hari walau tidak beraktivitas.

Penyebab utama terjadinya TBC: a) kemiskinan, b) kondisi sanitasi dan pangan yang buruk, c) determinan sosial (penggangguran tinggi dan pendidikan rendah), d) masalah kesehatan berisiko (perokok, gizi buruk, diabetes ko-infeksi TB-HIV), e) kegagalan berobat (TB MDR akibat putus obat) serta rendahnya penemuan dini suspek TBC baru di masyarakat (Kemenkes, 2018).

Tidak kalah pentingnya, penyakit TBC masih diliputi masalah sosial yang buruk dan stigma jelek pada penderita. Awam, masih mengucilkan penderita penyakit ini, termasuk keluarganya. Selain itu, tidak menerima saran dari tenaga kesehatan agar memeriksakan semua anggota keluarga serumah yang terindikasi TBC. Kurang peduli dan cenderung dihindari untuk deteksi dini sejak awal muncul gejala TB, dan ini penting untuk memutuskan mata rantai penularan secara dini.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved