Batok Kepala Siswa SUPM Retak

Hasil otopsi jenazah Rayhan Al Sahri (16), siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong

Batok Kepala Siswa SUPM Retak
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
Ayah korban, Sofyan (kanan), ibu korban Reni Rahayu (kedua kanan), paman korban Dani (dua dari kiri) saat mendatangi Kantor Harian Serambi Indonesia 

* Hasil Otopsi Jenazah Korban

BANDA ACEH - Hasil otopsi jenazah Rayhan Al Sahri (16), siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, yang ditemukan tewas, di bukit yang berjarak 300 meter dari belakang pekarangan asrama sekolah tersebut, Jumat (1/3) sekitar pukul 11.45 WIB, mengalami penganiayaan berat.

Batok kepala remaja kelas 1 siswa SUPM Negeri Ladong, asal Sumatera Utara (Sumut) itu retak akibat dianiaya oleh seniornya berinisial AN, siswa kelas III di sekolah yang sama.

Penegasan itu diungkapkan Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH, kepada Serambi, Jumat (22/3). “Hasil otopsi, korban mengalami penganiayaan berat, terutama di bagian muka yang dibenturkan oleh tersangka serta di kepalanya yang terlihat bagian batok kepalanya retak,” kata Kombes Trisno.

Hasil otopsi yang diterima pihak kepolisian, ungkap Kombes Trisno, semakin menguatkan penganiayaan yang dilakukan oleh tersangka tunggal itu menjadi salah satu dasar serta indikasi kuat, sehingga menyebabkan korban meninggal dunia dan ditemukan dalam kondisi memprihatinkan selang dua hai setelah penganiayaan, tepatnya pada Jumat (1/3) siang.

Menurut pengakuan tersangka AN, saat penganiayaan itu dilakukan terhadap Rayhan Al Sahri di dua tempat--masih dalam lingkungan SUPM--yakni di masjid dan di kapal berkonstruksi beton yang selama ini digunakan untuk simulasi para siswa SUPM, korban sama sekali tidak melakukan perlawanan.

“Dari pengakuan tersangka, pada saat dia memukul korban di wajah, perut dan di kepala, korban sama sekali tidak melawan. Apa itu karena pengaruh senior dengan junior. Tapi, pada intinya korban tidak melawan saat dipukul oleh tersangka,” pungkas Kapolresta Kombes Trisno.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, mengharapkan kasus penganiayaan yang berujung kematian yang dialami Rayhan Al Sahri (16) siswa SUPM Negeri Ladong ini menjadi kasus yang pertama dan terakhir terjadi di sekolah yang memberlakukan sistem boarding school atau mengasramakan siswa-siswinya.

“Kami meminta kasus kematian ini menjadi perhatian dan harus mendapat perhatian serius terutama dari pihak sekolah agar tidak lengah mengontrol siswa-siswinya di sekolah. Termasuk harus cepat respon serta tanggap di saat ada siswa yang tinggalnya di asrama tapi tidak masuk sekolah atau tidak berada di tempat lebih dari satu hari,” sebut Kapolresta.

Bagi penanggung jawab, harus lakukan pengawasan yang ekstra dan memberlakukan sistem absensi untuk mengecek siswa-siswinya yang di asrama. “Pola hidup di asrama, kalau ada anak-anak yang sakit, berinisiatif mendatangkan tenaga medis ke sana, sehingga anak-anak cukup berobat di asrama, jangan sampai memberi izin, sehingga ke luar tanpa pengawasan sama sekali dari pihak asrama dan penanggung jawab,” saran Kapolresta.

Kapolresta betul-betul menekankan ini menjadi kasus pertama dan terakhir di Aceh yang terjadi di lingkungan sekolah yang menerapkan sistem boarding school.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved